Selasa, 15 Juli 2025

"ROBOHNYA SURAU KAMI": EKSPLORASI KONTEMPLATIF COLLECTIVE LAB

Jumat, 11 Juli 2025, saya berkesempatan hadir dalam sebuah pertunjukan eksperimental yang digelar di Auditorium IFI Bandung. Pertunjukan ini menjadi bagian dari rangkaian acara selama dua hari persembahan Collective Lab, yang berlangsung pada 10 dan 11 Juli 2025. Dengan mengangkat tajuk “Robohnya Surau Kami” (karya A.A Navis), Collective Lab menghadirkan eksplorasi suara dan visual dalam bentuk yang menggugah sekaligus reflektif.

Collective Lab sendiri merupakan komunitas seni berbasis kolektif yang lahir di Bandung pada tahun 2024. Komunitas ini dibuat sebagai laboratorium terbuka bagi seniman dari berbagai latar belakang untuk bereksperimen dengan bentuk-bentuk baru seni pertunjukan. Dalam gelarannya kali ini, mereka fokus pada eksplorasi media digital performatif yang menggabungkan unsur visual dan bunyi dalam pendekatan artistik yang tidak lagi berpusat pada manusia (non-antroposentris).

Pertunjukan ini menghadirkan tafsir baru atas cerita pendek legendaris “Robohnya Surau Kami” karya A.A. Navis. Dua figur utama, Haji Saleh dan ‘Tuhan’ dimunculkan bukan sekadar sebagai karakter naratif, melainkan sebagai representasi hubungan antara manusia dan entitas non-manusia yang tidak terlihat, tidak terwakilkan, namun hadir secara sensorik dan eksistensial. Keduanya menjadi simbol pertemuan antara tubuh manusia dan sesuatu yang ilahiah, misterius, dan berada di luar batas dunia manusia.

Rabu, 02 Juli 2025

HIGHLIGHT BULAN JUNI 2025

Membuka bulan Juni 2025 dengan podcast baru saya yang ditayangkan di Popstore TV. Awalnya, podcast ini digarap sendirian oleh Koh Yus, seorang 'scenester' aktif di skena musik 'indie' Bandung dan pernah menjadi manajer untuk duo elektronik Bottlesmoker. Koh Yus juga dikenal aktif dalam bisnis, termasuk Seni Kanji dan Popstore ini. Awalnya tawaran jadi host di podcast ini datang dari temen saya, Haris. Dalam rangka belajar jadi host - yang siapa tahu bisa dapat tambahan penghasilan selain dari menulis - saya mengiyakan tawaran Haris. Ditambah konsep podcast-nya juga soal musik. Beberapa waktu lalu teman saya yang lain, Hilman, pernah juga menawari saya jadi host podcast, tapi soal bola. Saya menolak waktu itu, karena saya gak ngerti bola haha.