Dua bulan berselang tanpa menulis rangkuman kegiatan di blog. Ingin konsisten menulis, bahkan meski hanya sebulan sekali pun terasa sulit. Energi sepertinya habis terkuras di jalan. Hari-hari berangkat dan pulang kerja terasa begitu melelahkan karena selalu berjibaku dengan kemacetan.
Idenya sebenarnya sederhana,
kenapa saya menulis rangkuman kegiatan setiap bulannya di blog. Selain untuk
menulis titik pencapaian dalam hidup, juga dalam rangka merangkum cerita
keseharian bareng anak-anak saya. Saya pikir penting bagi anak-anak sesekali melihat
ke belakang, tentang apa yang sudah mereka jalani. Hal-hal menyenangkan yang
suatu hari nanti mereka syukuri ketika mereka ada di titik terendah. Bahwa
dalam kondisi buruknya, ada hari-hari pada masa lalu yang menyenangkan yang
mereka lewati bareng orang tuanya. Dan ketika mereka mensyukuri itu, harapannya
sih mereka bisa lebih kuat menghadapi hari buruk tersebut, sampai kemudian dunia
kembali berpihak pada mereka.
Bulan Februari–Maret ini ada
beberapa kegiatan cukup menarik yang saya jalani, mulai dari liputan Pameran Urban Futures “Bibit Ka Jati”, ITB Day: Aku Masuk ITB (AMI) 2026, juga
peluncuran buku Menggugat Republik yang disisipi seminar Prabowonomics. Untuk
yang disebutkan terakhir, sebenarnya secara konsep sama sekali tidak menarik,
cenderung menyebalkan (memuakan). Melihat orang-orang berpangkat (menteri dan
pejabat pemerintah) omon-omon soal tema kebangsaan dan ekonomi yang
mengatasnamakan kesejahteraan rakyat. Padahal, pada praktiknya sama sekali
tidak berpihak pada rakyat. Ah, membahasnya saja sungguh memuakan. Apalagi ini
saya terlibat menjadi bagian dari acaranya. Mulai dari meeting sampai tengah
malam hanya untuk menentukan durasi orang-orang tersebut berpidato di atas
panggung, hingga dengan otoritas mereka mengubah susunan acara di tengah-tengah
acara berlangsung. Hal ini dilengkapi pula dengan demo mahasiswa ITB di tengah
acara.