Jumat, 03 April 2026

TENTANG LINGKARAN DAN SIKLUS HIDUP

Dua bulan berselang tanpa menulis rangkuman kegiatan di blog. Ingin konsisten menulis, bahkan meski hanya sebulan sekali pun terasa sulit. Energi sepertinya habis terkuras di jalan. Hari-hari berangkat dan pulang kerja terasa begitu melelahkan karena selalu berjibaku dengan kemacetan.

Idenya sebenarnya sederhana, kenapa saya menulis rangkuman kegiatan setiap bulannya di blog. Selain untuk menulis titik pencapaian dalam hidup, juga dalam rangka merangkum cerita keseharian bareng anak-anak saya. Saya pikir penting bagi anak-anak sesekali melihat ke belakang, tentang apa yang sudah mereka jalani. Hal-hal menyenangkan yang suatu hari nanti mereka syukuri ketika mereka ada di titik terendah. Bahwa dalam kondisi buruknya, ada hari-hari pada masa lalu yang menyenangkan yang mereka lewati bareng orang tuanya. Dan ketika mereka mensyukuri itu, harapannya sih mereka bisa lebih kuat menghadapi hari buruk tersebut, sampai kemudian dunia kembali berpihak pada mereka.

Bulan Februari–Maret ini ada beberapa kegiatan cukup menarik yang saya jalani, mulai dari liputan Pameran Urban Futures “Bibit Ka Jati”, ITB Day: Aku Masuk ITB (AMI) 2026, juga peluncuran buku Menggugat Republik yang disisipi seminar Prabowonomics. Untuk yang disebutkan terakhir, sebenarnya secara konsep sama sekali tidak menarik, cenderung menyebalkan (memuakan). Melihat orang-orang berpangkat (menteri dan pejabat pemerintah) omon-omon soal tema kebangsaan dan ekonomi yang mengatasnamakan kesejahteraan rakyat. Padahal, pada praktiknya sama sekali tidak berpihak pada rakyat. Ah, membahasnya saja sungguh memuakan. Apalagi ini saya terlibat menjadi bagian dari acaranya. Mulai dari meeting sampai tengah malam hanya untuk menentukan durasi orang-orang tersebut berpidato di atas panggung, hingga dengan otoritas mereka mengubah susunan acara di tengah-tengah acara berlangsung. Hal ini dilengkapi pula dengan demo mahasiswa ITB di tengah acara.

Senin, 30 Maret 2026

LEBARAN 1447 H/2026

“Di balik takbir yang berkumandang, ada harapan-harapan yang kembali dilahirkan.” Pagi itu, suara takbir seperti membuka sesuatu yang lama terlipat di dalam diri. Bukan sekadar gema dari pengeras suara, tapi seperti panggilan yang mengingatkan bahwa ada hal-hal yang perlu dipeluk kembali seperti keluarga, kenangan, dan mungkin, versi diri yang sempat tertinggal.

Adalah sebuah rumah yang saya tinggali sejak tahun 1998 lalu. Sebuah tempat yang selalu punya cara sederhana untuk membuat segalanya terasa utuh. Rasanya, shalat ied di sana bukan hanya tentang menunaikan kewajiban, tapi juga tentang kembali merasakan hangat yang tidak pernah benar-benar hilang.

Senin, 09 Februari 2026

MELIPUT PERTUNJUKAN KABARET "SUDAH JANGAN KE JATINANGOR"

Minggu, 8 Februari 2026, Dago Tea House dipenuhi riuh tawa dan tepuk tangan penonton yang menyaksikan pertunjukan kabaret “Sudah Jangan ke Jatinangor”. Saya mewakili ITB Press berkesempatan meliput langsung hari terakhir pementasan kolaborasi Bosmat Kabaret, Sevacter X Pidi Baiq ini. Sebuah pertunjukan yang terasa bukan sekadar kabaret biasa, melainkan sebuah pengalaman panggung yang matang, berani, dan penuh kejutan.

Cerita berpusat pada Doa (dimainkan oleh Tatan Oscar, yang juga didaulat menjadi sutradara di pertunjukan ini), tokoh utama yang menyimpan perasaan pada seseorang bernama Gadis (diperankan oleh Alika Chelya). Demi perasaan itu, Doa melakukan perjalanan dari Bandung (Kampus ITB Ganesha) ke Jatinangor bersama sahabatnya, Lancah. Alih-alih menemukan jawaban yang manis, perjalanan tersebut justru berujung pada kekecewaan. Dari premis sederhana ini, cerita berkembang menjadi rangkaian adegan yang emosional sekaligus jenaka.

Sabtu, 24 Januari 2026

MELIPUT KELANA WAYANG POTEHI DI CIBADAK, BANDUNG

Jika sebelumnya, di media tempat saya bernaung lama, keseharian saya nyaris selalu berkisar pada dunia musik, dari mulai rilis album, konser, sampai wawancara musisi. Di ITB Press medan liputan terasa jauh lebih luas, dan salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah ketika saya berkesempatan meliput rangkaian acara Kelana Wayang Potehi dalam CapCipCup Fest (digelar dari tanggal 15-30 Januari 2026-red) di Tjap Sahabat, Cibadak.

Wayang Potehi bukan sesuatu yang dekat dengan keseharian saya. Saya tahu ia bagian dari tradisi Tionghoa, pernah melihat sepintas, tapi belum pernah benar-benar menyelami dunia di baliknya. Begitu masuk ke ruang pameran “Budaya Bertutur Visual”, kesan pertama yang muncul justru rasa hangat: ruang kecil di lantai dua, dipenuhi karya, boneka, instalasi, dan orang-orang yang datang dengan latar belakang berbeda. Tidak terasa seperti pameran yang kaku, melainkan ruang temu yang hidup.