Senin, 09 Februari 2026

MELIPUT PERTUNJUKAN KABARET "SUDAH JANGAN KE JATINANGOR"

Minggu, 8 Februari 2026, Dago Tea House dipenuhi riuh tawa dan tepuk tangan penonton yang menyaksikan pertunjukan kabaret “Sudah Jangan ke Jatinangor”. Saya mewakili ITB Press berkesempatan meliput langsung hari terakhir pementasan kolaborasi Bosmat Kabaret, Sevacter X Pidi Baiq ini. Sebuah pertunjukan yang terasa bukan sekadar kabaret biasa, melainkan sebuah pengalaman panggung yang matang, berani, dan penuh kejutan.

Cerita berpusat pada Doa (dimainkan oleh Tatan Oscar, yang juga didaulat menjadi sutradara di pertunjukan ini), tokoh utama yang menyimpan perasaan pada seseorang bernama Gadis (diperankan oleh Alika Chelya). Demi perasaan itu, Doa melakukan perjalanan dari Bandung (Kampus ITB Ganesha) ke Jatinangor bersama sahabatnya, Lancah. Alih-alih menemukan jawaban yang manis, perjalanan tersebut justru berujung pada kekecewaan. Dari premis sederhana ini, cerita berkembang menjadi rangkaian adegan yang emosional sekaligus jenaka.

Salah satu bagian paling mencuri perhatian adalah kemunculan geng koboy kampus (dimainkan oleh Sabrina Sameh, Buana Lintang, Pamungkas, Dadan Riel sebagai Erwin Koboy, serta Dimasta sebagai Pidi Baiq). Adegan ini menjadi babak yang paling banyak mengundang tawa penonton. Improvisasi yang dilakukan secara live terasa cair dan segar, lengkap dengan celetukan yang menangkap hal-hal yang sedang ramai dibicarakan. Di sinilah kabaret ini terasa hidup karena berani bermain dengan situasi, tanpa kehilangan arah cerita.

Menariknya, selain memerankan Pidi Baiq, Dimasta juga berperan sebagai sutradara bersama Tatan. Bicara tentang Pidi Baiq, kehadiran figur ini terasa penting, mengingat cerita pertunjukan ini berangkat dari salah satu lagu karya Pidi Baiq yang kemudian diterjemahkan ke dalam bentuk narasi panggung. Meski sejak awal penonton bisa menebak bahwa Doa akan patah hati, namun cara cerita ini disampaikan membuat perjalanan menuju akhir tetap terasa seru.

Puncak pertunjukan terjadi di babak terakhir yang diberi tajuk “Ghania Larasati”. Di sinilah kejutan terbesar dihadirkan: sebuah plot twist yang mengulang adegan dan dekorasi awal, namun dengan makna yang sama sekali berbeda. Pertanyaan tentang siapa sebenarnya sosok yang selama ini membalas surat-surat Doa akhirnya terjawab dengan cara yang tak terduga, hingga membuat penonton terdiam sesaat sebelum kembali bertepuk tangan.

Dari sisi artistik, Sudah Jangan ke Jatinangor tampil solid. Koreografi digarap rapi (Angkat topi untuk Calista, Liona, Reeanty, dan Auliya yang didaulat sebagai koreografer di pertunjukan ini. Serta tentunya untuk tim artistik yang menampilkan latar tempat seru nan ciamik), transisi antarbabak berjalan halus, dan tata lampu mendukung perubahan suasana, mulai dari hiruk-pikuk demonstrasi, kehidupan kampus ITB, asrama putri Unpad, hingga detail-detail kecil seperti penamaan tempat yang jenaka, salah satunya “Warung Bi Arin”. Bahkan penyematan “pesan sponsor” ke dalam naskah, yang biasanya terasa mengganggu, justru dikemas sebagai lelucon yang menghibur.

Secara keseluruhan, kabaret ini layak disebut sebagai kabaret “next level”. Bukan hanya karena koreografi dan dekorasi yang seru dan menarik, tetapi karena keberanian mereka bermain dengan cerita, humor, dan kejutan tanpa kehilangan emosi dasarnya. Kabaret “Sudah Jangan ke Jatinangor” berhasil menghadirkan pertunjukan yang membuat penonton tertawa, terenyuh, dan pulang dengan kesan yang sulit dilupakan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar