Salah satu cara menjaga “kewarasan” versi saya di usia yang hampir kepala empat ini adalah dengan merayakan hal-hal kecil yang pantas disyukuri. Rasanya, semakin rendah ekspektasi kita terhadap hal-hal yang bisa membuat bahagia, semakin mudah pula kebahagiaan itu ditemukan.
Misalnya saja soal makanan. Kebayang enggak kalau makanan yang bisa bikin saya bahagia adalah empal gentong di Cirebon? Tentu saja, ketika sedang berada di Bandung, keinginan itu jadi sulit terpenuhi. Karena sulit didapatkan, kebahagiaannya pun jadi terasa jauh. Tapi, bayangkan kalau makanan yang bisa bikin saya happy adalah nasi goreng. Di sepanjang jalan, entah itu di Bandung, Jakarta, Jogja, bahkan Cirebon, rasanya selalu ada saja tukang nasi goreng. Karena mudah ditemukan, kesempatan untuk merasa happy pun jadi lebih besar.
Sesederhana itu cara saya memandang kebahagiaan. Tidak perlu menunggu sesuatu yang besar untuk bisa merasa senang. Kadang, hal-hal kecil yang sering kita anggap biasa justru bisa menjadi alasan untuk bersyukur. Seporsi nasi goreng, secangkir kopi, atau sekadar punya waktu untuk melakukan sesuatu yang disukai. Hal-hal semacam itu, kalau dipikir-pikir, rasanya pantas juga dirayakan. Ya, enggak, sih?
Mungkin pemikiran semacam itu pula yang membuat atasan saya di kantor menginisiasi acara kumpul-kumpul bersama sesama karyawan. Tidak ada agenda yang muluk-muluk. Kami hanya makan bareng dan melakukan beberapa permainan kecil yang harapannya bisa mempererat hubungan antarkaryawan. Mungkin terdengar sederhana, tetapi bukankah memang hal-hal sederhana seperti ini yang sering kali luput dari perhatian kita? Semoga saja acara semacam ini bisa menjadi salah satu alasan kecil untuk merasa senang ketika bekerja.
Apa pun pekerjaannya, rasanya di kantor mana pun selalu ada saja rasa bosan, malas, dan capek. Bohong rasanya kalau kita bilang selalu bersemangat setiap kali hendak berangkat kerja. Ada kalanya bangun pagi saja sudah terasa berat, belum lagi membayangkan pekerjaan yang menumpuk dan rutinitas yang itu-itu lagi. Tapi, toh, kita tetap berangkat. Ada yang menjalaninya dengan penuh semangat, ada juga yang sambil menggerutu, tetapi tetap menunggu gaji masuk setiap bulan. Masing-masing punya alasan dan caranya sendiri untuk bertahan.
Namun, di tengah segala rutinitas itu, rasanya ada saja hal kecil yang bisa kita syukuri. Seperti dua jam yang kami habiskan bersama hari itu. Mungkin tidak mengubah apa-apa dari pekerjaan yang menunggu esok pagi. Besok, kami tetap harus kembali berhadapan dengan tugas, tenggat, dan segala macam urusan kantor. Tapi, setidaknya, hari itu kami punya waktu untuk tertawa, makan bareng, bermain, dan sejenak melupakan pekerjaan.
Terlebih in this economy, ketika mencari pekerjaan saja semakin sulit, punya pekerjaan tentu menjadi sesuatu yang patut disyukuri. Meski bukan berarti kita harus selalu bahagia menjalaninya. Sebab, rasa lelah, bosan, dan keluhan juga bagian dari keseharian yang tidak bisa begitu saja dihindari.
Mungkin, merayakan hal kecil memang sesederhana itu. Tidak harus menunggu pencapaian besar, tidak perlu pula menanti sesuatu yang luar biasa. Cukup menyadari bahwa di tengah hari-hari yang kadang terasa melelahkan, masih ada hal-hal sederhana yang bisa membuat kita tertawa. Dan kalau hari itu kita bisa pulang dengan perasaan sedikit lebih bahagia dari biasanya, rasanya itu sudah cukup menjadi alasan untuk bersyukur.
Home



