Tadinya saya pikir menulis itu pekerjaan paling mudah. Tapi belakangan, menjadi yang paling susah dikerjakan. Padahal chatgpt dan claude siap membantu dengan semua kecanggihan yang mereka punya. Tapi anehnya, justru dengan semua kemudahan dan kecanggihan yang ditawarkan, kadang justru disitulah kenapa akhirnya menulis itu menjadi pekerjaan yang paling susah dikerjakan. Lebih tepatnya susah menemukan bentuk utuh dari sebuah tulisan.
Dulu, saya menulis karena suka,
dan karena suka akhirnya menulis jadi mudah. Suka, mudah, dan penuh suka cita
ketika melakukannya. Berbanding terbalik ketika itu akhirnya menjadi pekerjaan.
Apalagi belakangan ini menulis sudah bukan lagi tentang apa yang saya suka,
tapi tentang apa yang saya harus lakukan. Menulis tentang promosi, penawaran,
branding, dan semua hal yang berhubungan dengan jualan dan citra yang ingin
diperlihatkan perusahaan.
Tentu saja ini menjadi sesuatu
yang munafik, ketika saya mengutuk apa yang saya kerjakan, tapi di sisi lain
saya menerima upah dari apa yang saya kutuk ini. Dan disitulah kemudian menulis
menjadi pekerjaan yang susah dikerjakan, karena kemudian saya menulis untuk
orang lain, bukan untuk saya.
Tahun 2012 saya menulis sebuah
buku tentang apa yang saya pikirkan, rasakan, dan semua daya hayal yang saya
tuangkan dalam coretan-coretan apa adanya. Tanpa edit, tanpa berpikir apakah
penulisannya benar atau apakah kaidah berbahasanya sudah baik dan benar. Tidak
ada sama sekali. Bukan karena ingin tampil berbeda, tapi memang ilmunya belum
nyampe kesana. Uniknya, buku itu malah direspon cukup baik. Bahkan seorang
kenalan menjadikannya bahan untuk skripsinya. Belasan tahun kemudian ketika
saya pikir ilmu dan kemampuan menulis saya sudah cukup baik dan meningkat,
kemudian saya kehilangan kesenangan itu.
Satu-satunya tempat saya bisa
menulis dengan apa adanya rasanya hanya di blog ini. Itu pun sayangnya
belakangan ini jarang saya lakukan, karena intensitas pekerjaan yang padat, dan
laptop yang biasa saya pakai untuk nulis rusak. Bukan apa-apa, rasanya aneh aja
kalau saya menulis sesuatu di luar kerjaan menggunakan PC di kantor. Jadi
selama laptop itu rusak, maka selama itu pula postingan di blog ini
terbengkalai.
Sekarang mumpung laptop sudah diperbaiki, dan ada waktu luang untuk menulis sesuatu di blog, jadi saatnya mengingat apa yang sudah dikerjakan selama dua bulan ini, untuk kemudian dirangkum jadi sebuah highlight yang bisa dibaca lagi beberapa tahun ke depan, entah oleh saya atau anak anak saya kelak.
Jika ada hal menarik lagi di
bulan Juni, rasanya ketika Ammar dan Nadja ikut papanya meliput acara anak-anak
FSRD ITB di area CFD Dago, yang kemudian dilanjutkan dengan main ke kantor ITB
Press dan makan di Imah Babaturan. Hal-hal seperti ini semoga saja bisa melekat
di ingatan Ammar dan Nadja, agar mereka tahu kalau papa mamanya ini amat sayang
pada mereka.
Berlanjut ke urusan pekerjaan, bulan Mei – Juni ini saya cukup disibukan dengan ragam acara dari mulai Literatorium Festival, hingga keriaan di Pulang Kampus ITB. Dan oh iya, keseruan pameran anak-anak baru FSRD juga cukup seru, terlebih bisa melihat secara langsung eksplorasi kreatif mereka di bidang seni rupa, dan oh iya bonusnya bisa berfoto dengan Morgue Vanguard alias Ucok 'Homicide', di tengah acara pameran karya anak FSRD haha. Kebetulan anak beliau, Ababil merupakan mahasiswa baru di fakultas FSRD ITB (sedikit interview dengan Abil bisa dibaca di sini). Selebihnya, hari-hari berjalan seperti biasa, lengkap dengan kemacetan yang menjadi makanan sehari-hari saya.
Yang cukup menarik untuk dipajang di blog ini adalah ketika saya dipercaya sebagai moderator untuk sebuah acara komunitas yang digagas oleh teman saya, Haris. Kebetulan setahun belakangan ini, saya dan Haris dipercaya untuk mengasuh channel youtube Popstore TV, dan acara ini merupakan versi offline dari acara Popstore TV itu. Menyenangkan dan jadi pengalaman baru juga.
Selain itu, saya juga dipercaya menjadi show director untuk acara Pulang Kampus ITB. Ini juga jadi pengalaman seru juga, setelah sebelumnya, sekitar dua tahun lalu, saya juga dipercaya menjadi show director untuk acara launching ITB Press Mobile Store.
Home






.jpeg)





.jpeg)
.jpeg)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar