Rabu, 5 Agustus 2026, bertempat di The Hallway Space, Bandung, Under The Big Bright Yellow Sun (UTBBYS) menggelar sesi hearing session untuk album terbaru mereka, Virada. Diskusi menghadirkan pengamat musik Idhar Resmadi sebagai pembicara (selain tentunya para personil UTBBYS), dengan Ichsan Pratama dari Sunday Breaker Cult bertindak sebagai moderator.
Acara dibuka dengan pemutaran
lagu “Pangawit”, membawa para pendengar masuk lebih dulu
ke wilayah sonik post-rock yang menjadi rumah besar UTBBYS. Sampul album Virada sendiri turut menjadi perhatian, digarap
oleh seniman fotografi asal Bali, Yoga, menampilkan siluet seorang figur yang
berdiri sendiri di tengah laut menghadap cahaya matahari di horizon, sebuah
gambaran visual titik balik yang senyap namun kuat, sejalan dengan makna kata
"virada" itu sendiri yang lebih
kurang mempunyai arti balik arah atau titik balik dalam bahasa Portugis/Spanyol,
yang bisa juga diterjemahkan sebagai istilah pelayaran untuk manuver mengubah
haluan kapal (tacking).
Dalam pemaparannya, Idhar Resmadi menyoroti perubahan arah musikal UTBBYS dari masa ke masa. Ia menilai lapisan distorsi pada Virada tampil jauh lebih tebal dan lebih terasa lebih emosional dan personal. Meski warna bunyi berubah drastis, ia menegaskan bahwa struktur musikal UTBBYS sebagai band tetap konsisten pada karakter yang selama ini menjadi identitas mereka, sesuatu yang menurutnya membedakan UTBBYS dari band post-rock lain yang justru mengubah total arah bermusiknya. Sebagai pembanding, ia menyinggung langkah Explosions in the Sky lewat album The Wilderness, yang tiba-tiba merangkul elemen elektronik secara signifikan. UTBBYS, sebaliknya, memilih jalur berbeda: mempertahankan format band instrumental mereka, sambil tetap mendorong batas distorsi dan tekstur bunyi ke arah yang baru.
Diskusi kemudian bergeser ke isu yang lebih besar, yaitu posisi musik Indonesia, khususnya band-band instrumental/post-rock, di kancah global. Idhar mengangkat gagasan neolokalisme: bagaimana identitas lokal yang otentik justru menjadi kekuatan untuk menembus panggung dunia, alih-alih menjadi batasan. Hal ini berhubungan erat dengan pemilihan judul-judul lagu di album Virada, yang banyak menggunakan kata berbahasa Indonesia, bahkan bahasa daerah seperti lagu “Pangawit”.
Menurutnya, band seperti UTBBYS
punya peran membawa nama Indonesia sejajar dengan band-band post-rock dari
negara lain yang lebih dulu dikenal secara internasional. Kejujuran dalam
bermusik, bukan sekadar mengikuti tren, disebut sebagai fondasi yang membuat
sebuah karya bisa diterima lintas budaya, termasuk misalnya band asal Islandia, Sigur Ros yang
memasukan bahasa íslenska (Bahasa nasional Islandia-red) dalam lagu-lagunya.
Gagasan neolokalisme itu, kalau dalam konteks musik post-rock (atau
dalam hal ini lagu-lagu UTTBYS), sebenarnya juga bicara soal ruang bagi
identitas lokal untuk tetap bernapas dan tidak larut di tengah arus musik
global yang cenderung menyeragamkan segalanya. Di titik inilah kutipan Claude
Debussy yang berbunyi "Music is the space between the notes"
terasa relevan untuk dipinjam dalam konteks ini. Komponis Prancis itu, salah
satu tokoh paling berpengaruh dalam perkembangan musik klasik pada pergantian
abad ke-20 lewat gaya harmoni, warna bunyi, dan pendekatan inovatifnya yang
kerap dikaitkan dengan gerakan Impresionisme, meyakini bahwa makna sesungguhnya
dari musik justru lahir di ruang sunyi antar-nada, bukan pada nada itu sendiri.
Kejujuran lokal yang disinggung Idhar
pun sejatinya adalah ruang yang tidak diisi paksa demi mengikuti bentuk
musik (atau identitas bahasa
dari luar). Namun kemudian hal tersebut juga membuahkan pertanyaan tentang masih adakah
ruang semacam itu di tengah dunia yang serba cepat dan serba diukur oleh
algoritma?
Dari seluruh materi yang diputar
malam itu, jawaban paling nyata atas pertanyaan itu justru terdengar lewat lagu
“Merdeka”, yang menurut saya paling mencuri
perhatian. Bukan tanpa alasan, lagu ini dibangun dengan begitu banyak klimaks,
seolah band ini enggan berhenti pada satu puncak emosi saja. Setiap kali
dinamika mereda, muncul lonjakan baru yang lebih tebal, lebih pekat, sebelum
akhirnya reda lagi dan naik sekali lagi. Struktur berlapis semacam ini terasa
jadi representasi paling jelas dari pergeseran distorsi yang tadi disinggung Idhar, sekaligus bukti bahwa band
ini tidak takut membiarkan sebuah lagu bernapas panjang, mengisi ruang-ruang
sunyi di antara klimaksnya sendiri, untuk sampai pada titik baliknya.
Saya keluar dari ruangan malam itu membawa satu kesan, bahwa di tengah kebisingan algoritma yang terus mempercepat cara kita mendengarkan, masih ada yang memilih diam sejenak di ruang antar-nada, dan justru di situlah letak virada yang sesungguhnya.
Home



Tidak ada komentar:
Posting Komentar