Sabtu, 22 April 2023

LEBARAN 1444 H/2023

Sepertinya menuliskan momen lebaran mulai menjadi kebiasaan saya setiap tahunnya. Tak terkecuali tahun ini. Hari lebaran menjadi momen penting diantara ratusan hari lainnya, bahkan dibanding hari ulang tahun saya yang semakin hari semakin menyeramkan. Tiga puluh lima tahun hidup dengan pencapaian yang segini-gini saja, rasanya setiap bertambah usia terasa semakin menakutkan. Target target yang seringkali tidak tercapai, atau pun waktu yang masih enggan berpihak, jadi beberapa alasan kenapa momen bertambah usia menjadi semakin menakutkan. Tapi tidak dengan lebaran. Lebaran seperti selalu punya banyak alasan kenapa hari besar ini layak untuk dirayakan. Hari lebaran seperti selalu punya cara untuk bisa menyembuhkan.

Akhir tahun lalu, harusnya saya sudah merilis buku. Dengan semua dinamika dan masalah yang terjadi akhirnya itu tidak kejadian. Padahal itu salah satu mimpi besar yang ingin saya wujudkan. Tapi kemudian lebaran menyembuhkan saya. Hari ini datang dengan barisan keluarga yang siap memeluk saya seperti apapun kondisi saya.


Mungkin banyak di luar sana yang melihat saya sebagai seorang penulis, mungkin juga sebagai seorang anak band, sebagai seorang pekerja kreatif, atau seorang lainnya dengan embel-embel yang menempel di saya. Tapi keluarga melihat saya hanya sebagai saya. Seandainya saya kemudian bergelar Profesor doktor insinyur pun mereka melihat saya hanya sebagai bagian dari keluarga. Dan itu yang penting. Keluarga selalu ada dan melihat saya apa adanya. Baik buruk di diri saya, saya pikir hanya kepada mereka lah saya pulang, dan hanya mereka lah yang selalu memberi senyuman dan pelukan setiap kali saya pulang. Lebaran memberikan hal itu setiap tahunnya.

Lebaran tahun ini berbeda karena menjelang hari besar ini saya tidak direpotkan dengan perasaan cemas karena notifikasi pesan WhatsApp yang mengatakan apa THR sudah turun apa belum, karena pada tahun ini pula saya memutuskan untuk resign dari perusahaan tempat saya bekerja. Tentu ini tidak mudah, tapi juga melegakan untuk saya. Karena salah satu alasan saya resign pun juga karena keluarga. Anak saya yang paling besar mulai sering protes papa nya keseringan kerja dibanding menemani dia bermain. Istri saya sering terlihat kecapean mengurus dua anak kami. Ditambah sekalinya punya waktu libur kadang hanya saya gunakan untuk tidur karena kelelahan bekerja. Bertahun-tahun mungkin saya absen sebagai salah satu bagian dari keluarga, karena harus berkutat dengan urusan pekerjaan. Hal itu kemudian menjadi dilema, sampai akhirnya saya memutuskan untuk berhenti dari tempat saya kerja dan memilih kerja di rumah membangun bisnis coco donuts bareng istri saya. Sama-sama melelahkan, tapi setidaknya istri dan anak saya merasakan kehadiran saya di rumah.

Tentunya setiap orang punya pilihan dan setiap pilihan tentu ada konsekuensi yang harus dijalani pula. Pun begitu dengan saya. Konsekuensi saya resign dari kantor yakni tidak lagi mendapatkan gaji dan uang tambahan dari apa yang saya kerjakan di kantor tersebut. Hari-hari berikutnya juga dirasa cukup berat karena ternyata menjalankan bisnis itu banyak juga drama dan dinamikanya. Tidak mudah karena benturan itu selalu ada, dan tidak pula selalu berjalan mulus. Ada saja hal yang membuat kami (saya dan istri saya) beradu pendapat sampai bertengkar hebat kala menjalankan bisnis ini. Tapi nyatanya kami selalu bisa melewatinya.

Seperti lebaran tahun-tahun sebelumnya, hari raya ini selalu menjadi refleksi buat saya. Sudah sejauh apa saya berjalan menuju Tuhan saya. Apakah lebaran kemudian menjadi selebrasi atau refleksi diri?

Bagi anak saya lebaran punya arti lain lagi, karena baginya lebaran hanya sesederhana dia bisa berkumpul sama sepupu dan keluarga besarnya. Lebaran akan menjadi milik dia selama bertahun tahun, seperti halnya saya dulu ketika belum berhadapan dengan besarnya tanggung jawab sebagai seorang suami dan ayah. Dan mungkin hal ini pula lah yang dirasakan ayah saya dulu. Tiga belas tahun setelah kepergian ayah saya, giliran saya yang merasakan hal ini. Kadang setiap tahunnya saya berharap bisa bertemu dengan ayah saya. Ngobrol banyak hal tentang bagaimana rasanya menjadi suami dan seorang ayah. Ngobrol banyak hal kalau cucunya yang paling kecil sudah cerewet dan mulai tidak bisa diam.

Waktu menunjukan pukul dua dini hari ketika saya hendak menyudahi menulis ini. Istri saya mulai kebangun karena anak saya yang paling kecil menangis. Lagi-lagi tidurnya harus terganggu dengan tangisan si kecil. Itu artinya saya harus benar-benar menyudahi menulis ini, memastikan apakah istri saya perlu bantuan atau tidak.

Menutup curhat lebaran ini, saya ingin menuliskan permintaan maaf kepada siapapun yang kebetulan membaca ini, terlebih bagi orang yang kenal dengan saya. Sengaja atau tidak, rasanya kesalahan kata dan perbuatan dari saya selalu saja ada. Dengan segala kerendahan hati saya meminta maaf dan mendoakan semoga ada begitu banyak cinta yang bisa kita bagikan. Semoga keikhlasan saling memaafkan sejalan dengan keinginan untuk upgrade diri jadi lebih baik. Big love

Banjaran, 22 April 2023


Tidak ada komentar:

Posting Komentar