Forum Multipihak Sistem Pangan Kota Bandung yang dirangkaikan dengan Pameran Urban Futures bertajuk “Bibit Ka Jati” digelar pada Selasa, 10 Februari 2026, bertempat di Bumi Sangkuriang, Bandung. ITB Press meliput langsung jalannya kegiatan yang mempertemukan unsur pemerintah, komunitas, akademisi, media, pelaku usaha, serta orang muda dalam satu rangkaian agenda kolaboratif yang menempatkan pangan sebagai isu lintas sektor dan lintas generasi.
Sejak pagi hari, area pameran
telah dihidupkan oleh beragam program, praktik baik, dan inisiatif dari anggota
konsorsium Urban Futures, sebuah program Yayasan Humanis yang berfokus pada
penguatan ketahanan pangan. Melalui pendekatan kuratorial yang edukatif dan
partisipatif, pengunjung diajak melihat pangan tidak semata sebagai hasil akhir
yang tersaji di meja makan, melainkan sebagai sebuah sistem yang panjang dan
berkaitan dengan produksi, distribusi, konsumsi, hingga pengelolaan limbah.
Gagasan ini disampaikan oleh
Andri, Co-fasilitator Pameran Bibit Ka Jati. Ia menjelaskan bahwa pameran ini
dirancang untuk membuka kesadaran publik tentang proses pangan yang kerap luput
dari perhatian konsumen. Untuk memperkuat pengalaman belajar tersebut, setiap
pengunjung dibekali kartu misi yang mendorong mereka mengunjungi seluruh stan
pameran.
Salah satu isu yang mengemuka
dalam forum ini adalah tantangan distribusi pangan perkotaan. Kota Bandung
masih sangat bergantung pada pasokan pangan dari luar wilayah, sementara
keterbatasan lahan menjadi persoalan yang tidak terelakkan. Dari konteks inilah
diperkenalkan alternatif Community Supported Agriculture (CSA) sebagai model
yang dinilai mampu memperkuat relasi langsung antara produsen dan konsumen.
Dalam sesi diskusi ini, dua orang muda yang terlibat langsung dalam produksi dan distribusi pangan perkotaan, Fania dan Fatan menjelaskan bahwa CSA lahir dari kegelisahan terhadap sistem pasar yang kerap tidak berpihak pada petani kecil. Melalui skema ini, pangan diproduksi oleh petani kota dan diserap langsung oleh warga kota dalam relasi komunitas yang saling mendukung. Fatan menambahkan pengalaman menghadapi tantangan produksi di lahan terbatas, ketidakpastian iklim, serta inovasi input pertanian dengan memanfaatkan sampah organik rumah tangga dan ampas kopi dari kedai kopi di Bandung. Perspektif konsumen turut melengkapi diskusi melalui pengalaman Irene, anggota CSA. Ia memaknai keterlibatannya sebagai relasi jangka panjang dengan petani dan alam. Menurutnya, konsumen perlu belajar menerima keberagaman bentuk pangan, mengurangi food loss, serta mengubah pola konsumsi yang selama ini dibentuk oleh standar estetika pasar modern.
Forum ini juga mengaitkan
berbagai program strategis Kota Bandung agar dapat dilihat sebagai satu
kesatuan sistem yang ditahbiskan/diberi nama oleh Wali Kota Bandung sebagai
Forum KARASA (Kang PismAn, buRuan sAe, dapur daShAt). Tiga hal yang menjadi
tantangan kota Bandung.
Kang Pisman (Kurangi, Pisahkan,
dan Manfaatkan) diposisikan sebagai fondasi pengelolaan sampah, khususnya
sampah organik yang dapat diolah kembali menjadi kompos dan media tanam. Dari
proses ini, praktik pertanian perkotaan dikembangkan melalui Buruan SAE, yang
mendorong warga memanfaatkan pekarangan dan lahan terbatas untuk menghasilkan
pangan secara mandiri. Sementara itu, DASHAT (Dapur Sehat Atasi Stunting)
memperkuat aspek perbaikan gizi, sehingga sistem pangan tidak hanya berbicara
tentang ketersediaan, tetapi juga kualitas konsumsi.
Dalam diskusi dijelaskan bahwa
pembangunan sistem pangan kota tidak dapat dilakukan secara sektoral.
Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci, mengingat persoalan pangan berkaitan
erat dengan lingkungan, kesehatan, dan ketahanan sosial. Pandangan ini
diperkuat oleh perwakilan pemerintah, Ahmad Wahyudin (Analis Ketahanan Pangan
Ahli Madya di Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung) yang
menyoroti tingginya ketergantungan pangan Kota Bandung terhadap wilayah lain
serta besarnya kontribusi sampah makanan terhadap krisis persampahan kota.
Capaian Buruan SAE turut
disampaikan sebagai contoh praktik baik yang telah memperoleh pengakuan
internasional melalui berbagai penghargaan. Pengakuan ini menunjukkan bahwa
inisiatif pangan berbasis warga dari Kota Bandung memiliki relevansi dan daya
tarik di tingkat global, sekaligus membuktikan bahwa pendekatan komunitas dapat
menjadi bagian penting dari solusi sistem pangan perkotaan.
Menjelang siang, kegiatan
berlanjut dalam jamuan makan bertajuk “Pangan Bercerita”. Di sela-sela santap
siang, Nadya Gadzali (penulis/pemerhati budaya yang menekuni isu gastronomi dan
ketahanan pangan) memandu peserta memahami setiap hidangan yang disajikan,
mulai dari pembuka hingga penutup. Melalui narasi yang disampaikan, makanan
dihadirkan sebagai bahasa budaya yang merekam sejarah, nilai ekologis, serta
relasi manusia dengan alam.
Nadya menyinggung tradisi Sunda yang menempatkan pangan dalam keseimbangan ekologis dan kearifan lokal, seperti pemanfaatan umbi-umbian sebagai living storage dan prinsip konsumsi secukupnya untuk meminimalkan sisa. Hidangan utama yang disajikan, seperti nasi empal, dijelaskan sebagai hasil strategi adaptif masyarakat Sunda dalam menghadapi keterbatasan pangan, sekaligus cerminan sejarah panjang teknik pengolahan pangan Nusantara. Melalui penjelasan ini, jamuan makan tidak hanya menjadi aktivitas konsumsi, tetapi juga ruang pembelajaran dan refleksi bersama.
Suasana meja makan mempertemukan beragam latar belakang dari mulai masyarakat sipil, akademisi, pelaku usaha, hingga media dalam dialog yang cair dan setara. Percakapan yang terjalin memperkuat semangat kolaborasi yang menjadi inti forum, sekaligus menegaskan bahwa transformasi sistem pangan tidak hanya dibangun lewat kebijakan dan diskusi formal, tetapi juga melalui pengalaman bersama dan kesadaran konsumsi.
Secara keseluruhan, Forum
Multipihak Sistem Pangan Kota Bandung dan Pameran Urban Futures “Bibit Ka Jati”
dirancang sebagai ekosistem edukatif yang memperlihatkan keterkaitan seluruh
rantai pangan dari hulu ke hilir. Dengan melibatkan berbagai konsorsium dan
pendekatan partisipatif, kegiatan ini menegaskan bahwa ketahanan pangan kota
hanya dapat terwujud melalui pemahaman bersama, kolaborasi lintas sektor, serta
praktik berkelanjutan yang menempatkan warga sebagai aktor utama.
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar