“Di balik takbir yang berkumandang, ada harapan-harapan yang kembali dilahirkan.” Pagi itu, suara takbir seperti membuka sesuatu yang lama terlipat di dalam diri. Bukan sekadar gema dari pengeras suara, tapi seperti panggilan yang mengingatkan bahwa ada hal-hal yang perlu dipeluk kembali seperti keluarga, kenangan, dan mungkin, versi diri yang sempat tertinggal.
Adalah sebuah rumah yang saya tinggali sejak tahun 1998 lalu. Sebuah tempat yang selalu punya cara sederhana untuk membuat segalanya terasa utuh. Rasanya, shalat ied di sana bukan hanya tentang menunaikan kewajiban, tapi juga tentang kembali merasakan hangat yang tidak pernah benar-benar hilang.
Selesai berkelindan dengan memoar rumah orang tua, siangnya, perjalanan berlanjut ke Banjaran, ke keluarga besar istri. Suasana ramai, penuh sapaan dan tawa yang bersahut-sahutan. Ada cerita yang berulang, ada juga yang baru. Semuanya bercampur jadi satu, seperti tradisi yang tidak pernah benar-benar berubah, hanya bertambah panjang dari tahun ke tahun.
Dari sana, kami pulang ke rumah mertua saya di Sirahranca dan memutuskan untuk menginap. Sudah lama rasanya tidak tidur di sana. Ada rasa canggung di awal, seperti tamu yang datang kembali setelah terlalu lama pergi. Tapi malam berjalan, obrolan mengalir, dan perlahan semuanya terasa biasa lagi. Rumah itu tetap menyimpan hangat yang sama.
Semalam menginap di sana, kemudian kami menyempatkan pulang ke rumah, tidur semalam, sebelum keesokan harinya menuju rumah ibu saya lagi di CPI, karena keluarga dari Majalengka datang berkunjung. Lebaran memang seperti itu, selalu tentang pertemuan yang berlapis-lapis. Setiap pintu yang dibuka menghadirkan cerita, setiap jabat tangan membawa jejak waktu yang berbeda.
Pagi berikutnya, kami menyempatkan sarapan serabi di daerah Gading. Dulu sebelum menikah, saya cukup sering sarapan di sana, sampai kemudian pindah rumah kebiasaan itu perlahan menghilang. Pagi itu, karena ‘bosan’ dengan hidangan lebaran, kami memutuskan untuk sarapan serabi. Sebenarnya selain rasanya, yang juga menarik adalah tempatnya yang klasik. Seolah tempat itu adalah mesin waktu yang membawa saya kembali ke masa-masa belum menikah dan belum banyak beban pikiran haha.






.jpeg)








Tidak ada komentar:
Posting Komentar