Gala Bunga Matahari jadi lagu yang tidak pernah bisa saya dengarkan sampai habis. Liriknya seolah terus-menerus membuat saya menangis tanpa ampun, setiap kali, tanpa peduli sudah berapa kali saya memutarnya.
Dengan segala rasa lelah sehabis
bekerja, terjebak macet di jalan setiap hari, ditambah carut marut media sosial
tentang kondisi negara yang digawangi oleh orang-orang yang rasanya gak becus
mengurus negara, saya jadi berpikir bahwa Papa di kehidupannya yang baru
mungkin jauh lebih enak. Menyaksikan sungai-sungai yang dialiri air susu, badan
yang tidak lagi sakit-sakitan, dan orang-orang di sana yang kembali muda, dan
muda selamanya.
Seperti di lagunya Sal Priadi
itu, saya pun punya pertanyaan yang sama terhadap orang-orang yang lebih dulu
berpulang. Jika memang kehidupan baru mereka lebih baik, rasanya ingin sekali
saya diajak ke sana. Keluar dari dunia yang melelahkan ini.
Tapi dunia memang bukan tempat
untuk beristirahat. Selama masih hidup, rasanya memang bukan waktunya untuk
berhenti. Jiwa, raga, fisik, mental, semuanya seperti tidak pernah benar-benar
berhenti bekerja. Setiap kali tertidur pun selalu ada ketakutan kecil untuk
terbangun dan kembali menjalani hal yang sama seperti hari sebelumnya. Bangun,
berjuang, lelah, tidur, lalu bangun lagi. Begitu terus, berulang, sampai
saatnya tiba kita bisa benar-benar istirahat.
Mungkin itu sebabnya lagu ini terasa begitu dekat. Bukan cuma karena liriknya bicara soal kehilangan, tapi karena ia menyentuh sesuatu yang lebih personal, tentang lelah yang menumpuk diam-diam, yang jarang saya akui bahkan pada diri sendiri. Ada rasa iri yang aneh setiap mendengarnya, iri pada ketenangan yang dibayangkan ada ‘di sana’, sesuatu yang tidak pernah bisa saya rasakan penuh di sini, di dunia yang terus meminta saya untuk bangun dan berjalan lagi.
Saya sadar ini bukan cara
berpikir yang sehat kalau dibiarkan terlalu lama. Tapi saya juga percaya
menangis karena sebuah lagu bukan tanda kelemahan. Itu justru satu dari sedikit
ruang yang masih saya punya untuk jujur pada diri sendiri, tanpa harus menjelaskan
apa pun pada siapa pun.
Pada akhirnya, Gala Bunga
Matahari bukan cuma lagu tentang perpisahan dengan seseorang yang sudah tiada.
Ia jadi cermin kecil untuk melihat betapa lelahnya menjalani hidup yang terus
berjalan, dan betapa manusiawinya membayangkan istirahat yang belum boleh
diambil sekarang. Selama masih ada napas, mungkin memang belum saatnya
berhenti. Yang bisa saya lakukan hanya terus berjalan, sambil sesekali mengizinkan
diri menangis sejenak setiap kali lagu itu diputar, lalu bangun lagi esok
paginya, seperti biasa.
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar