Jika sebelumnya, di media tempat saya bernaung lama, keseharian saya nyaris selalu berkisar pada dunia musik, dari mulai rilis album, konser, sampai wawancara musisi, di ITB Press medan liputan terasa jauh lebih luas. Dan salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah ketika saya berkesempatan meliput rangkaian acara Kelana Wayang Potehi dalam CapCipCup Fest (digelar dari tanggal 15-30 Januari 2026-red) di Tjap Sahabat, Cibadak.
Wayang Potehi bukan sesuatu yang
dekat dengan keseharian saya. Saya tahu ia bagian dari tradisi Tionghoa, pernah
melihat sepintas, tapi belum pernah benar-benar menyelami dunia di baliknya.
Begitu masuk ke ruang pameran “Budaya Bertutur Visual”, kesan pertama yang
muncul justru rasa hangat: ruang kecil di lantai dua, dipenuhi karya, boneka,
instalasi, dan orang-orang yang datang dengan latar belakang berbeda. Tidak
terasa seperti pameran yang kaku, melainkan ruang temu yang hidup.
Momen pembukaan menjadi titik awal yang menarik. Demo singkat Wayang Potehi oleh Sanggar Siauw Pek San membuat saya benar-benar melihat bagaimana seni tutur bekerja: suara dalang, gerak boneka, simbol-simbol yang muncul, semuanya membentuk cerita yang sugestif. Di situ saya mulai paham bahwa Wayang Potehi merupakan medium bercerita yang sarat sejarah dan nilai.
Yang membuat saya semakin menikmati proses liputan adalah keberagaman respon para seniman. Karya-karya yang hadir tidak menempatkan Wayang Potehi sebagai benda museum, tapi sebagai sumber gagasan: tentang perjalanan, perjuangan, romantisme, sampai nilai moral. Ada instalasi dari material sisa rumah tangga, ada boneka dan topeng dengan bentuk yang intuitif, hingga narasi yang sengaja dipadatkan. Di titik ini, saya melihat bagaimana tradisi bisa berdialog dengan isu keseharian, bahkan lewat sampah, memori keluarga, dan pengalaman personal.
Meliput Wayang Potehi membuat
saya sadar bahwa kerja jurnalistik bukan hanya soal mendokumentasikan
peristiwa, tapi juga merawat ingatan. Di tengah kota yang bergerak cepat, tradisi
sering tampak jauh. Tapi lewat acara-acara seperti ini, saya melihat bagaimana
masa lalu bisa hadir kembali, berbicara dengan bahasa hari ini, dan menemukan
penontonnya sendiri.
Dua tahun kerja di ITB Press dengan semua keseruan liputan yang saya kerjakan, saya mendapat kesempatan untuk belajar dari begitu banyak dunia, tidak hanya musik. Dan di antara semua liputan itu, Wayang Potehi memberi saya pengalaman kecil tentang bagaimana tradisi, jika diberi ruang, selalu punya cara untuk tetap hidup.
Home













Tidak ada komentar:
Posting Komentar