Rabu, 31 Desember 2025

HIGHLIGHT BULAN DESEMBER 2025

Desember 2025 buat saya bukan bulan yang berjalan biasa. Hampir seluruh hari dihabiskan di ITB Press Store, menemani dan menghidupi ITB Presstival 2025 yang berlangsung dari 3 sampai 22 Desember. Hampir satu bulan penuh, toko di Jalan Ganesha itu terasa seperti rumah kedua yang penuh orang, penuh cerita, penuh obrolan, dan penuh energi yang datang dari berbagai arah.

Rangkaian kegiatan dimulai dari bedah buku. Lewat buku Dari Angka ke Kata, saya kembali diingatkan bahwa belajar tidak selalu tentang cepat atau benar, tapi tentang cara berpikir dan menjelaskan. Lalu buku Panduan Bertahan Tumbuh di ITB  hadir sebagai teman empatik bagi mahasiswa baru yang membicarakan adaptasi, kesehatan mental, dan cara merawat diri di masa transisi. Sementara buku Dapur Rock N Roll karya Leon Ray Legoh membuka wajah kreativitas dari ruang yang berbeda: musik dan dapur. Dari tiga buku ini, saya menarik satu benang merah: tumbuh itu bukan tentang hasil cepat, tapi tentang berani menjalani proses dengan yang kita yakini.

ITB Presstival kemudian bergerak ke banyak arah. Talkshow Brand Identity mengingatkan bahwa brand bukan sekadar logo dan strategi, tapi cerita, kepedulian, dan konsistensi yang dirawat pelan-pelan. Ada juga diskusi bareng komunitas seni Bandung yang memperlihatkan betapa pentingnya ruang belajar dan relasi yang dijaga agar ekosistem kreatif kota tetap hidup. Di sisi literasi, obrolan tentang sastra, toko buku, dan komunitas pembaca membuat saya merasa bahwa membaca dan menulis masih terus mencari bentuk-bentuk baru yang dekat dengan keseharian.

Salah satu momen yang saya tunggu adalah pemutaran film animasi hasil kolaborasi dengan Bandung Film Commission: Ada tiga film animasi yang diputar ketika itu, dari mulai Bandung 2045 karya Dava Gibran, Setra Sagara karya Aji Hermawan, dan Rana’Uko karya Daryl Wilson. Menonton animasi-animasi ini seperti diajak melihat kota, alam, dan manusia dari jarak yang lebih sunyi, tenang, tapi mengendap lama.

Ruang literasi anak juga hidup lewat kehadiran Litara, sementara Family Art Time yang diinisiasi oleh Workashopa menjadi salah satu ruang paling hangat di festival ini. Melihat anak-anak dan orang tua duduk bersama dan menggambar rasanya seperti melihat potongan kecil tentang bagaimana seni bisa menjadi ‘bahasa rumah’.

Kak Arul sedang mereview lukisan Ammar

Workshop demi workshop kemudian mengisi hari-hari kami. Komunitas Bormove menghadirkan seni sulam sebagai latihan ketelatenan dan ruang ekspresi. Tulsi Collective membuka kelas menulis yang terasa seperti ruang aman untuk mendengar diri sendiri. SPEC mengajarkan tentang merawat cerita lewat revisi dan ketekunan. Monokromonkey dan Zaidan Katsura membuka percakapan tentang desain karakter dan ilustrasi brand. Dua orang seniman ini menyoroti pentingnya referensi, konsistensi, dan keberanian bereksplorasi tanpa kehilangan arah industri.

Di ruang pameran, Coreng Moreng – Intercultural Exhibition mengajak kita melihat karya anak-anak dari berbagai negara, berdampingan dengan seniman undangan lainnya yang membuat saya kembali percaya bahwa seni memang berangkat dari goresan-goresan sederhana yang pelan-pelan tumbuh jadi bahasa yang saling terhubung.

Ammar berpose di depan karya para peserta pameran

Pembukaannya diiringi musik Panji Sakti. Dengan renungan-renungan kecil, jeda-jeda sunyi, dan momen kebersamaan bersama anaknya di atas panggung, musik terasa seperti doa yang dibagikan pelan-pelan. Rasanya begitu dekat dan hangat.


Sampai kemudian, selama hampir satu bulan digelar, gelaran ini kemudian ditutup lewat Konser Solidaritas Sumatra. The Panasdalam Bank, Ucup Prince, Somah & Orang Dalam, Jaka PW, dan Proyek Berdua membuat halaman belakang ITB Press Store penuh suara, tawa, dan nyanyian bersama, di mana musik bisa menjadi cara lain untuk mengajak kita untuk bergerak bersama, meski dengan langkah kecil.

Kebagian bertugas jadi MC

Di tengah semua itu, Desember juga memberi ujian personal. Ammar dan Nadja sempat harus dirawat di rumah sakit karena infeksi paru-paru. Ini seperti siklus yang berulang, karena akhir tahun 2024 lalu juga Ammar harus dirawat di rumah sakit. Di antara pekerjaan kantor, urusan rumah, dan bolak-balik rumah sakit, hari-hari terasa panjang dan melelahkan. Waktu jadi terasa sangat berharga.

Mungkin karena itu, salah satu momen paling menghangatkan buat saya justru datang setelah mereka sembuh, ketika Ammar ikut menggambar di kantor dalam acara Family Art Time yang diinisiasi oleh Workashopa. Sebuah momen kecil, tapi rasanya seperti mengikat semua cerita Desember dalam satu tarikan napas: bahwa ruang-ruang hangat seperti ITB Presstival bukan cuma merawat seni dan literasi, tapi juga merawat manusia, keluarga, dan hidup yang kita jalani sehari-hari. Terima kasih Desember. Big love!

Ammar berpose dengan lukisannya
Ammar berpose di depan e-flyer acara yang dipandu papa


Tidak ada komentar:

Posting Komentar