Rabu, 11 Februari 2026

MELIPUT PAMERAN URBAN FUTURES

Forum Multipihak Sistem Pangan Kota Bandung yang dirangkaikan dengan Pameran Urban Futures bertajuk “Bibit Ka Jati” digelar pada Selasa, 10 Februari 2026, bertempat di Bumi Sangkuriang, Bandung. ITB Press meliput langsung jalannya kegiatan yang mempertemukan unsur pemerintah, komunitas, akademisi, media, pelaku usaha, serta orang muda dalam satu rangkaian agenda kolaboratif yang menempatkan pangan sebagai isu lintas sektor dan lintas generasi.

Sejak pagi hari, area pameran telah dihidupkan oleh beragam program, praktik baik, dan inisiatif dari anggota konsorsium Urban Futures, sebuah program Yayasan Humanis yang berfokus pada penguatan ketahanan pangan. Melalui pendekatan kuratorial yang edukatif dan partisipatif, pengunjung diajak melihat pangan tidak semata sebagai hasil akhir yang tersaji di meja makan, melainkan sebagai sebuah sistem yang panjang dan berkaitan dengan produksi, distribusi, konsumsi, hingga pengelolaan limbah.

Gagasan ini disampaikan oleh Andri, Co-fasilitator Pameran Bibit Ka Jati. Ia menjelaskan bahwa pameran ini dirancang untuk membuka kesadaran publik tentang proses pangan yang kerap luput dari perhatian konsumen. Untuk memperkuat pengalaman belajar tersebut, setiap pengunjung dibekali kartu misi yang mendorong mereka mengunjungi seluruh stan pameran.

Pameran Bibit Ka Jati dibagi ke dalam empat zona yang merepresentasikan rantai pangan secara utuh. Zona produksi diisi oleh Seni Tani, yang berfokus pada produksi pangan dan pemberdayaan petani lokal. Zona distribusi menghadirkan Simpul Pangan serta Article 33, yang menyoroti strategi distribusi pangan yang efektif, efisien, dan ramah lingkungan. Zona konsumsi menampilkan UMKM muda dan konsorsium KOPAJA (Koalisi Pangan dan Jaringan Orang Muda), yang memberikan edukasi gizi seimbang sekaligus menyajikan pangan lokal khas Sunda. Sementara itu, zona pengolahan limbah diisi oleh WRI (World Resources Institute), yang mengedukasi pengunjung tentang pengelolaan limbah pangan dan praktik berkelanjutan. Di akhir rangkaian pameran, pengunjung mendapatkan cendera mata sebagai penanda partisipasi.

Salah satu isu yang mengemuka dalam forum ini adalah tantangan distribusi pangan perkotaan. Kota Bandung masih sangat bergantung pada pasokan pangan dari luar wilayah, sementara keterbatasan lahan menjadi persoalan yang tidak terelakkan. Dari konteks inilah diperkenalkan alternatif Community Supported Agriculture (CSA) sebagai model yang dinilai mampu memperkuat relasi langsung antara produsen dan konsumen.


Dalam sesi diskusi ini, dua orang muda yang terlibat langsung dalam produksi dan distribusi pangan perkotaan, Fania dan Fatan menjelaskan bahwa CSA lahir dari kegelisahan terhadap sistem pasar yang kerap tidak berpihak pada petani kecil. Melalui skema ini, pangan diproduksi oleh petani kota dan diserap langsung oleh warga kota dalam relasi komunitas yang saling mendukung. Fatan menambahkan pengalaman menghadapi tantangan produksi di lahan terbatas, ketidakpastian iklim, serta inovasi input pertanian dengan memanfaatkan sampah organik rumah tangga dan ampas kopi dari kedai kopi di Bandung. Perspektif konsumen turut melengkapi diskusi melalui pengalaman Irene, anggota CSA. Ia memaknai keterlibatannya sebagai relasi jangka panjang dengan petani dan alam. Menurutnya, konsumen perlu belajar menerima keberagaman bentuk pangan, mengurangi food loss, serta mengubah pola konsumsi yang selama ini dibentuk oleh standar estetika pasar modern.

Forum ini juga mengaitkan berbagai program strategis Kota Bandung agar dapat dilihat sebagai satu kesatuan sistem yang ditahbiskan/diberi nama oleh Wali Kota Bandung sebagai Forum KARASA (Kang PismAn, buRuan sAe, dapur daShAt). Tiga hal yang menjadi tantangan kota Bandung.

Kang Pisman (Kurangi, Pisahkan, dan Manfaatkan) diposisikan sebagai fondasi pengelolaan sampah, khususnya sampah organik yang dapat diolah kembali menjadi kompos dan media tanam. Dari proses ini, praktik pertanian perkotaan dikembangkan melalui Buruan SAE, yang mendorong warga memanfaatkan pekarangan dan lahan terbatas untuk menghasilkan pangan secara mandiri. Sementara itu, DASHAT (Dapur Sehat Atasi Stunting) memperkuat aspek perbaikan gizi, sehingga sistem pangan tidak hanya berbicara tentang ketersediaan, tetapi juga kualitas konsumsi.

Dalam diskusi dijelaskan bahwa pembangunan sistem pangan kota tidak dapat dilakukan secara sektoral. Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci, mengingat persoalan pangan berkaitan erat dengan lingkungan, kesehatan, dan ketahanan sosial. Pandangan ini diperkuat oleh perwakilan pemerintah, Ahmad Wahyudin (Analis Ketahanan Pangan Ahli Madya di Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung) yang menyoroti tingginya ketergantungan pangan Kota Bandung terhadap wilayah lain serta besarnya kontribusi sampah makanan terhadap krisis persampahan kota.

Capaian Buruan SAE turut disampaikan sebagai contoh praktik baik yang telah memperoleh pengakuan internasional melalui berbagai penghargaan. Pengakuan ini menunjukkan bahwa inisiatif pangan berbasis warga dari Kota Bandung memiliki relevansi dan daya tarik di tingkat global, sekaligus membuktikan bahwa pendekatan komunitas dapat menjadi bagian penting dari solusi sistem pangan perkotaan.

Menjelang siang, kegiatan berlanjut dalam jamuan makan bertajuk “Pangan Bercerita”. Di sela-sela santap siang, Nadya Gadzali (penulis/pemerhati budaya yang menekuni isu gastronomi dan ketahanan pangan) memandu peserta memahami setiap hidangan yang disajikan, mulai dari pembuka hingga penutup. Melalui narasi yang disampaikan, makanan dihadirkan sebagai bahasa budaya yang merekam sejarah, nilai ekologis, serta relasi manusia dengan alam.


Nadya menyinggung tradisi Sunda yang menempatkan pangan dalam keseimbangan ekologis dan kearifan lokal, seperti pemanfaatan umbi-umbian sebagai living storage dan prinsip konsumsi secukupnya untuk meminimalkan sisa. Hidangan utama yang disajikan, seperti nasi empal, dijelaskan sebagai hasil strategi adaptif masyarakat Sunda dalam menghadapi keterbatasan pangan, sekaligus cerminan sejarah panjang teknik pengolahan pangan Nusantara. Melalui penjelasan ini, jamuan makan tidak hanya menjadi aktivitas konsumsi, tetapi juga ruang pembelajaran dan refleksi bersama.

Suasana meja makan mempertemukan beragam latar belakang dari mulai masyarakat sipil, akademisi, pelaku usaha, hingga media dalam dialog yang cair dan setara. Percakapan yang terjalin memperkuat semangat kolaborasi yang menjadi inti forum, sekaligus menegaskan bahwa transformasi sistem pangan tidak hanya dibangun lewat kebijakan dan diskusi formal, tetapi juga melalui pengalaman bersama dan kesadaran konsumsi.

Secara keseluruhan, Forum Multipihak Sistem Pangan Kota Bandung dan Pameran Urban Futures “Bibit Ka Jati” dirancang sebagai ekosistem edukatif yang memperlihatkan keterkaitan seluruh rantai pangan dari hulu ke hilir. Dengan melibatkan berbagai konsorsium dan pendekatan partisipatif, kegiatan ini menegaskan bahwa ketahanan pangan kota hanya dapat terwujud melalui pemahaman bersama, kolaborasi lintas sektor, serta praktik berkelanjutan yang menempatkan warga sebagai aktor utama.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar