Kelewat jauh dari niat awal
menulis di blog, untuk sekedar menuliskan rangkuman kegiatan setiap bulannya. Bukan
buat apa-apa, hanya saja sebagai bentuk untuk membekukan waktu, mengenang
kembali apa yang sudah terjadi dan menjadikannya bekal/pelajaran
di kemudian hari. Karena katanya, pengalaman adalah guru terbaik.
Memulai menulis di blog ini dengan
mengunggah foto yang diambil istri saya, satu hari setelah ayahnya (mertua
saya) meninggal dunia. Bagi sebagian orang mungkin foto ini hanya akan dinilai
dari sisi visual dan estetikanya saja. Tapi buat istri saya atau bahkan buat
saya yang tahu persis bagaimana biasanya bapak duduk di kursi tersebut, dengan
kebiasaan bapak membetulkan barang-barang elektronik, atau pun sekedar ngulik sesuatu
di kursi tersebut, pasti punya makna yang berbeda. Satu hal yang buat saya
sebagai menantu sering merasa malu, karena begitu banyak kerjaan ‘laki-laki’
yang bisa dikerjakan bapak. Jauh sekali dibanding saya yang selalu gagap untuk
urusan seperti itu.
Di kursi itu pula untuk
pertama kalinya bapak meminta saya membawa ibu saya sebagai tanda hubungan saya
dengan anaknya serius. “mama candak kadieu, ameung, kenalan sareng keluarga
didieu”. Saya lupa kalimat persisnya, tapi intinya bapak meminta saya
membawa keluarga saya untuk bisa berkenalan dengan keluarga istri saya (waktu
itu masih pacar).
Kehilangan orang tua selalu
tidak mudah diterima. Pun begitu dengan yang dirasakan istri saya hingga hari
ini. Saya tahu persis rasanya. 15 tahun lalu papa saya berpulang, dan bahkan hingga
kini kesedihan itu masih terasa. Bukan karena waktunya sudah habis di dunia, tapi
sedih karena ketika saya ada cerita yang hanya bisa dibagi dengan dia, sosoknya
gak ada di samping saya.
Tapi, sayangnya waktu tidak
pernah mau menunggu. Roda hidup terus berputar, mesin harus tetap dinyalakan. Setiap
harinya masih harus bergelut dengan pekerjaan. Saya dengan semua kesemrawutan
di kantor, dan istri saya dengan semua kesemrawutan di rumah. Sesedih atau seterpuruk
apapun, nyatanya we have to face that mess!
Dengan awan kelabu yang terus
membayangi hari-hari bapak di rumah sakit, hingga bapak berpulang, nyatanya saya
dan istri saya harus kembali ke rutinitas kami. Saya harus bekerja ke kantor,
dan istri saya harus mengurus rumah dan yang terberat, beradu argumen dengan si
bungsu, Nadja hahaha.
Soal pekerjaan, pada bulan November
saya dikasih kepercayaan untuk menjadi host di podcast Popstore TV. Sebenarnya
ini episode kesekian yang saya gawangi, tapi bedanya, kali ini ada sponsor
masuk, yang mana itu artinya ada pemasukan tambahan buat saya hahaha. Dan secara
visual pun lebih bagus karena disupport alat dan tempat yang lebih baik.
Selain itu, kalau ngomongin kerjaan, bulan November ini saya kembai meliput gelaran ITB Jazz Aula Barat yang ke sembilan. Tidak banyak yang bisa saya ceritakan selain dari liputan yang bisa dibaca di sini.
Home



.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar