Senin, 30 Maret 2026

LEBARAN 1447 H/2026

“Di balik takbir yang berkumandang, ada harapan-harapan yang kembali dilahirkan.” Pagi itu, suara takbir seperti membuka sesuatu yang lama terlipat di dalam diri. Bukan sekadar gema dari pengeras suara, tapi seperti panggilan yang mengingatkan bahwa ada hal-hal yang perlu dipeluk kembali seperti keluarga, kenangan, dan mungkin, versi diri yang sempat tertinggal.

Adalah sebuah rumah yang saya tinggali sejak tahun 1998 lalu. Sebuah tempat yang selalu punya cara sederhana untuk membuat segalanya terasa utuh. Rasanya, shalat ied di sana bukan hanya tentang menunaikan kewajiban, tapi juga tentang kembali merasakan hangat yang tidak pernah benar-benar hilang.

Selasa, 08 April 2025

LEBARAN 1446 H/2025

Menuliskan cerita Lebaran biasanya saya lakukan di rumah, malam setelah hari pertama usai. Tapi berbeda dengan tahun ini. Rasanya energi untuk menulis tidak sebesar biasanya. Mungkin karena hari-hari terasa lebih padat—sibuk mengurus dua bocil kesayangan, Ammar dan Nadja, atau mungkin karena terlalu asyik mengedit foto di ChatGPT, hahaha.

Beberapa waktu terakhir, kegiatan menulis memang lebih banyak dilatari urusan pekerjaan. Mulai dari tugas untuk website dan majalah ITB Press, hingga proyek-proyek luar seperti menulis press release dan menjadi ghostwriter untuk beberapa buku 'pesanan'. Menulis untuk kesenangan pribadi pun jadi sedikit terpinggirkan, padahal itu penting. Apalagi kalau soal Lebaran, yang buat saya selalu membawa kesenangan dan kenikmatan khas yang hanya hadir setahun sekali.

Sama seperti tahun lalu, hari pertama Lebaran saya mulai dengan salat Id di komplek Damar Mas. Lalu setelahnya, berkunjung ke rumah Wa Eni, sebelum akhirnya menuju rumah ibu saya pada siang harinya. 

Keluarga Coco

Kamis, 11 April 2024

LEBARAN 1445 H/2024

Katanya, menulis adalah pekerjaan untuk membekukan waktu. Katanya lagi, jangan pernah membuat sakit hati penulis karena hal itu akan abadi dalam tulisannya. Kalau perasaan sakit bisa menjadi abadi dalam sebuah tulisan, maka sebaliknya, perasaan senang juga bisa menjadi abadi dalam sebuah tulisan. Lebaran menjadi satu momen di mana hal tersebut selalu ingin saya abadikan dalam tulisan saya. 10 atau 20 tahun kemudian ketika membacanya kembali, maka waktu akan berhenti atau kembali ke masa-masa momen istimewa ini berlangsung. Dan ya, lebaran akan selalu istimewa dengan semua ceritanya. Tak terkecuali lebaran tahun ini.

Lebaran atau Idul Fitri 1445 Hijriah ini menjadi momen saya dan anak pertama saya, Ammar lumayan intens untuk ibadah bareng, dari mulai shalat tarawih pas bulan Ramadhan, sampai shalat ied pada hari lebaran tiba. Ammar mungkin belum mengerti betapa istimewanya bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri, namun semoga kebersamaan yang saya bangun bareng dia bisa membekas di ingatannya, hingga setiap kali dia ingat bulan suci Ramadhan dan Lebaran dia akan mengingat papa-nya.


Sabtu, 22 April 2023

LEBARAN 1444 H/2023

Sepertinya menuliskan momen lebaran mulai menjadi kebiasaan saya setiap tahunnya. Tak terkecuali tahun ini. Hari lebaran menjadi momen penting diantara ratusan hari lainnya, bahkan dibanding hari ulang tahun saya yang semakin hari semakin menyeramkan. Tiga puluh lima tahun hidup dengan pencapaian yang segini-gini saja, rasanya setiap bertambah usia terasa semakin menakutkan. Target target yang seringkali tidak tercapai, atau pun waktu yang masih enggan berpihak, jadi beberapa alasan kenapa momen bertambah usia menjadi semakin menakutkan. Tapi tidak dengan lebaran. Lebaran seperti selalu punya banyak alasan kenapa hari besar ini layak untuk dirayakan. Hari lebaran seperti selalu punya cara untuk bisa menyembuhkan.

Akhir tahun lalu, harusnya saya sudah merilis buku. Dengan semua dinamika dan masalah yang terjadi akhirnya itu tidak kejadian. Padahal itu salah satu mimpi besar yang ingin saya wujudkan. Tapi kemudian lebaran menyembuhkan saya. Hari ini datang dengan barisan keluarga yang siap memeluk saya seperti apapun kondisi saya.


Mungkin banyak di luar sana yang melihat saya sebagai seorang penulis, mungkin juga sebagai seorang anak band, sebagai seorang pekerja kreatif, atau seorang lainnya dengan embel-embel yang menempel di saya. Tapi keluarga melihat saya hanya sebagai saya. Seandainya saya kemudian bergelar Profesor doktor insinyur pun mereka melihat saya hanya sebagai bagian dari keluarga. Dan itu yang penting. Keluarga selalu ada dan melihat saya apa adanya. Baik buruk di diri saya, saya pikir hanya kepada mereka lah saya pulang, dan hanya mereka lah yang selalu memberi senyuman dan pelukan setiap kali saya pulang. Lebaran memberikan hal itu setiap tahunnya.

Jumat, 06 Mei 2022

LEBARAN 1443 H/2022

Saya selalu sependapat dengan pernyataan tentang hari lebaran yang berbanding lurus dengan suka cita. Rasanya memang setiap hari lebaran selalu diisi dengan suka cita, terlebih ketika momen bersama keluarga. Katanya, harta yang paling berharga itu keluarga. Setuju sih. Ya mau gimana lagi, memang pada akhirnya semua orang akan ‘pulang’ ke keluarganya. Tahun lalu, adik saya ‘pulang’ ke keluarganya, setelah lebih kurang sepuluh tahun dia ‘pergi’ dengan dunianya sendiri di dalam kamar. Tahun lalu, hari lebaran menunjukan keajaibannya lewat adik saya.

Seperti tahun lalu dan tahun tahun sebelumnya, lebaran selalu memberikan keajaibannya. Sedikit kilas balik pada tahun 2004 ketika saya SMA. Kala itu saya protes karena tidak ingin sekolah SMA, dan hanya ingin sekolah musik. Papa tidak setuju, sampai akhirnya saya kabur ke rumah nenek di luar kota Bandung. Sekian lama disana, sampai akhirnya saya menemukan kehangatan keluarga kembali pada hari lebaran. Sujud meminta maaf sama papa, sampai akhirnya papa mengalah dan menyekolahkan saya di sekolah musik.

Gobloknya saya, setelah papa mengalah untuk mengikuti keinginan saya sekolah musik, malah sekolah saya kacau balau. Sanggahannya sih saya beralasan jika sekolah musik ternyata membuat saya membenci musik, karena ternyata bayangan saya akan dunia musik dan ‘how to become musician’ tidak tergambarkan disini. Maklum, referensi saat itu Green Day dan band-band punk 'suka suka', sedangkan di sekolah semua murid tekun ngulik Dream Theater, dengan semua keribetan rock progresif-nya. Ada gap antara selera/idealisme bermusik saya dengan pola pengajaran di sekolah ahahaha, maklum masih muda dan sok tahu. Alibi saya mungkin kuat, tapi tidak bisa dibenarkan juga, karena disana ada hati orang tua yang saya kecewakan.

Senin, 17 Mei 2021

LEBARAN 1442 H/2021

Kamu mau ikut main atau mau di rumah aja?

Kalo kamu kenal aku pasti kamu tahu jawabannya

Lalu pergilah istri saya sambil bawa si koko kecil pake motor. Istri saya tahu dan mungkin cape dengan sifat mager saya. Susah banget diajak jalan-jalan, karena lebih seneng di rumah, nonton film, denger lagu, atau apapun yang tidak mengharuskan saya berinteraksi dengan orang lain. Dibilang introvert, ngga juga kayaknya. Eh definisi introvert tuh apa sih? Tertutup dan ga mau cerita ke orang? nah kalo saya mah terbuka dan mau cerita ke orang, cuma males gerak aja buat sesuatu yang saya sebenernya ga suka. Piknik dan jalan jalan itu kegiatan yang saya kurang suka. Karena sebenernya saya lebih suka tidur-tiduran. Tapi pas punya anak, ternyata itu tuh kurang bagus buat perkembangan si anak. Maaf ya ko, lain kali papa bakalan lebih semangat lagi menjalani hidup, hehehe.

Tulisan ini dibuat pas di rumah sendirian, terus pas mau ngetik kerjaan tapi udah beres, karena tadi subuh dua artikel sudah diselesaikan dengan mudahnya. Maklum, 10 tahun nulis artikel musik, makin kesini nulis musik makin tidak ada tantangannya. Wahahaha sombong. Tapi beneran, karena nulis musik kemudian jadi template (salahkan band dan musisi yang males bikin isu) jadinya berita seputaran musik tidak jauh dari rilis single atau album. Yang rada mengagetkan paling pas kemaren ada berita Naif bubar. Itu lumayan sih bikin kaget, karena seperti halnya band band lainnya yang besar di kampus, biasanya awet karena udah temenan lama sebelum ngeband bareng. Ngga nyangka ternyata mereka memilih untuk bubar. Tapi ya namanya udah stuck, daripada dipaksain terus hasilnya kurang bagus, saya pikir memilih untuk bubar bukan keputusan yang buruk.

Rabu, 05 Juni 2019

MALAM LEBARAN DI BANJARAN

Pukul tiga dini hari saya menulis ini, di rumah kontrakan yang saya tinggali bersama istri dan anak saya, yang lagi lucu-lucunya. Menulis menjadi kewajiban sekaligus hiburan untuk saya. Satu jam sebelumnya saya sedang berjibaku menyelesaikan artikel untuk website dimana saya bekerja. Satu jam setelahnya, saya menulis ini, karena ada yang harus saya tuangkan dalam bentuk tulisan, yang rencananya akan saya unggah di blog saya yang sepi. Bagus. Karena jika ramai, akan jadi polemik. Saya tidak suka berpolemik, berdebat, atau beradu argumen. Melelahkan. Mengherankan ketika banyak orang beradu argumen menyuarakan kebenaran yang dia yakini. 

Kebenaran versi dia tentunya bukan kebenaran yang mutlak, karena memang tidak ada yang mutlak selama itu keluar dari pikiran dan mulut manusia. Keterbatasan pengetahuan dan kemampuan nalar yang terbatas tidak akan sanggup menerjemahkan apa yang Tuhan ingin sampaikan. Mungkin hanya dengan kerendahan hati yang sangat besar yang bisa menangkap maksud dari yang ingin disampaikan oleh Tuhan. Itu pun hanya sedikit. 

Selasa, 19 Juni 2018

LEBARAN 1439 H/2018

Ada yang beda di lebaran tahun ini. Tahun ini saya tidak solat ied bersama keluarga saya, tapi bersama keluarga istri saya. Satu hal yang mungkin masih jadi lamunan bertahun-tahun lalu, ketika saya bertanya bagaimana rasanya merayakan lebaran bersama dengan pasangan. Hal itu terjadi tahun ini. Meskipun ada satu hal yang aneh, karena mungkin ini pertama kalinya saya solat ied tidak bersama keluarga. Sebuah perasaan yang bisa dibilang berlebihan, karena siangnya juga saya ke rumah ibu saya, sekalian ziarah ke makam papa saya, yang kali ini ada tambahan personil baru, istri saya dan calon anak saya, mau nengok kakeknya.  

Tapi sebelum ke rumah ibu, saya berkunjung ke rumah Wa Eni dulu. Nah Wa Eni ini bisa dibilang yang “dituakan”, dan kebetulan rumahnya bisa memfasiltasi tempat berkumpulnya keluarga besar istri saya. Surprisingly, keluarga besar istri saya itu memang besar dalam artian hitungan jumlah. Suasana kaya gini udah lama tidak saya rasakan, sejak meninggalnya nenek saya sekitar tahun 2009. Dulu juga tiap lebaran, saya bekumpul dengan keluarga besar ibu dan papa saya, yang dibagi dua wilayah, antara Cimahi, yang jadi kampung halaman ibu saya, dan Leuwi Panjang, yang jadi kampung halaman papa saya. Berkumpul di rumah Wa Eni, sedikit banyak bisa membawa lamunan saya ke memoar masa kecil saya pas lebaran. 

Jumat, 30 Juni 2017

LEBARAN 1438/2017

   
The Diputra's And The Foto Ngeblur

Sabtu, 18 Juli 2015