Senin, 25 Juni 2018

LIMA VOKALIS PALING MANGPRANG

Jika seorang drumer adalah orang yang berperan penting dalam fondasi musik sebuah band, maka seorang vokalis adalah tombak dalam band itu sendiri. Seperti halnya karakteristik tombak yang tajam, seorang vokalis pun harusnya bisa merepresentasikan ketajaman itu, baik dari cara dia menyanyikan ketajaman lirik dalam lagu-lagunya, sikapnya, maupun pergerakan yang dia buat dalam bandnya. Tidak hanya “garang” di atas panggung, namun juga bisa menularkan pergerakan yang baik, khususnya bagi penggemarnya. Karena musik yang baik adalah yang mampu menggerakan, dan tidak hanya sekedar hiburan atau selayang dengar saja. Lebih dari itu, musik harusnya bisa punya isian lebih dari sekedar kumpulan melodi yang dibalut harmoni saja. Dan seorang vokalis adalah orang yang bertugas membawa musiknya jadi punya sesuatu untuk disampaikan.

Adalah kata “Mangprang”, dalam bahasa sunda, yang dirasa sejalan dengan karakteristik tombak yang tajam tadi. Kata ini punya artian semangat yang berapi-api, juga berani dengan apa yang dia yakini dan suarakan.  Seorang vokalis yang punya karakter “Mangprang” dalam dirinya bisa terlihat dari sikap “keras kepalanya”, lewat penuturan dari caranya bernyanyi, bahkan diluar panggung, dengan semua pergerakan yang dia lakukan. 

Selasa, 19 Juni 2018

LEBARAN 1439 H/2018

Ada yang beda di lebaran tahun ini. Tahun ini saya tidak solat ied bersama keluarga saya, tapi bersama keluarga istri saya. Satu hal yang mungkin masih jadi lamunan bertahun-tahun lalu, ketika saya bertanya bagaimana rasanya merayakan lebaran bersama dengan pasangan. Hal itu terjadi tahun ini. Meskipun ada satu hal yang aneh, karena mungkin ini pertama kalinya saya solat ied tidak bersama keluarga. Sebuah perasaan yang bisa dibilang berlebihan, karena siangnya juga saya ke rumah ibu saya, sekalian ziarah ke makam papa saya, yang kali ini ada tambahan personil baru, istri saya dan calon anak saya, mau nengok kakeknya.  

Tapi sebelum ke rumah ibu, saya berkunjung ke rumah Wa Eni dulu. Nah Wa Eni ini bisa dibilang yang “dituakan”, dan kebetulan rumahnya bisa memfasiltasi tempat berkumpulnya keluarga besar istri saya. Surprisingly, keluarga besar istri saya itu memang besar dalam artian hitungan jumlah. Suasana kaya gini udah lama tidak saya rasakan, sejak meninggalnya nenek saya sekitar tahun 2009. Dulu juga tiap lebaran, saya bekumpul dengan keluarga besar ibu dan papa saya, yang dibagi dua wilayah, antara Cimahi, yang jadi kampung halaman ibu saya, dan Leuwi Panjang, yang jadi kampung halaman papa saya. Berkumpul di rumah Wa Eni, sedikit banyak bisa membawa lamunan saya ke memoar masa kecil saya pas lebaran. 

Kamis, 14 Juni 2018

SAHUR NIKMAT ON THE ROAD 2018, BANDUNG

Sahur Nikmat On The Road hadir di kota kedua, Bandung, setelah sebelumnya menebar keseruan di Purwakarta. Gelaran yang sudah memasuki tahun ketiganya ini, seperti punya magnet yang mendatangkan kerinduan tiap tahunnya, baik itu bagi para coklatfriends, atau bagi para pengisi acaranya itu sendiri. Band-band seperti Burgerkill atau Rosemary, yang notabene nya berasal dari Bandung ini, seakan pulang kampung, setelah sehari sebelumnya mereka tampil di Purwakarta. Dan kali ini, Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat, atau dikenal juga dengan nama Monumen Juang Bandung (Monju), menjadi tempat berkumpulnya mereka bersama para penggemarnya, dalam suasana keakraban, lewat penampilan akustik, juga beberapa kejutan menarik di SNOTR Bandung ini.
Ibarat  semangkok sop buah, yang di dalamnya berisikan berbagai macam jenis buah, yang berbeda-beda, namun bersama-sama dalam satu mangkok, dengan warna dan karakter rasa yang khas. Pun begitu dengan gelaran ini, dimana SNOTR 2018 ini tidak hanya meyajikan musik sebagai menu utamanya, namun banyak hal lainnya juga, yang kesemuanya penting dan menjadi poin menarik. Seperti halnya di awal acara, sebelum para talent ini tampil, beberapa orang diantaranya, seperti Gebeg, Abah Andris, band Rosemary, Ayushi, dan tim dari DCDC melakukan social invesment ke dua mesjid di sekitaran venue, Mesjid Hidaytullah dan Mesjid Al-Mu’min. Sampai sekira pukul 4 sore, para “guitar hero”, seperti Balum, Agung “Hellfrog”, Gan Gan, dan Hin Hin “akew”, dari AGC Music School, dengan skill musik bak dewa nya itu, sudah siap menghajar panggung, lengkap dengan ragam interpretasi dari keempatnya, mempresentasikan gaya dan teknik mereka dalam bermusik, khususnya dalam bermain gitar.

Sabtu, 02 Juni 2018

THE PANASDALAM BIKIN RUSUH DI GARUT

Tampil menjadi sajian terakhir gelaran DCDC Shout Out Ngabuburit di Garut, pada Jumat, 1 Juni 2018, The Panasdalam jadi band yang benar-benar bisa menggebrak panggung, baik itu secara istilah maupun secara harfiah, ketika Pidi Baiq benar-benar menggebrak meja, saat dia melompat dari panggung dan menyuruh penggemarnya bernyanyi bersama. Uniknya lagi, si ayah masih sempat menyalakan rokok, dan meminjam korek dari penonton. Kejadian ini tidak terduga, karena tiba-tiba saja dia melompat dan memberikan mic pada penonton. Sedangkan dia hanya memberi komando saja. Dengan gaya yang mengundang gelak tawa, si ayah ini sering lupa lirik-lirik lagu The Panasdalam, padahal dia sendiri yang membuat lagunya. Menurutnya dia lebih hafal Al-Quran dibanding lirik lagunya. Sontak saja ujaran itu disambut tawa penonton yang pecah.