Jumat, 06 September 2024

MENJELANG SUBUH

Gala Bunga Matahari jadi lagu yang tidak pernah bisa saya dengarkan sampai habis. Liriknya seolah terus-menerus membuat saya menangis tanpa ampun, setiap kali, tanpa peduli sudah berapa kali saya memutarnya.

Dengan segala rasa lelah sehabis bekerja, terjebak macet di jalan setiap hari, ditambah carut marut media sosial tentang kondisi negara yang digawangi oleh orang-orang yang rasanya gak becus mengurus negara, saya jadi berpikir bahwa Papa di kehidupannya yang baru mungkin jauh lebih enak. Menyaksikan sungai-sungai yang dialiri air susu, badan yang tidak lagi sakit-sakitan, dan orang-orang di sana yang kembali muda, dan muda selamanya.

Seperti di lagunya Sal Priadi itu, saya pun punya pertanyaan yang sama terhadap orang-orang yang lebih dulu berpulang. Jika memang kehidupan baru mereka lebih baik, rasanya ingin sekali saya diajak ke sana. Keluar dari dunia yang melelahkan ini.

Tapi dunia memang bukan tempat untuk beristirahat. Selama masih hidup, rasanya memang bukan waktunya untuk berhenti. Jiwa, raga, fisik, mental, semuanya seperti tidak pernah benar-benar berhenti bekerja. Setiap kali tertidur pun selalu ada ketakutan kecil untuk terbangun dan kembali menjalani hal yang sama seperti hari sebelumnya. Bangun, berjuang, lelah, tidur, lalu bangun lagi. Begitu terus, berulang, sampai saatnya tiba kita bisa benar-benar istirahat.

Mungkin itu sebabnya lagu ini terasa begitu dekat. Bukan cuma karena liriknya bicara soal kehilangan, tapi karena ia menyentuh sesuatu yang lebih personal, tentang lelah yang menumpuk diam-diam, yang jarang saya akui bahkan pada diri sendiri. Ada rasa iri yang aneh setiap mendengarnya, iri pada ketenangan yang dibayangkan ada ‘di sana’, sesuatu yang tidak pernah bisa saya rasakan penuh di sini, di dunia yang terus meminta saya untuk bangun dan berjalan lagi.

Saya sadar ini bukan cara berpikir yang sehat kalau dibiarkan terlalu lama. Tapi saya juga percaya menangis karena sebuah lagu bukan tanda kelemahan. Itu justru satu dari sedikit ruang yang masih saya punya untuk jujur pada diri sendiri, tanpa harus menjelaskan apa pun pada siapa pun.

Pada akhirnya, Gala Bunga Matahari bukan cuma lagu tentang perpisahan dengan seseorang yang sudah tiada. Ia jadi cermin kecil untuk melihat betapa lelahnya menjalani hidup yang terus berjalan, dan betapa manusiawinya membayangkan istirahat yang belum boleh diambil sekarang. Selama masih ada napas, mungkin memang belum saatnya berhenti. Yang bisa saya lakukan hanya terus berjalan, sambil sesekali mengizinkan diri menangis sejenak setiap kali lagu itu diputar, lalu bangun lagi esok paginya, seperti biasa.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar