Rabu, 01 Juli 2026

HIGHLIGHT BULAN MEI-JUNI 2026

Tadinya saya pikir menulis itu pekerjaan paling mudah. Tapi belakangan, menjadi yang paling susah dikerjakan. Padahal chatgpt dan claude siap membantu dengan semua kecanggihan yang mereka punya. Tapi anehnya, justru dengan semua kemudahan dan kecanggihan yang ditawarkan, kadang justru disitulah kenapa akhirnya menulis itu menjadi pekerjaan yang paling susah dikerjakan. Lebih tepatnya susah menemukan bentuk utuh dari sebuah tulisan.

Dulu, saya menulis karena suka, dan karena suka akhirnya menulis jadi mudah. Suka, mudah, dan penuh suka cita ketika melakukannya. Berbanding terbalik ketika itu akhirnya menjadi pekerjaan. Apalagi belakangan ini menulis sudah bukan lagi tentang apa yang saya suka, tapi tentang apa yang saya harus lakukan. Menulis tentang promosi, penawaran, branding, dan semua hal yang berhubungan dengan jualan dan citra yang ingin diperlihatkan perusahaan.

Tentu saja ini menjadi sesuatu yang munafik, ketika saya mengutuk apa yang saya kerjakan, tapi di sisi lain saya menerima upah dari apa yang saya kutuk ini. Dan disitulah kemudian menulis menjadi pekerjaan yang susah dikerjakan. Karena kemudian saya menulis untuk orang lain, bukan untuk saya.

Tahun 2012 saya menulis sebuah buku tentang apa yang saya pikirkan, rasakan, dan semua daya hayal yang saya tuangkan dalam coretan-coretan apa adanya. Tanpa edit, tanpa berpikir apakah penulisannya benar atau apakah kaidah berbahasanya sudah baik dan benar. Tidak ada sama sekali. Bukan karena ingin tampil berbeda, tapi memang ilmunya belum nyampe kesana. Uniknya, buku itu malah direspon cukup baik. Bahkan seorang kenalan menjadikannya bahan untuk skripsinya. Belasan tahun kemudian ketika saya pikir ilmu dan kemampuan menulis saya sudah cukup baik dan meningkat, kemudian saya kehilangan kesenangan itu.

Satu-satunya tempat saya bisa menulis dengan apa adanya rasanya hanya di blog ini. Itu pun sayangnya belakangan ini jarang saya lakukan, karena intensitas pekerjaan yang padat, dan laptop yang biasa saya pakai untuk nulis rusak. Bukan apa-apa, rasanya aneh aja kalau saya menulis sesuatu di luar kerjaan menggunakan PC di kantor. Jadi selama laptop itu rusak, maka selama itu pula postingan di blog ini terbengkalai.

Sekarang mumpung laptop sudah diperbaiki, dan ada waktu luang untuk menulis sesuatu di blog, jadi saatnya mengingat apa yang sudah dikerjakan selama dua bulan ini, untuk kemudian dirangkum jadi sebuah highlight untuk dibaca lagi beberapa tahun ke belakang, entah oleh saya atau anak anak saya kelak.

Bulan Mei hal yang saya pikir perlu untuk menjadi highlight adalah saat saya, Nadja, dan istri saya jalan-jalan di seputaran Bandung. Kami berkeliling ke jalan ABC, Kosambi, dan sempat makan di Warung Bu Imas. Pulang dengan oleh-oleh sepatu baru buat Nadja, dan kacamata buat mama-nya. Dan oh iya, ngomongin anak bungsu saya, Nadja, bulan Mei ini juga untuk kali pertamanya Nadja ikutan sekolah alam. Senang rasanya melihat si bungsu bisa merasakan pengalaman main ke alam dan sempat ngasih makan domba juga haha. 


Selain itu, bulan Mei ditutup oleh keseruan Ammar menjajal sepeda barunya. Jika bulan April lalu ditutup dengan Nadja yang menjajal sepeda barunya, maka bulan Mei ditutup dengan keseruan Ammar bareng sepeda barunya. Alhamdulillah dikasih rejeki bisa beli sepeda untuk Ammar dan Nadja.


Masuk bulan Juni, selain dihabiskan dengan urusan pekerjaan dan sesekali jalan-jalan, pada bulan ini pula Ammar berhasil menyelesaikan pendidikannya di kelas 1 SD. Tentunya ada haru dan bangga melihat Ammar sudah sampai dititik ini, mengingat sebagai ayahnya, saya tahu persis bagaimana Ammar memulai semuanya dari umur tiga tahun, saat dokter memvonisnya speach delay, hingga kemudian  saya dan istri berinisiatif menyekolahkan dia di TK. Semoga kedepannya Ammar makin menikmati hari-harinya di sekolah. Soal nilai atau prestasi bukan yang utama, karena yang terpenting dia menikmati hari-harinya di sekolah.

Aa dapat hadiah karena naik kelas. Adiknya gak mau kalah minta hadiah juga 

Jika ada hal menarik lagi di bulan Juni, rasanya ketika Ammar dan Nadja ikut papanya meliput acara anak-anak FSRD ITB di area CFD Dago, yang kemudian dilanjutkan dengan main ke kantor ITB Press dan makan di Imah Babaturan. Hal-hal seperti ini semoga saja bisa melekat di ingatan Ammar dan Nadja, agar mereka tahu kalau papa mamanya ini amat sayang pada mereka.

Berpose di fitting room ITB Press Store
Berpose di Imah Babaturan

Berlanjut ke urusan pekerjaan, bulan Mei – Juni ini saya cukup disibukan dengan ragam acara dari mulai Literatorium Festival, hingga keriaan di Pulang Kampus ITB. Dan oh iya, keseruan pameran anak-anak baru FSRD juga cukup seru, terlebih bisa melihat secara langsung eksplorasi kreatif mereka di bidang seni rupa. Selebihnya, hari-hari berjalan seperti biasa, lengkap dengan kemacetan yang menjadi makanan sehari-hari saya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar