Kamis, 06 Agustus 2026

MELIPUT HEARING SESSION ALBUM BARU UTBBYS

Rabu, 5 Agustus 2026, bertempat di The Hallway Space, Bandung, Under The Big Bright Yellow Sun (UTBBYS) menggelar sesi hearing session untuk album terbaru mereka, Virada. Diskusi menghadirkan pengamat musik Idhar Resmadi sebagai pembicara (selain tentunya para personil UTBBYS), dengan Ichsan Pratama dari Sunday Breaker Cult bertindak sebagai moderator.

Acara dibuka dengan pemutaran lagu Pangawit, membawa para pendengar masuk lebih dulu ke wilayah sonik post-rock yang menjadi rumah besar UTBBYS. Sampul album Virada sendiri turut menjadi perhatian, digarap oleh seniman fotografi asal Bali, Yoga, menampilkan siluet seorang figur yang berdiri sendiri di tengah laut menghadap cahaya matahari di horizon, sebuah gambaran visual titik balik yang senyap namun kuat, sejalan dengan makna kata "virada" itu sendiri yang lebih kurang mempunyai arti balik arah atau titik balik dalam bahasa Portugis/Spanyol, yang bisa juga diterjemahkan sebagai istilah pelayaran untuk manuver mengubah haluan kapal (tacking).

Dalam pemaparannya, Idhar Resmadi menyoroti perubahan arah musikal UTBBYS dari masa ke masa. Ia menilai lapisan distorsi pada Virada tampil jauh lebih tebal dan lebih terasa lebih emosional dan personal. Meski warna bunyi berubah drastis, ia menegaskan bahwa struktur musikal UTBBYS sebagai band tetap konsisten pada karakter yang selama ini menjadi identitas mereka, sesuatu yang menurutnya membedakan UTBBYS dari band post-rock lain yang justru mengubah total arah bermusiknya. Sebagai pembanding, ia menyinggung langkah Explosions in the Sky lewat album The Wilderness, yang tiba-tiba merangkul elemen elektronik secara signifikan. UTBBYS, sebaliknya, memilih jalur berbeda: mempertahankan format band instrumental mereka, sambil tetap mendorong batas distorsi dan tekstur bunyi ke arah yang baru.

Rabu, 01 Juli 2026

HIGHLIGHT BULAN MEI-JUNI 2026

Tadinya saya pikir menulis itu pekerjaan paling mudah. Tapi belakangan, menjadi yang paling susah dikerjakan. Padahal chatgpt dan claude siap membantu dengan semua kecanggihan yang mereka punya. Tapi anehnya, justru dengan semua kemudahan dan kecanggihan yang ditawarkan, kadang justru disitulah kenapa akhirnya menulis itu menjadi pekerjaan yang paling susah dikerjakan. Lebih tepatnya susah menemukan bentuk utuh dari sebuah tulisan.

Dulu, saya menulis karena suka, dan karena suka akhirnya menulis jadi mudah. Suka, mudah, dan penuh suka cita ketika melakukannya. Berbanding terbalik ketika itu akhirnya menjadi pekerjaan. Apalagi belakangan ini menulis sudah bukan lagi tentang apa yang saya suka, tapi tentang apa yang saya harus lakukan. Menulis tentang promosi, penawaran, branding, dan semua hal yang berhubungan dengan jualan dan citra yang ingin diperlihatkan perusahaan.

Tentu saja ini menjadi sesuatu yang munafik, ketika saya mengutuk apa yang saya kerjakan, tapi di sisi lain saya menerima upah dari apa yang saya kutuk ini. Dan disitulah kemudian menulis menjadi pekerjaan yang susah dikerjakan, karena kemudian saya menulis untuk orang lain, bukan untuk saya.

Tahun 2012 saya menulis sebuah buku tentang apa yang saya pikirkan, rasakan, dan semua daya hayal yang saya tuangkan dalam coretan-coretan apa adanya. Tanpa edit, tanpa berpikir apakah penulisannya benar atau apakah kaidah berbahasanya sudah baik dan benar. Tidak ada sama sekali. Bukan karena ingin tampil berbeda, tapi memang ilmunya belum nyampe kesana. Uniknya, buku itu malah direspon cukup baik. Bahkan seorang kenalan menjadikannya bahan untuk skripsinya. Belasan tahun kemudian ketika saya pikir ilmu dan kemampuan menulis saya sudah cukup baik dan meningkat, kemudian saya kehilangan kesenangan itu.

Satu-satunya tempat saya bisa menulis dengan apa adanya rasanya hanya di blog ini. Itu pun sayangnya belakangan ini jarang saya lakukan, karena intensitas pekerjaan yang padat, dan laptop yang biasa saya pakai untuk nulis rusak. Bukan apa-apa, rasanya aneh aja kalau saya menulis sesuatu di luar kerjaan menggunakan PC di kantor. Jadi selama laptop itu rusak, maka selama itu pula postingan di blog ini terbengkalai.

Sekarang mumpung laptop sudah diperbaiki, dan ada waktu luang untuk menulis sesuatu di blog, jadi saatnya mengingat apa yang sudah dikerjakan selama dua bulan ini, untuk kemudian dirangkum jadi sebuah highlight yang bisa dibaca lagi beberapa tahun ke depan, entah oleh saya atau anak anak saya kelak.

Rabu, 24 Juni 2026

MELIPUT PARADE MAHASISWA FSRD ITB

Minggu, 21 Juni 2026, suasana Car Free Day (CFD) Dago Bandung tampak berbeda dari biasanya. Di tengah keramaian masyarakat yang memadati kawasan tersebut, mahasiswa FSRD TPB 2025 menghadirkan MORVARIA 2026 melalui rangkaian parade dan performance art yang memikat perhatian publik. Saya ditugaskan meliput jalannya acara untuk dimuat di website ITB Press. Berbeda dengan liputan biasanya, liputan kali ini ditemani anak dan istri sekalian jalan-jalan di area CFD.

Nadja berpose bareng salah satu peserta pawai

Kamis, 30 April 2026

HIGHLIGHT BULAN APRIL 2026

Tahun 2026 sudah berjalan empat bulan, dan sepertinya bulan April menjadi bulan yang paling sibuk buat saya. Baik urusan kantor, keluarga, sampai beberapa proyek di luar kantor terjadi pada bulan April. Untuk urusan kerjaan, ada dua agenda besar yang terjadi pada bulan April ini, mulai dari wisuda ITB sampai konser Dilan ITB 97.

Seperti biasa, untuk urusan wisuda saya diminta menjadi petugas pengambilan toga dan meliput acara wisuda itu sendiri (liputannya bisa baca di sini), sedangkan untuk konser Dilan sebenarnya persiapannya sudah dimulai sejak akhir Maret lalu, di mana saya diminta membuatkan proposal konser hingga menjembatani antara pihak kantor dengan vendor produksi dan manpower. Baik wisuda ataupun konser semuanya berjalan lancar dan menyenangkan, dan juga plusnya membuat saya punya tambahan penghasilan, baik dari lembur ataupun persenan hahaha.