Bicara soal bulan Desember 2025, bisa dibilang hampir seluruh hari pada bulan itu dihabiskan di ITB Press Store, menemani dan menghidupi ITB Presstival 2025 yang berlangsung dari 3 sampai 22 Desember. Hampir satu bulan penuh, toko di Jalan Ganesha itu terasa seperti rumah kedua yang penuh orang, penuh cerita, penuh obrolan, dan penuh energi yang datang dari berbagai arah.
Rangkaian kegiatan dimulai dari bedah
buku Dari Angka ke Kata. Lewat bedah buku ini saya kembali diingatkan bahwa belajar tidak selalu tentang cepat atau benar,
tapi tentang cara berpikir dan menjelaskan. Lalu buku Panduan Bertahan Tumbuh di ITBhadir sebagai teman empatik bagi mahasiswa
baru yang membicarakan adaptasi, kesehatan mental, dan cara merawat diri di
masa transisi. Sementara buku Dapur Rock
N Roll karya Leon Ray Legoh membuka wajah kreativitas dari ruang yang
berbeda: musik dan dapur. Dari tiga buku ini, saya menarik satu benang merah:
tumbuh itu bukan tentang hasil cepat, tapi tentang berani menjalani proses
dengan yang kita yakini.
Interview bareng Leon 'Koil'
ITB Presstival kemudian bergerak
ke banyak arah. Talkshow Brand Identity
mengingatkan bahwa brand bukan sekadar logo dan strategi, tapi cerita,
kepedulian, dan konsistensi yang dirawat pelan-pelan. Ada juga diskusi bareng komunitas
seni Bandung yang memperlihatkan betapa pentingnya ruang belajar dan relasi
yang dijaga agar ekosistem kreatif kota tetap hidup. Di sisi literasi, obrolan
tentang sastra, toko buku, dan komunitas pembaca membuat saya merasa bahwa
membaca dan menulis masih terus mencari bentuk-bentuk baru yang dekat dengan
keseharian.
Interview bareng Annisa Resmana, Galuh (Owner Toko Buku Pelagia), dan Eben (Founder Komunitas Bandung Berpuisi)
Salah satu momen yang saya tunggu
adalah pemutaran film animasi hasil kolaborasi dengan Bandung Film Commission:
Ada tiga film animasi yang diputar ketika itu, dari mulai Bandung 2045 karya Dava Gibran, Setra
Sagara karya Aji Hermawan, dan Rana’Uko
karya Daryl Wilson. Menonton animasi-animasi ini seperti diajak melihat kota,
alam, dan manusia dari jarak yang lebih sunyi, tenang, tapi mengendap lama.
Ruang literasi anak juga hidup lewat kehadiran Litara, sementara Family Art Time yang diinisiasi oleh Workashopa menjadi salah satu ruang paling hangat di festival ini. Melihat anak-anak dan orang tua duduk bersama dan menggambar rasanya seperti melihat potongan kecil tentang bagaimana seni bisa menjadi ‘bahasa rumah’.
Kak Arul sedang mereview lukisan Ammar
Workshop demi workshop kemudian
mengisi hari-hari kami. Komunitas Bormove menghadirkan seni sulam sebagai
latihan ketelatenan dan ruang ekspresi. Tulsi Collective membuka kelas menulis
yang terasa seperti ruang aman untuk mendengar diri sendiri. SPEC mengajarkan
tentang merawat cerita lewat revisi dan ketekunan. Monokromonkey dan Zaidan
Katsura membuka percakapan tentang desain karakter dan ilustrasi brand. Dua orang
seniman ini menyoroti pentingnya referensi, konsistensi, dan keberanian
bereksplorasi tanpa kehilangan arah industri.
Di ruang pameran, Coreng Moreng – Intercultural Exhibition
mengajak kita melihat karya anak-anak dari berbagai negara, berdampingan dengan
seniman undangan lainnya yang membuat saya kembali percaya bahwa seni memang
berangkat dari goresan-goresan sederhana yang pelan-pelan tumbuh jadi bahasa
yang saling terhubung.
Ammar berpose di depan karya para peserta pameran
Pembukaannya diiringi musik Panji
Sakti. Dengan renungan-renungan kecil, jeda-jeda sunyi, dan momen kebersamaan
bersama anaknya di atas panggung, musik terasa seperti doa yang dibagikan
pelan-pelan. Rasanya begitu dekat dan hangat.
Panji Sakti feat sang buah hati
Sampai kemudian, selama hampir satu bulan digelar, gelaran ini kemudian ditutup lewat Konser Solidaritas Sumatra. The Panasdalam Bank, Ucup Prince, Somah & Orang Dalam, Jaka PW, dan Proyek Berdua membuat halaman belakang ITB Press Store penuh suara, tawa, dan nyanyian bersama, di mana musik bisa menjadi cara lain untuk mengajak kita untuk bergerak bersama, meski dengan langkah kecil.
Kebagian bertugas jadi MC
Di tengah semua itu, Desember juga memberi ujian personal. Ammar dan Nadja sempat harus dirawat di rumah sakit karena infeksi paru-paru. Ini seperti siklus yang berulang, karena akhir tahun 2024 lalu juga Ammar harus dirawat di rumah sakit. Di antara pekerjaan kantor, urusan rumah, dan bolak-balik rumah sakit, hari-hari terasa panjang dan melelahkan. Waktu jadi terasa sangat berharga.
Mungkin karena itu, salah satu
momen paling menghangatkan buat saya justru datang setelah mereka sembuh, ketika
Ammar ikut menggambar di kantor dalam acara Family
Art Time yang diinisiasi oleh Workashopa. Sebuah momen kecil, tapi rasanya
seperti mengikat semua cerita Desember dalam satu tarikan napas: bahwa ruang-ruang
hangat seperti ITB Presstival bukan cuma merawat seni dan literasi, tapi juga
merawat manusia, keluarga, dan hidup yang kita jalani sehari-hari.
Ammar berpose dengan lukisannya
Ammar berpose di depan e-flyer acara yang dipandu papa
Oh iya, sebagai catatan, ada sedikit berita kurang baik yang terjadi di kantor. 10 orang karyawan dinyatakan 'lulus' dari kantor. Satu dari sedikit dinamika yang terjadi di kantor. Tapi apapun itu, waktu terus berjalan dan hidup harus terus dijalani, suka gak suka. Terima kasih Desember. Big love!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar