Senin, 23 Januari 2023

13 LAGU PALING ‘STUCK IN MY HEAD’ SELAMA NULIS DI DCDC

Lebih kurang lima tahun nulis di media DCDC pastinya ada banyak banget lagu yang saya dengerin. Setiap harinya ada banyak press release yang masuk ke redaksi yang mau karyanya saya naikin di website DCDC. Kesempatan mendengarkan lagu kemudian makin intens ketika saya juga menjadi kurator untuk artikel DCDC Playlist Of The Week sekaligus jadi produser untuk program DCDC Chart di DCDC Radio.

Karena DCDC itu konteksnya lagu-lagu ‘indie lokal’, jadi 100 persen lagu-lagu yang saya dengar selama lima tahun ini juga semuanya berasal dari Indonesia. Dan itu menyenangkan sekaligus membuka perspectif tersendiri soal geliat musik lokal selama lima tahun belakangan ini. Jadi kalo ada yang bilang musik Indonesia ga ada perkembangan atau ‘gini-gini aja’ itu mah sudah dipastikan tidak mengikuti geliat skena musik lokal, khususnya –so called- indie. Ada banyak banget sebenarnya, dan menariknya tidak hanya berpusat di kota-kota besar kaya Jakarta atau Bandung saja, tapi merata, bahkan ada satu band asal Samarinda dan Makassar yang saya suka banget.

Nah, dari ribuan lagu yang saya dengar setiap harinya, setidaknya ada 13 lagu yang benar-benar nempel di kepala saya. Pilihan ini jelas subjektif karena 13 lagu ini masuk dalam selera saya dalam menyimak musik. Kenapa 13 lagu? Tidak ada alasan khusus sih, cuma memang pas niat nulis ini, 13 lagu ini lah yang ada di pikiran saya. Lagu apa saja? check it out.  

OSCAR LOLANG – “EASTERN MAN”

Seumur hidup saya setidaknya saya hanya menggemari dua lagu berformat akustik yang benar-benar masuk selera saya; yang pertama lagu “Mr. Tambourine Man” dari Bob Dylan, dan yang kedua lagu “Good Riddance (Time Of Your Life)” dari Green Day. Saya jarang suka musik-musik berformat akustik. Sampai akhirnya Oscar Lolang datang dengan lagu “Eastern Man” nya. Secara ‘nafas’ lagu ini mengingatkan saya pada Dylan, namun dengan kekhasan Oscar tentu saja. Liriknya sangat berani menuliskan aparat sebagai tokoh antagonis di lagu ini. Ditambah suara dan pembawaan/cara bernyanyi Oscar yang getir dan seperti menahan amarah di lagu ini, hingga sanggup membakar nyali siapapun yang mendengarnya untuk berjalan beriringan melawan ketimpangan, bahkan untuk seseorang dengan nyali kecil seperti saya.

Fun Fact: saya pernah bertemu Oscar dan mewawancarai dia untuk program DCDC Musik Kita di GTV. Uniknya, Oscar punya sisi lucu ketika dia ternyata hobi menirukan gaya bicara musisi lain, seperti misalnya Acin ‘The Panturas’ atau vokalis Loner Lunar, Kane.

MURPHY RADIO – “SPORTS BETWEEN TRENCHES”

Sebelumnya saya tidak pernah tahu apa itu math rock, sampai akhirnya press release dari band asal Samarinda ini muncul di meja redaksi. Yang saya pikirkan ketika pertama kali mendengarkannya seperti mendengar band-band progresif rock namun tanpa distorsi. Menjadi menarik karena dengan ketukan/birama yang terus berubah, teknik singkup dimana-mana, sampai teknik gitar taping yang jadi senjata utama di lagu ini begitu harmonis terdengar, meskipun tanpa isian vokal. Rasanya seperti ketika saya mendengarkan musik post rock untuk pertama kali. Langsung jatuh cinta meski tanpa lirik dan vokal, karena musik semacam ini sanggup membangun suasana. Menyenangkan melihat mereka bermain musik. Meski terdengar rumit namun masih bisa dinikmati.

LEFTYFISH – “MEAT VS GINGER”

Suatu hari saya pernah berkunjung ke rumah teman, dan diperdengarkan dengan lagu-lagu At The Drive-In. Gila eksplorasi musikalnya rumit dan keren banget. Tapi meski begitu saya menangkap masih ada pola yang mereka buat dalam musik rumit yang mereka hadirkan. Sampai akhirnya ada band asal Jogja bernama  Leftyfish yang meneror dengan lagu “Meat VS Ginger” nya ini. Gilanya lagi, teror mereka kemudian bertambah tidak masuk akal kala mereka merilis album ‘HELLO KITTIE'S SPANK’. Musiknya benar-benar tidak bisa ditebak dan penuh teror dimana-mana, seperti ketika kita sedang diburu pembunuh bayaran yang siap menghujamkan golok di leher kita. Lagu ini tidak memberi kita ruang untuk bernafas. Karena setiap detiknya selalu dihujani dengan kejutan.

Fun Fact: saya pernah dikasih CD ‘HELLO KITTIE'S SPANK’ oleh gitaris Leftyfish, Halim Budiono. Cover artworknya menarik dan bahkan terpilih menjadi “Lima Sampul Album Terkeren 2018 Versi DCDC”, karena berhasil menghadirkan teror yang uniknya diwakili lewat gambar-gambar karakter boneka lucu yang dikombinasikan dengan gergaji mesin, kapak, golok, serta ceceran darah dimana-mana.

DENISA – “19”

Jujur saja, salah satu bahan obrolan saya dengan istri saya ketika masih berpacaran itu ngomongin Frou Frou atau Imogen Heap. Kami menggemari lagu-lagunya. Saya tidak pernah kepikiran kalau sampai ada musisi lokal yang bisa mengingatkan saya pada Frou Frou atau Imogen Heap. Yup, Denisa sanggup mengingatkan saya pada kekhasan Frou Frou atau Imogen Heap namun dalam konteks lokal, yang pastinya tidak kalah bagus, dan malah dalam beberapa isian musiknya terdengar lebih baik. Jika ada pertanyaan tentang seperti apa musik modern harus disajikan, saya pikir jawabannya ada di lagu-lagu Denisa. Balutan elektronik yang cukup kentara bertemu dengan warna vokal Denisa yang sanggup menjadi candu itu jadi satu kenikmatan tersendiri sih. Eargasm. Selain lagu “19” ini, ada satu lagu lagi dari Denisa yang terdengar canggih banget ketika dia berkolaborasi dengan Mothern di lagu “Circles”.

.FEAST ft RAYSSA DYNTA – “PEMAKAMAN/BERITA KEHILANGAN”

Lagu ini canggih sih menurut saya. Ya, lepas dari band ini yang kerap dicap terlalu ingin terlihat ‘berwacana’ atau bahkan pretensius, saya kayaknya harus mengakui kalau band ini punya banyak energi untuk membuat musik rock yang eksploratif. Detail isian musik yang mereka buat sering memberi kenikmatan tersendiri di kuping saya, termasuk isian gitar di lagu ini. Banyak detai-detail kecil yang seru untuk disimak.

GLASKACA – “ATOM”

Saya pikir band ini isinya produser-produser musik handal semua, karena jika dilihat dari komposisi, aransemen, dan produksi musik terdengar canggih. Setidaknya, ada dua nama yang cukup dikenal sebagai produser musik handal di tanah air. Dias Widjajanto alias Tradeto dan Rayhan Noor yang bisa dibilang banyak menjadi aktor intelektual dibalik lagu-lagu rilisan Sun Eater. Tidak heran jika produksi lagu ini juga pada outputnya terdengar bagus. Tidak selamanya memang produksi musik yang bagus bisa menghasilkan output yang juga bagus kalau lagunya tidak ‘berbicara’ tentang sesuatu yang bisa meresap dalam hati dan pikiran pendengarnya. Namun untuk Glaskaca, mereka punya paket komplit di karyanya ini.

LONER LUNAR – “WAR IN MY MIND”

Sinematik. Itu mungkin yang bisa saya gambarkan dari musik Loner Lunar. Vokalnya Kane benar-benar menghanyutkan di lagu ini, bahkan di semua lagu-lagu Loner Lunar, termasuk ketika band ini berkolaborasi dengan Hindia di lagu “Fin”. Musik yang mereka buat dapat dengan mudah memancing imajinasi kita untuk menghubungkannya dengan sebuah film. Mereka bisa menempatkan musiknya jadi sajian yang megah dan naik turunnya seru, sampai akhirnya ketika Kane menyanyikan bagian kata/lirik “war in my mind” itu klimaks sih.

HINDIA ft RARA SEKAR – “MEMBASUH”

Secara karakter kayaknya saya kurang suka dengan pembawaan Baskara hahaha, namun sialnya secara karya saya merupakan salah satu penikmat karyanya, dari mulai .Feast, Hindia, bahkan Lomba Sihir. Sejauh pendengaran saya soal Hindia, saya pikir lagu ini yang paling nempel. Alasannya? Tentu saja karena liriknya dan ada Rara Sekar nya. Saya memang penggemar Rara Sekar, jadi ketika dia jadi ‘tamu’ di lagu ini, itu udah pasti saya suka sih hahaha. Sesederhana itu sebenarnya.

THE SUGAR SPUN – “WAR”

Dengerin The Sugar Spun kaya dengerin Glaskaca. Bukan soal jenis atau warna musiknya, tapi cara mereka memproduksi lagunya yang sangat rapi dan bagus. Sama kaya Glaskaca juga, band ini juga diisi sama produser-produser handal, jadi ga heran kalo kepekaan mereka meramu musik terbilang jempolan. Selain musik, lirik lagu ini juga menarik karena mereka menganalogikan perang dengan konteks perang di dalam pikiran menerka apa yang dirasakan si pujaan hati. Klasik tapi nyatanya cerita seperti itu selalu menarik untuk diangkat ke permukaan hahaha.

Fun Fact: saking sukanya dengan produksi rekaman mereka, saya bahkan menghubungi salah satu personil The Sugar Spun, Ghidaf untuk memproduseri lagu saya. Gayung bersambut dan tinggal menunggu waktu saja. Semoga dan amin.

PORTREE – “PERIWINKLE”

Secara personal saya kenal betul dengan vokalis di band ini, karena memang kita sama-sama menggawangi program DCDC Chart, di mana dia jadi penyiar dan saya jadi produser. Lucunya, sebelum dia merilis lagu ini dia kerap tidak PD dengan materi lagunya dan sering banget kirim draft lagu ke saya. Sampai saya pikir ketidak-PD-an dia tidak beralasan karena materi lagu bandnya ini bagus dan ngepop banget. Kayaknya dia lebih cocok nyanyi di lagu-lagu kaya gini, dibanding dengan band rock dia sebelumnya, hahaha. Oh iya, nama vokalis band ini Rama. Orang lebih mengenal dia sebagai MC dan orang radio OZ.

SUMMERLANE – “SWEET ESCAPE”

Jujur saya cape dan getek sendiri dengan tagar make pop punk great again yang isinya band-band pop punk ga jelas dan lagunya ngga ada yang enak. Sampai disatu titik saya pikir pop punk kayaknya memang udahan dan tidak berhasil melahirkan band bagus lagi ke permukaan. Ternyata saya salah, karena lagu “Sweet Escape” dari Summerlane ini jadi pengecualian. Bagus banget ini lagunya. Catchy dan asik banget. Musik bagus vokal bagus, dan mengingatkan saya pada era dimana saya begitu menggemari musik-musik semacam ini.

3PM ON THE ROOFTOP – “MALAM”

Lupa pastinya tahun berapa, tapi kayaknya sekitar tahun 2010 lah saya sangat menyukai sebuah band asal Bandung bernama Hollywood Nobody. Musiknya seru, karena menyajikan musik bossanova, jazz, dan pop dengan balutan yang sederhana namun ngga gampang juga buat dimainin. Setelah itu, ada juga band Hightime Rebellion yang juga saya gemari. Lama absen dari ‘kancah’ saya rupanya merindukan band-band seperti dua band tadi, sampai akhirnya 3PM ON THE ROOFTOP mengobati kerinduan saya akan musik-musik ‘lembut’ semacam itu. Selalu menarik dan melenakan untuk dinikmati di sepertiga malam.

PERUNGGU – “CANGGIH”

Ini sih yang satu tahun belakangan banyak orang perbincangkan. Seperti judul lagunya, musik yang mereka sajikan juga canggih. Ada warna Sheila On 7 disana, namun dengan sedikit mengesampingkan blues rock yang kental ala Sheila On 7 (Eross sih khususnya) dan menggantikannya dengan suguhan musik alternatif yang agresif. Jadilah lagu “Canggih” ini.  Satu tahun belakangan ini memang band ini lah yang paling nyolong. Best wishes buat Perunggu.

Itu aja sih kayaknya. Masih sangat banyak sebenarnya lagu-lagu bagus yang saya dengerin selama lima tahun nulis di DCDC. Kayakya bakalan kangen sama rutinitas ini, dari mulai membaca press release di email, mengkurasi lagu-lagu buat masuk di Playlist Of The Week dan DCDC Chart, sampai mewawancarai band-band yang saya suka. Saya ngga tahu apa bakal nerusin kerjaan nulis-nulis artikel musik seperti di DCDC atau ngga. Tapi kayaknya untuk beberapa waktu ke depan saya istirahat dulu dari nulis artikel musik. 

Terima kasih coklatfriends yang sudah menyimak artikel-artikel yang saya tulis selama saya di DCDC. Semoga bisa memberi secercah kebaikan, baik dari tulisan atau perspectif yang saya tuliskan atau pun dari lagu-lagu yang saya pilihkan sebagai referensi musik dari musisi/band band yang ada di tanah air. Saya pamit ya, see u ❤ 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar