Sabtu, 24 Januari 2026

MELIPUT KELANA WAYANG POTEHI DI CIBADAK, BANDUNG

Jika sebelumnya, di media tempat saya bernaung lama, keseharian saya nyaris selalu berkisar pada dunia musik, dari mulai rilis album, konser, sampai wawancara musisi, di ITB Press medan liputan terasa jauh lebih luas. Dan salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah ketika saya berkesempatan meliput rangkaian acara Kelana Wayang Potehi dalam CapCipCup Fest (digelar dari tanggal 15-30 Januari 2026-red) di Tjap Sahabat, Cibadak.

Wayang Potehi bukan sesuatu yang dekat dengan keseharian saya. Saya tahu ia bagian dari tradisi Tionghoa, pernah melihat sepintas, tapi belum pernah benar-benar menyelami dunia di baliknya. Begitu masuk ke ruang pameran “Budaya Bertutur Visual”, kesan pertama yang muncul justru rasa hangat: ruang kecil di lantai dua, dipenuhi karya, boneka, instalasi, dan orang-orang yang datang dengan latar belakang berbeda. Tidak terasa seperti pameran yang kaku, melainkan ruang temu yang hidup.

Momen pembukaan menjadi titik awal yang menarik. Demo singkat Wayang Potehi oleh Sanggar Siauw Pek San membuat saya benar-benar melihat bagaimana seni tutur bekerja: suara dalang, gerak boneka, simbol-simbol yang muncul, semuanya membentuk cerita yang sugestif. Di situ saya mulai paham bahwa Wayang Potehi merupakan medium bercerita yang sarat sejarah dan nilai.


Pengantar dari Dr. Stephanus Djunatan menambah lapisan refleksi. Ketika ia berbicara tentang kuatnya tradisi lisan di Indonesia, saya seperti diingatkan bahwa budaya kita sejak lama hidup dari cerita, dari tuturan, dari pengalaman bersama. Wayang Potehi, dengan sejarah akulturasi Tionghoa dan lokal, menjadi contoh nyata bagaimana kebudayaan tidak pernah murni tunggal, melainkan hasil perjumpaan panjang. Dari sini, liputan ini terasa bukan lagi soal acara, tapi soal ingatan, identitas, dan cara kita membaca masa lalu.

Yang membuat saya semakin menikmati proses liputan adalah keberagaman respon para seniman. Karya-karya yang hadir tidak menempatkan Wayang Potehi sebagai benda museum, tapi sebagai sumber gagasan: tentang perjalanan, perjuangan, romantisme, sampai nilai moral. Ada instalasi dari material sisa rumah tangga, ada boneka dan topeng dengan bentuk yang intuitif, hingga narasi yang sengaja dipadatkan. Di titik ini, saya melihat bagaimana tradisi bisa berdialog dengan isu keseharian, bahkan lewat sampah, memori keluarga, dan pengalaman personal.


Keseruan lain muncul saat mengikuti diskusi dan bincang seniman. Di situ saya mendengar langsung bagaimana Sanggar Siauw Pek San memaknai sanggar bukan hanya sebagai ruang berkarya, tapi ruang belajar. Cara mereka memandang pakem sebagai landasan, bukan aturan kaku, terasa sangat relevan. Tradisi dipelajari dengan serius, tapi tetap dibuka untuk kolaborasi: musik, instalasi, teknologi, hingga digital. Dari sini saya belajar bahwa menjaga tradisi bukan berarti membekukannya, melainkan memastikan ia terus bergerak.


Saya juga tersentuh oleh cerita tentang kota. Tentang bagaimana perjumpaan orang-orang dengan latar belakang berbeda dari berbagai kota justru menjadi energi utama tumbuhnya praktik budaya. Di ruang kecil Tjap Sahabat itu, saya melihat sendiri perjumpaan itu: seniman, pengunjung, pegiat budaya, mahasiswa, semua bercampur tanpa sekat. Wayang Potehi hadir bukan sebagai tontonan eksklusif, tapi sebagai ruang dialog lintas generasi dan disiplin.

Meliput Wayang Potehi membuat saya sadar bahwa kerja jurnalistik bukan hanya soal mendokumentasikan peristiwa, tapi juga merawat ingatan. Di tengah kota yang bergerak cepat, tradisi sering tampak jauh. Tapi lewat acara-acara seperti ini, saya melihat bagaimana masa lalu bisa hadir kembali, berbicara dengan bahasa hari ini, dan menemukan penontonnya sendiri.

Dua tahun kerja di ITB Press dengan semua keseruan liputan yang saya kerjakan, saya mendapat kesempatan untuk belajar dari begitu banyak dunia, tidak hanya musik. Dan di antara semua liputan itu, Wayang Potehi memberi saya pengalaman kecil tentang bagaimana tradisi, jika diberi ruang, selalu punya cara untuk tetap hidup.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar