Saya selalu sependapat dengan
pernyataan tentang hari lebaran yang berbanding lurus dengan suka cita. Rasanya
memang setiap hari lebaran selalu diisi dengan suka cita, terlebih ketika momen
bersama keluarga. Katanya, harta yang paling berharga itu keluarga. Setuju sih.
Ya mau gimana lagi, memang pada akhirnya semua orang akan ‘pulang’ ke
keluarganya. Tahun lalu, adik saya ‘pulang’ ke keluarganya, setelah lebih
kurang sepuluh tahun dia ‘pergi’ dengan dunianya sendiri di dalam kamar. Tahun lalu,
hari lebaran menunjukan keajaibannya lewat adik saya.
Seperti tahun lalu dan tahun
tahun sebelumnya, lebaran selalu memberikan keajaibannya. Sedikit kilas balik
pada tahun 2004 ketika saya SMA. Kala itu saya protes karena tidak ingin
sekolah SMA, dan hanya ingin sekolah musik. Papa tidak setuju, sampai akhirnya
saya kabur ke rumah nenek di luar kota Bandung. Sekian lama disana, sampai
akhirnya saya menemukan kehangatan keluarga kembali pada hari lebaran. Sujud meminta
maaf sama papa, sampai akhirnya papa mengalah dan menyekolahkan saya di sekolah
musik.
Gobloknya saya, setelah papa
mengalah untuk mengikuti keinginan saya sekolah musik, malah sekolah saya kacau
balau. Sanggahannya sih saya beralasan jika sekolah musik ternyata membuat saya
membenci musik, karena ternyata bayangan saya akan dunia musik dan ‘how to
become musician’ tidak tergambarkan disini. Maklum, referensi saat itu Green
Day dan band-band punk 'suka suka', sedangkan di sekolah semua murid tekun ngulik
Dream Theater, dengan semua keribetan rock progresif-nya. Ada gap antara
selera/idealisme bermusik saya dengan pola pengajaran di sekolah ahahaha, maklum
masih muda dan sok tahu. Alibi saya mungkin kuat, tapi tidak bisa dibenarkan
juga, karena disana ada hati orang tua yang saya kecewakan.