Senin, 30 Maret 2026

LEBARAN 1447 H/2026

“Di balik takbir yang berkumandang, ada harapan-harapan yang kembali dilahirkan.” Pagi itu, suara takbir seperti membuka sesuatu yang lama terlipat di dalam diri. Bukan sekadar gema dari pengeras suara, tapi seperti panggilan yang mengingatkan bahwa ada hal-hal yang perlu dipeluk kembali seperti keluarga, kenangan, dan mungkin, versi diri yang sempat tertinggal.

Adalah sebuah rumah yang saya tinggali sejak tahun 1998 lalu. Sebuah tempat yang selalu punya cara sederhana untuk membuat segalanya terasa utuh. Rasanya, shalat ied di sana bukan hanya tentang menunaikan kewajiban, tapi juga tentang kembali merasakan hangat yang tidak pernah benar-benar hilang.

Senin, 09 Februari 2026

MELIPUT PERTUNJUKAN KABARET "SUDAH JANGAN KE JATINANGOR"

Minggu, 8 Februari 2026, Dago Tea House dipenuhi riuh tawa dan tepuk tangan penonton yang menyaksikan pertunjukan kabaret “Sudah Jangan ke Jatinangor”. Saya mewakili ITB Press berkesempatan meliput langsung hari terakhir pementasan kolaborasi Bosmat Kabaret, Sevacter X Pidi Baiq ini. Sebuah pertunjukan yang terasa bukan sekadar kabaret biasa, melainkan sebuah pengalaman panggung yang matang, berani, dan penuh kejutan.

Cerita berpusat pada Doa (dimainkan oleh Tatan Oscar, yang juga didaulat menjadi sutradara di pertunjukan ini), tokoh utama yang menyimpan perasaan pada seseorang bernama Gadis (diperankan oleh Alika Chelya). Demi perasaan itu, Doa melakukan perjalanan dari Bandung (Kampus ITB Ganesha) ke Jatinangor bersama sahabatnya, Lancah. Alih-alih menemukan jawaban yang manis, perjalanan tersebut justru berujung pada kekecewaan. Dari premis sederhana ini, cerita berkembang menjadi rangkaian adegan yang emosional sekaligus jenaka.

Sabtu, 24 Januari 2026

MELIPUT KELANA WAYANG POTEHI DI CIBADAK, BANDUNG

Jika sebelumnya, di media tempat saya bernaung lama, keseharian saya nyaris selalu berkisar pada dunia musik, dari mulai rilis album, konser, sampai wawancara musisi, di ITB Press medan liputan terasa jauh lebih luas. Dan salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah ketika saya berkesempatan meliput rangkaian acara Kelana Wayang Potehi dalam CapCipCup Fest (digelar dari tanggal 15-30 Januari 2026-red) di Tjap Sahabat, Cibadak.

Wayang Potehi bukan sesuatu yang dekat dengan keseharian saya. Saya tahu ia bagian dari tradisi Tionghoa, pernah melihat sepintas, tapi belum pernah benar-benar menyelami dunia di baliknya. Begitu masuk ke ruang pameran “Budaya Bertutur Visual”, kesan pertama yang muncul justru rasa hangat: ruang kecil di lantai dua, dipenuhi karya, boneka, instalasi, dan orang-orang yang datang dengan latar belakang berbeda. Tidak terasa seperti pameran yang kaku, melainkan ruang temu yang hidup.

Rabu, 31 Desember 2025

HIGHLIGHT BULAN DESEMBER 2025

Bicara soal bulan Desember 2025, bisa dibilang hampir seluruh hari pada bulan itu dihabiskan di ITB Press Store, menemani dan menghidupi ITB Presstival 2025 yang berlangsung dari 3 sampai 22 Desember. Hampir satu bulan penuh, toko di Jalan Ganesha itu terasa seperti rumah kedua yang penuh orang, penuh cerita, penuh obrolan, dan penuh energi yang datang dari berbagai arah.

Rangkaian kegiatan dimulai dari bedah buku Dari Angka ke Kata. Lewat bedah buku ini saya kembali diingatkan bahwa belajar tidak selalu tentang cepat atau benar, tapi tentang cara berpikir dan menjelaskan. Lalu buku Panduan Bertahan Tumbuh di ITB  hadir sebagai teman empatik bagi mahasiswa baru yang membicarakan adaptasi, kesehatan mental, dan cara merawat diri di masa transisi. Sementara buku Dapur Rock N Roll karya Leon Ray Legoh membuka wajah kreativitas dari ruang yang berbeda: musik dan dapur. Dari tiga buku ini, saya menarik satu benang merah: tumbuh itu bukan tentang hasil cepat, tapi tentang berani menjalani proses dengan yang kita yakini.

Interview bareng Leon 'Koil'