Selasa, 15 September 2026

BOTRAM DAN MAIN GAMES DI ITB PRESS

Salah satu cara menjaga “kewarasan” versi saya di usia yang hampir kepala empat ini adalah dengan merayakan hal-hal kecil yang pantas disyukuri. Rasanya, semakin rendah ekspektasi kita terhadap hal-hal yang bisa membuat bahagia, semakin mudah pula kebahagiaan itu ditemukan.

Misalnya saja soal makanan. Kebayang enggak kalau makanan yang bisa bikin saya bahagia adalah empal gentong di Cirebon? Tentu saja, ketika sedang berada di Bandung, keinginan itu jadi sulit terpenuhi. Karena sulit didapatkan, kebahagiaannya pun jadi terasa jauh. Tapi, bayangkan kalau makanan yang bisa bikin saya happy adalah nasi goreng. Di sepanjang jalan, entah itu di Bandung, Jakarta, Jogja, bahkan Cirebon, rasanya selalu ada saja tukang nasi goreng. Karena mudah ditemukan, kesempatan untuk merasa happy pun jadi lebih besar.

Sesederhana itu cara saya memandang kebahagiaan. Tidak perlu menunggu sesuatu yang besar untuk bisa merasa senang. Kadang, hal-hal kecil yang sering kita anggap biasa justru bisa menjadi alasan untuk bersyukur. Seporsi nasi goreng, secangkir kopi, atau sekadar punya waktu untuk melakukan sesuatu yang disukai. Hal-hal semacam itu, kalau dipikir-pikir, rasanya pantas juga dirayakan. Ya, enggak, sih? 

Mungkin pemikiran semacam itu pula yang membuat atasan saya di kantor menginisiasi acara kumpul-kumpul bersama sesama karyawan. Tidak ada agenda yang muluk-muluk. Kami hanya makan bareng dan melakukan beberapa permainan kecil yang harapannya bisa mempererat hubungan antarkaryawan. Mungkin terdengar sederhana, tetapi bukankah memang hal-hal sederhana seperti ini yang sering kali luput dari perhatian kita? Semoga saja acara semacam ini bisa menjadi salah satu alasan kecil untuk merasa senang ketika bekerja. 

Apa pun pekerjaannya, rasanya di kantor mana pun selalu ada saja rasa bosan, malas, dan capek. Bohong rasanya kalau kita bilang selalu bersemangat setiap kali hendak berangkat kerja. Ada kalanya bangun pagi saja sudah terasa berat, belum lagi membayangkan pekerjaan yang menumpuk dan rutinitas yang itu-itu lagi. Tapi, toh, kita tetap berangkat. Ada yang menjalaninya dengan penuh semangat, ada juga yang sambil menggerutu, tetapi tetap menunggu gaji masuk setiap bulan. Masing-masing punya alasan dan caranya sendiri untuk bertahan. 

Namun, di tengah segala rutinitas itu, rasanya ada saja hal kecil yang bisa kita syukuri. Seperti dua jam yang kami habiskan bersama hari itu. Mungkin tidak mengubah apa-apa dari pekerjaan yang menunggu esok pagi. Besok, kami tetap harus kembali berhadapan dengan tugas, tenggat, dan segala macam urusan kantor. Tapi, setidaknya, hari itu kami punya waktu untuk tertawa, makan bareng, bermain, dan sejenak melupakan pekerjaan.

Terlebih in this economy, ketika mencari pekerjaan saja semakin sulit, punya pekerjaan tentu menjadi sesuatu yang patut disyukuri. Meski bukan berarti kita harus selalu bahagia menjalaninya. Sebab, rasa lelah, bosan, dan keluhan juga bagian dari keseharian yang tidak bisa begitu saja dihindari.

Mungkin, merayakan hal kecil memang sesederhana itu. Tidak harus menunggu pencapaian besar, tidak perlu pula menanti sesuatu yang luar biasa. Cukup menyadari bahwa di tengah hari-hari yang kadang terasa melelahkan, masih ada hal-hal sederhana yang bisa membuat kita tertawa. Dan kalau hari itu kita bisa pulang dengan perasaan sedikit lebih bahagia dari biasanya, rasanya itu sudah cukup menjadi alasan untuk bersyukur.

Senin, 14 September 2026

MELIPUT CIFEST 2026

Kampus ITB Cirebon dipenuhi suasana meriah pada Jumat, 11 September 2026, dalam pelaksanaan Cirebon Festival 2026 (CIFEST 2026). Mengusung tema Coastal Culture Reimagined: Perayaan 10 Tahun Kampus ITB Cirebon, kegiatan ini menjadi bagian dari perayaan satu dekade perjalanan ITB di Cirebon sekaligus menghadirkan beragam aktivitas bagi mahasiswa dan sivitas akademika.

Rangkaian kegiatan dimulai pada siang hari dengan registrasi peserta. Mahasiswa yang hadir diarahkan menuju area utama untuk mengikuti berbagai agenda yang telah disiapkan. Suasana semakin ramai ketika peserta mulai memenuhi area festival.

Rabu, 09 September 2026

MENGERJAKAN PROYEK GAME

Saya lupa kapan persisnya, transisi dari nulis bisa jadi ke mana-mana hahaha. Tapi sepertinya hal itu bermula sejak saya mulai kerja di Slasher Clothing dan mendapat lingkungan teman-teman kreatif di sana. Ada saja yang dilakukan, mulai dari bikin gigs, bikin majalah, sampai mengerjakan serangkaian promo kreatif untuk sebuah produk.

Hal tersebut kemudian makin dikuatkan ketika tahun 2017 saya masuk Atap Promotion. Dari yang tadinya menulis artikel dan mengerjakan serangkaian pekerjaan jurnalistik, kemudian beranjak pada kerjaan kreatif lainnya, seperti podcast, bikin program YouTube, dan masih banyak lagi yang diawali dari kemampuan saya menulis.

Belakangan, ketika AI menjadi karib saya sehari-hari, nyatanya proses kreatif itu semakin menyenangkan dengan bantuan dari si robot pintar ini. Bisa dibilang malah jadi hiburan buat saya pribadi. Di tengah rutinitas kantor yang memaksa serba cepat, kehadiran AI ini jadi senjata ampuh buat saya bertahan di kantor. Intinya cuma satu. Mau saja dulu.

Kadang perintah dari atasan juga tidak selalu inline dengan kemampuan saya menulis, walaupun sebenarnya apa pun kerja kreatif yang saya lakukan selalu melibatkan kemampuan menulis sebagai pondasi utamanya. Atau dalam konteks AI ini, kemampuan untuk menulis prompt hahaha.

Yang terbaru, setelah banyak dibantu bikin draft proposal oleh Claude, saya kemudian mendapat perintah mengerjakan atau membangun game untuk klien di kantor. Ini lucu dan seru, karena ternyata si Claude bisa melakukan itu, meskipun tentunya ini masih dalam bentuk prototype dan masih jauh dari sempurna. Tapi lumayan menghibur di tengah rutinitas kantor yang melelahkan.

Game di bawah ini dibuat untuk klien OJK, di mana OJK setiap bulannya merilis bulletin tentang literasi keuangan. Nah, pihak OJK berpikir orang akan bosan jika hanya membaca literasi keuangan dari bulletin digital. Oleh karena itu, dibutuhkan trigger menarik agar pengguna bisa atau mau membaca artikel yang ditulis dalam bulletin digital tersebut.

Jadi, lahirlah game-game ini.

Setiap pengguna wajib memainkan game ini terlebih dahulu sebelum akhirnya bisa membaca atau mengakses artikel dari OJK tersebut. Dan penyampaiannya pun tidak hanya melulu teks, tapi juga bisa lewat video atau komik.

Seperti apa game-nya? Klik gambar di bawah ya hihihi.

Senin, 31 Agustus 2026

MELIPUT ITB JATIFEST 2026

Kampus ITB Jatinangor berubah menjadi ruang pertemuan yang ramai pada Minggu, 30 Agustus 2026. Melalui JATIFEST 2026, mahasiswa, keluarga, komunitas, dan pengunjung dari berbagai kalangan berkumpul untuk menikmati rangkaian kegiatan yang memadukan hiburan, seni, kreativitas, kuliner, dan aktivitas bersama.

Sejak area festival mulai dipadati pengunjung, suasana JATIFEST terasa jauh dari kesan seremoni kampus yang formal. Keramaian tidak hanya terpusat di satu titik, tetapi menyebar di berbagai area. Pengunjung memenuhi jalur sekitar festival, berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lain, dan menciptakan suasana yang dinamis sepanjang acara.