Saya ingat dulu, pas zaman-zamannya suka ngeband, impian terbesar saya itu punya album, bisa manggung ke mana-mana, dan punya duit banyak dari bermusik. Sampai detik ini hal itu tidak pernah kesampaian. Beberapa orang bilang saya cukup bagus dalam membuat lagu, sampai akhirnya saya PD untuk bermusik. Saya merasa punya cukup bakat dalam bermusik. Sayangnya itu terasa naif, karena setelah dijalani saya merasa masih terlalu jauh untuk bisa disebut musisi, hahaha.
Saya memang sekolah musik, dan
skill bermusik pun tidak nol-nol amat, tapi rasanya masih terlalu jauh untuk
bisa menjadi musisi, apalagi bermimpi bisa sukses dari musik. Perlahan mimpi
itu saya tinggalkan, hingga akhirnya saya bekerja seperti kebanyakan orang.
Menjadi karyawan selama belasan tahun nyatanya belum bisa membawa saya ke titik hidup yang "nyaman". Makin lama makin tidak nyaman, karena nyatanya saya menjalani pekerjaan yang jauh dari mimpi, namun tetap saja tidak membuahkan hidup yang nyaman. Inginnya sih bisa hidup dari musik, atau jualan lagu, haha. Atau dari menulis, lalu naskahnya dijadikan film dan sukses. Tapi lagi-lagi itu terasa terlalu naif.
Sebagai seorang manusia, saya
merasa payah dalam banyak hal, kecuali bagi anak-anak saya yang kerap bangga
sama papanya. Entah kenapa, itu terasa cukup buat saya. Selama ada mereka,
rasanya saya jadi punya alasan untuk terus bertahan. Rasanya, jika tidak ada
pelukan dari mereka setiap saya hendak berangkat kerja, hari-hari terasa sangat
berat dijalani, dengan kemacetan di mana-mana, pekerjaan yang jauh dari mimpi
saya, atau pun hal-hal kecil yang entah kenapa terasa tidak berpihak pada saya.
Niatnya mau menulis rangkuman
bulan Juli kemarin, tapi entah kenapa rasanya bulan Juli lalu tidak ada hal
yang cukup melekat di ingatan atau meninggalkan kesan. Yang saya ingat hanya
pekerjaan-pekerjaan yang, semakin ke sini, semakin malas saya lakukan. Memang
ada hal-hal cukup menyenangkan yang terjadi, seperti ketika saya mulai aktif
podcast lagi, atau menghabiskan waktu bareng keluarga, tapi entah kenapa ada
kekosongan di jiwa saya, seperti saya tidak menemukan esensi dari kemampuan saya
sebagai seorang individu. Inginnya sih saya menemukan keseruan dari kemampuan
saya yang sebenarnya, entah itu dari musik atau menulis, bukan dari rutinitas
yang saya jalani sehari-hari.
Rasanya ingin sekali bersyukur
dengan semua yang saya jalani, karena katanya sebagai manusia kita hanya
menjalani apa yang sudah ditetapkan Yang Maha Kuasa. Tapi, gimana ya, ruang
kosong itu masih belum juga terisi dengan keseruan dan alasan yang kuat kenapa
saya harus menjalani hidup. Tapi, balik lagi, selama anak-anak saya ada di
pihak saya, rasanya itu sudah cukup. Saya tidak bisa membayangkan hidup tanpa
mereka, mungkin hidup saya jadi makin kosong saja.
Pagi tadi saya menyaksikan anak
saya, Nadja, sudah bisa mengendarai sepeda roda dua pada usianya yang baru
menginjak 4 tahun. Itu membanggakan dan melegakan untuk saya, karena nyatanya
anak saya punya kemampuan yang jauh lebih baik dari saya. Dulu saya baru bisa
naik sepeda roda dua saat kelas 4 SD, sedangkan dia sudah bisa di umur empat tahun.
Hal-hal kecil seperti itu selalu saya syukuri, karena itu artinya anak-anak saya lebih baik dari saya. Tidak ada yang lebih menyenangkan dan melegakan selain mengetahui kalau anak-anak saya bisa lebih baik dari saya. Harapannya, mereka bisa hidup lebih baik dari saya.
Dengan semua kepayahan saya,
satu-satunya yang harus dimaksimalkan adalah cinta yang terus mengalir untuk
mereka. Karena ketika mereka kelak dewasa dan merasa dunia tidak berpihak pada
mereka, mereka bisa membaca ini, dan mengetahui kalau papanya akan selalu ada
di pihak mereka, mendukung mereka, seperti apa pun keadaan mereka.
Sementara itu, ini ada beberapa foto yang saya ambil dari riwayat chat WhatsApp dengan istri saya selama bulan Juli 2026. Karena tidak ingin menjadi hamba yang mengkufuri nikmat, tentunya saya bersyukur untuk semua yang telah terjadi. Semoga, kalau pun tidak hari ini, besok atau lain hari dunia bisa berpihak pada saya.
Ciherang, 9 Agustus 2026
Home

.jpeg)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar