Minggu, 23 Juli 2023

PANJANG LEBAR SOAL BEDAH BUKU GALA & ELORA

24 Mei 2023, satu hari sebelum pre order buku Gala & Elora dibuka, akun instagram @bandungpopdarlings yang diinisiasi oleh teman baik saya, Irfan Popish mengunggah soal ‘teaser’ buku Gala & Elora. Hal itu kemudian direspon oleh teman-teman dari Panitia Jumaahan yang tertarik untuk mendiskusikan buku itu di kedai Jante, tempat biasa teman-teman Panitia Jumaahan menggelar diskusi/bedah buku, atau serangkaian kegiatan diskusi lainnya yang menurut mereka menarik untuk diangkat ke permukaan.

Satu bulan berselang sampai akhirnya buku tersebut rilis, saya mengiyakan tawaran teman-teman dari Panitia Jumaahan untuk menggelar bedah buku (atau menurut istilah mereka, ‘kajian’) Gala & Elora di kedai Jante, tepatnya tanggal 14 Juli 2023. Menemani saya ngobrolin soal buku Gala & Elora, saya mengajak Pak Addy Gembel sebagai salah satu pembicara juga. Tadinya saya mengajak Mang Ade, tapi kebetulan beliau berhalangan hadir.

Kedai Jante, 14 Juli 2023

Lalu, kenapa Pak Addy? Harus saya akui ide awal menulis buku ini sedikit banyaknya terinspirasi dengan dua buku yang ditulis beliau, “Tiga Angka Enam” dan “Laras Perlaya”. Dua buku yang direspon Pak Addy dari lirik lagu Forgotten yang ditulisnya. Hal ini menjadi menarik buat saya, karena kami sama-sama merespon lirik lagu ke dalam format cerita fiksi. Bedanya, Pak Addy merespon lagu yang ditulisnya sendiri, sedangkan saya merespon atau menginterpretasikan lagu milik orang lain (dalam konteks ini, Pure Saturday).

Ada satu pernyataan Pak Addy yang menarik banget ketika diskusi itu digelar. Pak Addy beranggapan jika apa yang saya lakukan dengan buku Gala & Elora ini merupakan suatu cara untuk meluaskan tafsir dari apa yang ditulis Pure Saturday. Sedangkan apa yang dilakukan Pak Addy sebaliknya, dia membatasi tafsiran-tafsiran atau persepsi orang lain terhadap apa yang ditulisnya di lagu-lagu Forgotten.

Seperti banyak dari kita tahu, Pak Addy dengan lirik yang ditulisnya di Forgotten cukup banyak menjadi kontroversi karena gaya penulisannya yang terbilang ‘terlalu berani’, atau mungkin memancing asumsi yang dianggap bertolak belakang dengan sesuatu yang dianggap ‘pantas’ di masyarakat timur pada umumnya. Misalnya saja, ketika banyak yang kemudian membawa-bawa tuhannya menjadi komoditas yang ‘dijual’, Pak Addy sebaliknya, menuliskan Tuhan Telah Mati.

“Jika orang lain pengen menjual surga, saya di Forgotten pengen menjual neraka”, ujarnya berseloroh.

Tentu ini tidak bisa dibaca dengan mata telanjang, dan oleh karena itu lah Pak Addy menulis buku “Tiga Angka Enam” dan “Laras Perlaya”. Lucunya lagi, buku Gala & Elora adalah cerita soal perjalanan pencarian cahaya. Sedangkan apa yang ditulis Pak Addy adalah tentang ajakan menuju kegelapan hahaha. Teman saya, Eki berseloroh tentang warna baju yang saat itu kami kenakan 

“eta katingali ti baju na oge, Wenky pake baju bodas, Pak Addy pake baju hideung. Nu hiji tulisana Pure Saturday, nu hiji tulisana Black Sabbath”.

Satu lagi yang tak kalah menarik adalah ketika kang Khoeruman Taos merespon judul Gala & Elora menjadi sebuah gambar/sketsa yang dia buat mendadak ketika diskusi digelar. Apresiasi semacam ini tentunya menyenangkan untuk saya dan bisa dibilang menjadi sebuah perpanjangan karya seperti halnya saya yang merespon lagu-lagu PS ke dalam format novel, dan kang Taos merespon judul novel saya dalam bentuk gambar/sketsa. 

Berfoto bersama kang Taos (@taos1987_) yang merespon buku Gala & Elora lewat karya visual

Selang satu minggu dari diskusi tersebut, tepatnya tanggal 22 Juli 2023, diskusi soal buku Gala & Elora kembali digelar. Kali ini diinisiasi oleh kolektif House Of Gorgom dan dilangsungkan di Kedai Kebon Aki, yang beralamat di daerah Ciapus, Banjaran. Hal ini menjadi istimewa karena gelaran seperti ini dilangsungkan di Banjaran. Kenapa? Karena gelaran diskusi buku termasuk cukup jarang dilakukan di Banjaran, dan label sebagai kawasan sub-urban ‘pinggiran Bandung’ kerap mengecilkan potensi dari kawasan Banjaran itu sendiri.

“Emang di Banjaran aya nu maca buku Wenk? Aya nu ngadengekeun Pure Saturday?”

“Loba goblog!”

Selain karena dekat dengan rumah saya, gelaran ini juga sangat menyenangkan untuk saya, terutama ketika melihat animo teman-teman kolektif yang ada di Banjaran seperti House Of Gorgom, Son Of Hil, atau Banjaran Inside yang sangat supportif terhadap buku Gala & Elora ini. Mungkin kolektif-kolektif ini juga punya ‘keresahan’ yang sama dengan saya akan ‘label’ yang disematkan di Banjaran sebagai kawasan pinggiran Bandung tersebut. Kami ingin menunjukan bahwa literasi, musik, youth culture, atau hal lainnya yang beririsan dengan kerja kreatif juga hidup di Banjaran. Saya bisa sangat panjang menuliskan soal produk dari kerja kreatif yang teman-teman Banjaran (atau mungkin dalam konteks yang lebih luas, Bandung Selatan) buat, dari mulai musik, kuliner, fashion, atau apapun. Bahkan ketika kawasan Bandung kota akrab dengan Gojek atau Grab, di Banjaran punya ekosistem dan cara sendiri dengan membuat Kang Kurir, Ok Berangkat, Pemuda Express, dll. Ketika banyak yang mengeluh soal mahalnya pesen makanan di Go Food, kami di Banjaran bisa dengan akrab memesan makanan ke Kang Kurir atau Ok Berangkat dengan harga terjangkau. Dan untuk makanan, Fuck Dunkin Donuts karena di Banjaran kami punya Coco Donuts hahaha.

Kembali ke buku. Sorry terbawa suasana ahaha.

Jika pada bedah buku pertama saya mengajak Pak Addy Gembel, maka di gelaran ini saya mengajak Mang Ade Muir. Dengan segala kerendahan hati, saya berani bilang kalau alasan kuat kenapa akhirnya saya menulis buku ini adalah karena saya mengagumi lirik-lirik lagu yang ditulis Mang Ade di Pure Saturday. Rasanya tidak mungkin saya ke-trigger untuk meluaskan lirik lagu PS ke dalam format cerita novel jika saya tidak tertarik dengan lirik lagunya itu sendiri. Ini mungkin akan subjektif karena saya bicara dari kacamata saya sebagai penggemar Pure Saturday, tapi bagi saya lirik lagu-lagu PS adalah yang terbaik yang pernah saya baca/dengar.

Kilas balik ke tahun lalu ketika saya kepikiran buat menulis novel ini. Mang Ade adalah orang pertama yang saya temui. Selayaknya ‘tata krama’ yang diterapkan orang tua saya, tentu hal pertama yang harus saya lakukan ketika ingin membukukan konsep ini adalah meminta izin terlebih dahulu ke si empunya karya. Karena buku ini juga berkaitan erat dengan lirik-lirik lagu yang ditulis Mang Ade di PS. Mang Ade merespon positif meski seringkali dia mengingatkan jika pada outputnya novel ini baiknya terlepas dari PS, meski trigger menulis novel ini berawal dari lagu-lagu PS.

Mang Ade kemudian membandingkan novel saya dengan buku karya Idhar Resmadi yang menulis biografi soal Pure Saturday. Menurut Mang Ade pembeli buku Idhar sudah bisa dipastikan adalah penggemar PS, atau minimal orang yang penasaran dengan PS. Maka jelas, pasarnya adalah penggemar PS. Tapi -menurutnya lagi-, orang yang membeli buku saya tidak harus penggemar PS atau yang tahu PS. Jadi bisa saja karya saya terlepas dari PS meskipun secara konsep buku novel ini adalah bentuk respon atau interpretasi saya akan karya PS.

foto oleh @drinkhim

“buku maneh bisa lebih gede karena pasarnya luas, da teu kudu penggemar ps atau nu nyaho ps nu meuli buku maneh mah”, ujar Mang Ade suatu hari.

Lucunya, beberapa fakta yang terjadi ternyata tidak sedikit juga penggemar PS yang ‘menolak’ buku ini karena dianggap tidak cukup tepat menggambarkan apa yang PS ingin sampaikan dalam lagu-lagunya.

“Pure People mah moal aya nu maca novel siga kieu atuh”, ujar seseorang yang dirahasiakan namanya hahaha.

Meski begitu, ada cukup banyak juga penggemar PS yang menyambut positif lahirnya buku ini. Entah itu tertarik karena cerita bukunya, tertarik karena ‘ada PS’ nya, juga ada yang tertarik karena bisa menikmati karya PS dengan interpretasi yang berbeda. Saya sebenarnya tidak berfokus pada pendapat orang akan karya saya seperti apa. Saya tidak dianugerahi limpahan energi yang sanggup menanggapi hal-hal seperti itu. Buku ini hanya bentuk kesukaan saya akan PS dan kesukaan saya pada kegiatan tulis menulis.

Sama halnya dengan penerbit buku ini yang ogah-ogahan ‘memasarkan’ buku saya karena menurut mereka saya sebagai penulis belum punya nama yang bisa dijual. Sangat kecil jika harus dibandingkan dengan nama-nama penulis lainnya yang ada di tanah air. Ditambah dengan kenyataan jika strategi bisnis yang mereka rancang ternyata meleset. Mereka mikir penggemar PS banyak dan pastinya akan loyal untuk kemudian membeli buku ini. Nyatanya banyak juga penggemar PS yang ‘menolak’ buku ini. Saya juga tidak punya cukup banyak energi untuk memusingkan soal itu, bahkan ketika penerbit melakukan kesalahan fatal menuliskan nama saya di sampul buku. Rasanya tidak ada kesalahan lebih fatal dari itu yang pernah dilakukan sebuah penerbit/publishing.

“Ya lo kan belum punya nama nih, jadi ya kita ngejual nama PS nya aja wenk. Anggap aja lo jadi ghostwriter lah”, ujar mereka suatu hari.

Mungkin karena menganggap saya belum punya nama itulah sampai akhirnya mereka tidak teliti (atau bahkan peduli) dengan nama saya sampai bisa-bisanya ditulis salah di sampul buku. Hal ini jadi mengingatkan saya pada omongan teman saya yang menyuruh saya mengurungkan niat merilis buku ini. Karena menurutnya nama saya tidak akan muncul ke permukaan jika menggandeng nama besar PS. Dan benar saja, boro-boro muncul ke permukaan, lha kalau pun muncul juga nama nya salah hahaha.

Tapi balik lagi ya. Saya tidak punya cukup banyak energi untuk memusingkan soal itu. Teman saya, Rianti bahkan terlihat gemes sekali ketika tahu nama saya ditulis salah di sampul buku, bahkan di akun instagram penerbit tidak ada sama sekali unggahan yang mempromosikan buku saya. Pilihannya ada dua. Pertama, saya menghabiskan semua energi saya untuk protes dan menuntut agar penerbit ikut mempromosikan buku saya, atau saya jalan sendiri untuk mempromosikan buku saya. Akhirnya saya pikir, saya lebih memilih menghabiskan semua energi saya untuk jalan sendiri mempromosikan buku saya dengan cara saya sendiri. Meski itu harus berdarah-darah.

Kedai Kebon Aki, 22 Juli 2023

Bedah buku yang digelar di Kedai Jante dan Kebon Aki ini menjadi jalan saya untuk mengenalkan buku Gala & Elora ini. Outputnya bisa jadi orang tertarik membeli buku saya, atau kalau pun tidak, setidaknya orang yang datang ke bedah buku ini mendapatkan insight positif dari apa yang saya bahas di gelaran bedah/diskusi buku ini.



Untuk penulis kecil seperti saya komentar-komentar di atas menjadi punya arti sangat besar. Apresiasi dari mereka membuat saya mau untuk terus jalan dengan karya yang saya buat. Saya tidak tahu buku Gala & Elora ini akan membawa saya sejauh apa. Sederhananya saya suka menulis, karena menulis bisa membawa saya ke banyak kondisi yang menyenangkan. Jadi pikiran tentang apakah nanti karya saya bisa besar atau tidak harus saya buang jauh-jauh. Balik lagi, saya tidak punya cukup energi untuk memusingkan itu. Saya lebih memilih menghabiskan energi untuk terus jalan dengan karya saya dan berjabat erat dengan orang-orang yang mendukung saya. Terima kasih banyak untuk kang Zul dan kang Andre dari Panitia Jumaahan, untuk Vega dari House Of Gorgom, Idham dari Kedai Kebon Aki, orang-orang di Kedai Jante, Kedai Kebon Aki, Rifa dari Son Of Hil, Yads Smith, Banjaran Inside, Kopi Banjaran, Cilox Jaja, Assumed Stare, Ginting, Hari, Rafli, Agung, Faris, Mang Ade, Pak Addy, Irfan Popish, Eki, Bunga, Rianti, dan semua orang yang mendukung buku Gala & Elora. Saya akan selamanya berhutang budi untuk itu. Semoga akan ada kesempatan-kesempatan lain untuk bertemu lagi. 

Bonus, foto koko kecil lagi nungguin booth buku Papa nya

Banjaran, 23 Juli 2023


Tidak ada komentar:

Posting Komentar