Rabu, 28 Februari 2024

MENGURUSI EVENT KEMBALI

Sepertinya ada sekitar 15 menit saya menatap layar monitor. Semakin kesini menulis jadi semakin susah. Entah semakin susah atau semakin malas. Padahal dulu setiap mau nulis bisa niat banget ke warnet, karena dulu di rumah belum ada komputer, bahkan ketika sudah ada komputer pun tetap harus berjalan kaki ke warnet demi mengunggahnya ke blog. Lalu pernah juga niat banget menjadi jurnalis lepas untuk media lokal Bandung tanpa bayaran sama sekali, padahal saya melakukan perjalanan sangat jauh dari rumah di daerah Soreang ke tempat konser di Dago Tea House. Kalau orang Bandung pasti tahu sejauh apa jarak Soreang ke Dago Tea House.

Semua ‘perjuangan’ itu baru kebayar bertahun-tahun setelahnya ketika surat kabar Pikiran Rakyat mau membayar tulisan saya sebesar 250 ribu untuk satu artikel. Lalu setelahnya saya banyak mendapat tawaran menulis, hingga ‘puncaknya’ pada tahun 2017 ketika saya bergabung dengan Atap Promotion dan ditugasi menjadi jurnalis untuk media DCDC. 

Uniknya, selama kurang lebih 6 tahun kerja disana, nyatanya pekerjaan saya tidak hanya meliputi urusan tulis menulis saja, karena disana saya juga saya mengerjakan pekerjaan lainnya yang berhubungan dengan penyelenggaraan acara. Singkatnya, Atap Promotion merupakan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang event organizer dan digital agency. Di kantor itu ada team yang biasa mengurusi urusan event dan urusan digital. Saya sebenarnya tergabung di team digital, di mana jobdesk utamanya mengurusi urusan content website, sosial media, atau pun hal lainnya yang berhubungan dengan kebutuhan content digital dari klien yang bekerja sama dengan Atap Promotion. Namun belakangan, saya juga kadang diminta gabung jadi team event.

Saya ingat pertama kali gabung di team event ketika saya ditugasi jadi fotografer untuk acara SILABUD alias Silaturahmi Budaya bersama Coklatkita. Dulu saya ditugasi memotret orang yang ingin berfoto dengan Budi Cilok. Foto dilakukan di sebuah booth yang dibuat secara khusus dan hasilnya bisa langsung dicetak untuk kenang-kenangan. Setelahnya saya ditugasi mengurusi ticketing untuk konser band Beside di Bikasoga, Bandung. Lalu, kembali menjadi fotografer untuk acara Coklat Retro, Sehari Bersama Coklat Kita, hingga DCDC Shout Out Day. Belakangan, sekitar dua atau tiga tahun sebelum saya resign dari Atap saya sering dilibatkan menjadi showcom.

Kenapa bisa menjadi showcom sepertinya hal ini bermula dari seringnya saya diminta menulis script untuk acara-acara virtual pada musim pandemi. Hal itu kemudian berlanjut ketika saya juga diminta menulis script untuk MC di event-event off air. Karena dirasa menguasai knowledge program dan informasi lainnya yang tertulis, maka saya kemudian dipercaya menjadi showcom yang membantu MC menjalankan acara sesuai arahan dari show director.

Sekira satu tahun setelah resign dari Atap, saya kemudian bekerja di ITB Press. Disana saya kembali diminta mengurusi event-event off air, serta beberapa program seperti podcast yang dibuat untuk kebutuhan aktivasi dan branding dari ITB Press itu sendiri. Kurang lebih dua bulan kerja disana, sampai lah saya pada sebuah event launching ITB Press Mobile Store yang digelar pada Kamis, 22 Februari lalu. Disana saya ditugasi menjadi show director yang juga merangkap menjadi showcom, karena keterbatasan jumlah team.

Nampang dikit biar keliatan kerja hihhi. Jepretan foto dari Kang Ardy Fauzi Ridwan

Selama 6 tahun di Atap, baru kali ini saya dipercaya menjadi show director, dan itu menarik buat saya, apalagi beberapa hari sebelum hari H saya juga ditugasi membuat RAB acara, menulis Terms Of Reference acara, membuat rundown, sampai mengurusi talent-talent yang akan tampil di acara tersebut. Capek, tapi kalau mau mikir lebih jauh lagi, ya lagi-lagi saya unlock skill baru. Sama seperti di Atap, ketika bayangan saya hanya berkutat di urusan tulis menulis, ternyata saya juga diminta jadi produser bahkan host, yang mana secara skill mungkin terasa nanggung dan biasa-biasa saja, tapi bagusnya saya bisa unlock skill terus. Menyenangkan. Jadi mikir, lumayanlah saya jadi orang gak zonk zonk amat, masih bisa melakukan sesuatu yang berguna hahaha.

Balik ke acara launching ITB Press Mobile Store, liputan lengkapnya bisa dibaca disini. Yang pengen saya tulis disini itu kejadian menjelang maghrib, di mana acara terpaksa harus dihentikan karena hujan. Celakanya, The Panasdalam Bank yang jadi headliner acara belum tampil. Disitulah tugas saya sebagai show director diuji hahaha. Saya melihat di tenda talent The Panasdalam Bank sedang berkumpul, nyanyi-nyanyi, dan senda gurau seperti biasa layaknya orang sunda yang suka bercanda. Sama sekali tidak tampak mood yang jelek dari semua personilnya, meskipun mereka batal tampil karena hujan. Dari tenda talent saya kemudian berjalan-jalan ke sekitaran area kampus, sampai akhirnya saya menemukan parkiran lantai dua dan menemukan ide “gimana kalau misalnya The Panasdalam Bank” tampil di parkiran lantai dua ini. Tempatnya indoor dan terbebas dari hujan. Hanya saja, kalau mereka tampil sepertinya tidak memungkinkan untuk memboyong sound system kesana.

 

Saya kemudian berdiskusi dengan Pak Alga, vokalis The Panasdalam, gimana kalau seandainya The Panasdalam tampil di parkiran lantai dua tanpa sound system. Uniknya, dia menyetujui dengan pertimbangan jika penampilan mereka cukup untuk kebutuhan konten saja. Awalnya konsep ini hanya akan mengambil footage video The Panasdalam perform saja tanpa penonton, karena memang hanya untuk kebutuhan konten dan promo kaos kolaborasi antara The Panasdalam Bank dan ITB Press. Tapi kemudian saya bertemu seseorang dari kota Garut yang jauh-jauh ke Jatinangor hanya untuk menyaksikan penampilan dari The Panasdalam. Melihat itu saya punya ide lagi buat mengajak penonton menyaksikan The Panasdalam Bank, meskipun tanpa sound system. Luar  biasanya, semuanya tampak happy, The Panasdalam tampil maksimal dan penonton pun tampak antusias menyaksikannya. Intim, hangat, dan berkesan. Khususnya untuk saya pribadi, karena bisa menonton The Panasdalam Bank ditengah keterbatasan yang ada. Angkat topi untuk mereka. 

Menyenangkan bisa terlibat di event pertama saya bersama ITB Press. Semoga bisa terus mendapatkan kesempatan untuk terus belajar, atau mungkin kedepannya bisa unlock skill lagi? Semoga ada umur panjang untuk bisa berproses jadi lebih baik. Sampai jumpa di event berikutnya! 

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar