Selasa, 30 Januari 2018

TIGA PULUH MENIT PERTAMA FASE KEPALA TIGA

Umur sepuluh tahun rasanya masalah terbesar hidup saya itu PR matematika. Waktu itu rasanya ngerjain soal Matematika itu susah banget. Saya pernah punya pikiran “nih orang dewasa enak banget hidupnya, bisa ketawa-ketawa di ruang tengah pada jam-jam saya kebingungan ngerjain PR matematika”. (gambarannya adalah papa saya lagi ngobrol sama temen kantornya, ketawa-ketawa sepulang kerja di ruangan tengah). Dulu saya mikirnya pengen jadi cepet gede biar bebas dari PR matematika. Enak jadi papa, ga harus berhadapan dengan PR matematika. Dia cuma berangkat kerja, ketawa-ketawa, terus dapet duit dari kantornya. Menggaris bawahi kata “cuma” pada padanan kalimat “dia (papa) cuma berangkat kerja”, yang belasan tahun kemudian saya sadari jika pekerjaan yang dia jalani itu bukan “cuma”.

Rabu, 03 Januari 2018

BEST OF 2017

Seperti halnya kamera yang bisa menangkap momen, dan membekukan waktu lewat tata cahaya yang terurai dengan warna-warni semesta, bersama dengan semburat senyum manusia dalam bingkai lensanya. Menulis juga memerankan peranan yang sama, ketika kata-kata yang bercerita membungkus sebuah romantisme, untuk bertahun-tahun kedepan kala membacanya kembali. Waktu seakan berhenti ketika huruf demi huruf dilafalkan menjadi sebuah kata, sampai kemudian jadi kalimat tentang sebuah kenangan masa lampau.

Lebih kurang 365 hari di 2017 sederet momen tercipta, dan menjadi alasan kenapa akhirnya saya menulis ini. Sebuah rangkuman tentang hal-hal baik yang terjadi di 2017, bersama orang-orang terkasih. Tentang sebuah kemurahan hati Tuhan saya, yang memberikan saya kebahagiaan, atas doa-doa yang satu-persatu terwujud. Tentang harapan-harapan yang satu-persatu menjadi kenyataan. Tentang sebuah romansa agar saya mampu berucap syukur atas semua yang terjadi, ketika setiap harinya adalah hadiah dariNya.

Sabtu, 21 Oktober 2017

HAPPY

Pas nulis ini saya sedang download video ultraman dan naruto pesenan si Liduel. Hampir setiap hari dia pinjam laptop atau HP saya untuk nonton video-video itu. Dia keliatan happy banget. Matanya antusias tiap kali melihat adegan dalam layar laptop atau HP saya. Menurut versi dia yang membuat happy itu ketika dia bisa nonton film ultraman atau naruto. Dia tidak pernah membayangkan untuk jalan-jalan ke lombok atau eropa sebagai alasan agar dia happy. Happy versi dia bukan seperti itu.

Lain lagi dengan saya. Saya bakal happy kalo jalanan ga macet. Video ultraman atau naruto tadi tidak bikin saya happy. Saya lebih happy melihat si Liduel happy dibanding dengan film yang sedang dia tonton. Dan ini akan terus berlanjut dengan artian happy versi tiap orang yang berbeda-beda, seperti misalnya adik saya yang baru bisa happy kalo persib menang. Atau ibu saya yang bakal happy kalo anaknya rajin solat.