Minggu, 09 Agustus 2026

HIGHLIGHT BULAN JULI 2026

Saya ingat dulu, pas zaman-zamannya suka ngeband, impian terbesar saya itu punya album, bisa manggung ke mana-mana, dan punya duit banyak dari bermusik. Sampai detik ini hal itu tidak pernah kesampaian. Beberapa orang bilang saya cukup bagus dalam membuat lagu, sampai akhirnya saya PD untuk bermusik. Saya merasa punya cukup bakat dalam bermusik. Sayangnya itu terasa naif, karena setelah dijalani saya merasa masih terlalu jauh untuk bisa disebut musisi, hahaha.

Saya memang sekolah musik, dan skill bermusik pun tidak nol-nol amat, tapi rasanya masih terlalu jauh untuk bisa menjadi musisi, apalagi bermimpi bisa sukses dari musik. Perlahan mimpi itu saya tinggalkan, hingga akhirnya saya bekerja seperti kebanyakan orang.

Menjadi karyawan selama belasan tahun nyatanya belum bisa membawa saya ke titik hidup yang "nyaman". Makin lama makin tidak nyaman, karena nyatanya saya menjalani pekerjaan yang jauh dari mimpi, namun tetap saja tidak membuahkan hidup yang nyaman. Inginnya sih bisa hidup dari musik, atau jualan lagu, haha. Atau dari menulis, lalu naskahnya dijadikan film dan sukses. Tapi lagi-lagi itu terasa terlalu naif.

Kamis, 06 Agustus 2026

MELIPUT HEARING SESSION ALBUM BARU UTBBYS

Rabu, 5 Agustus 2026, bertempat di The Hallway Space, Bandung, Under The Big Bright Yellow Sun (UTBBYS) menggelar sesi hearing session untuk album terbaru mereka, Virada. Diskusi menghadirkan pengamat musik Idhar Resmadi sebagai pembicara (selain tentunya para personil UTBBYS), dengan Ichsan Pratama dari Sunday Breaker Cult bertindak sebagai moderator.

Acara dibuka dengan pemutaran lagu Pangawit, membawa para pendengar masuk lebih dulu ke wilayah sonik post-rock yang menjadi rumah besar UTBBYS. Sampul album Virada sendiri turut menjadi perhatian, digarap oleh seniman fotografi asal Bali, Yoga, menampilkan siluet seorang figur yang berdiri sendiri di tengah laut menghadap cahaya matahari di horizon, sebuah gambaran visual titik balik yang senyap namun kuat, sejalan dengan makna kata "virada" itu sendiri yang lebih kurang mempunyai arti balik arah atau titik balik dalam bahasa Portugis/Spanyol, yang bisa juga diterjemahkan sebagai istilah pelayaran untuk manuver mengubah haluan kapal (tacking).

Dalam pemaparannya, Idhar Resmadi menyoroti perubahan arah musikal UTBBYS dari masa ke masa. Ia menilai lapisan distorsi pada Virada tampil jauh lebih tebal dan lebih terasa lebih emosional dan personal. Meski warna bunyi berubah drastis, ia menegaskan bahwa struktur musikal UTBBYS sebagai band tetap konsisten pada karakter yang selama ini menjadi identitas mereka, sesuatu yang menurutnya membedakan UTBBYS dari band post-rock lain yang justru mengubah total arah bermusiknya. Sebagai pembanding, ia menyinggung langkah Explosions in the Sky lewat album The Wilderness, yang tiba-tiba merangkul elemen elektronik secara signifikan. UTBBYS, sebaliknya, memilih jalur berbeda: mempertahankan format band instrumental mereka, sambil tetap mendorong batas distorsi dan tekstur bunyi ke arah yang baru.

Rabu, 01 Juli 2026

HIGHLIGHT BULAN MEI-JUNI 2026

Tadinya saya pikir menulis itu pekerjaan paling mudah. Tapi belakangan, menjadi yang paling susah dikerjakan. Padahal chatgpt dan claude siap membantu dengan semua kecanggihan yang mereka punya. Tapi anehnya, justru dengan semua kemudahan dan kecanggihan yang ditawarkan, kadang justru disitulah kenapa akhirnya menulis itu menjadi pekerjaan yang paling susah dikerjakan. Lebih tepatnya susah menemukan bentuk utuh dari sebuah tulisan.

Dulu, saya menulis karena suka, dan karena suka akhirnya menulis jadi mudah. Suka, mudah, dan penuh suka cita ketika melakukannya. Berbanding terbalik ketika itu akhirnya menjadi pekerjaan. Apalagi belakangan ini menulis sudah bukan lagi tentang apa yang saya suka, tapi tentang apa yang saya harus lakukan. Menulis tentang promosi, penawaran, branding, dan semua hal yang berhubungan dengan jualan dan citra yang ingin diperlihatkan perusahaan.

Tentu saja ini menjadi sesuatu yang munafik, ketika saya mengutuk apa yang saya kerjakan, tapi di sisi lain saya menerima upah dari apa yang saya kutuk ini. Dan disitulah kemudian menulis menjadi pekerjaan yang susah dikerjakan, karena kemudian saya menulis untuk orang lain, bukan untuk saya.

Tahun 2012 saya menulis sebuah buku tentang apa yang saya pikirkan, rasakan, dan semua daya hayal yang saya tuangkan dalam coretan-coretan apa adanya. Tanpa edit, tanpa berpikir apakah penulisannya benar atau apakah kaidah berbahasanya sudah baik dan benar. Tidak ada sama sekali. Bukan karena ingin tampil berbeda, tapi memang ilmunya belum nyampe kesana. Uniknya, buku itu malah direspon cukup baik. Bahkan seorang kenalan menjadikannya bahan untuk skripsinya. Belasan tahun kemudian ketika saya pikir ilmu dan kemampuan menulis saya sudah cukup baik dan meningkat, kemudian saya kehilangan kesenangan itu.

Satu-satunya tempat saya bisa menulis dengan apa adanya rasanya hanya di blog ini. Itu pun sayangnya belakangan ini jarang saya lakukan, karena intensitas pekerjaan yang padat, dan laptop yang biasa saya pakai untuk nulis rusak. Bukan apa-apa, rasanya aneh aja kalau saya menulis sesuatu di luar kerjaan menggunakan PC di kantor. Jadi selama laptop itu rusak, maka selama itu pula postingan di blog ini terbengkalai.

Sekarang mumpung laptop sudah diperbaiki, dan ada waktu luang untuk menulis sesuatu di blog, jadi saatnya mengingat apa yang sudah dikerjakan selama dua bulan ini, untuk kemudian dirangkum jadi sebuah highlight yang bisa dibaca lagi beberapa tahun ke depan, entah oleh saya atau anak anak saya kelak.

Senin, 29 Juni 2026

MELIPUT PAMERAN MAHASISWA TPB FSRD ITB

Sabtu dan Minggu, 27-28 Juni 2028, mahasiswa Tahap Persiapan Bersama (TPB) Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB 2025 menggelar Amorvia 2026, sebuah pameran karya akademik yang sekaligus menjadi perayaan kreativitas lintas disiplin. Acara berlangsung selama dua hari di Gedung Serba Guna ITB Jatinangor, menghadirkan rangkaian kegiatan yang memadukan unsur seni, desain, hiburan, serta interaksi langsung dengan pengunjung.