Rabu, 26 Maret 2025

HIGHLIGHT BULAN MARET 2025

Bulan Maret tahun ini bertepatan dengan bulan suci Ramadhan. Seakan menjadi kekhasan setiap tahunnya, setiap kali bulan suci Ramadhan tiba rasanya semua pergerakan terasa selow haha. Entah karena faktor perut kosong, atau hal lainnya, tapi yang jelas aktivitas di bulan ini terasa begitu pelan, termasuk soal pekerjaan. Jika pada bulan sebelumnya, kegiatan cukup banyak diisi liputan di luar kantor, bulan ini tidak begitu banyak event yang bisa diliput.

Menyoroti soal kegiatan/aktivitas di kantor, terhitung hanya beberapa episode podcast ITB Press Show dan satu event yang digelar di ITB Press Store bulan ini. Meski begitu, hal tersebut tidak mengurangi keseruan menjalani bulan ini, karena baik itu dari podcast ITB Press Show atau pun event Pesantren Kilat Jurnalistik yang digelar oleh GenPi Jawa Barat, semuanya berhasil ngasih insight bermanfaat bagi saya pribadi. 


Rabu, 26 Februari 2025

HIGHLIGHT BULAN FEBRUARI 2025

Februari 2025 dipenuhi dengan berbagai kegiatan seru. Dimulai dari perayaan ulang tahun Nadja pada 4 Februari, yang dirayakan sederhana bersama keluarga dengan sarapan dan makan siang. Tanpa pesta besar, tapi tetap menyenangkan.

Jumat, 21 Februari 2025

SEKALI LAGI TENTANG SUKATANI

Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan menghadiri acara Forging Visions yang diinisiasi oleh Mendadak Kolektor dan tujuh orang ilustrator yang menamakan kolektifnya Forging Visions. Disana, selain pameran, ada juga pertunjukan musik dan diskusi seputaran industri kreatif, khususnya artwork dalam musik. Dalam sesi diskusi tersebut hadir pula Pak Egi Fauzi, seorang konsultan branding yang juga membidani lahirnya Komunitas Musisi Mengaji atau Komuji. Ada satu ucapannya yang sampai hari ini masih melekat di kepala saya ketika dia menyoroti hubungan band/musisi dengan penggemarnya. Menurutnya, sebenarnya bukan band yang butuh fans, tapi fans yang butuh band sebagai entitas yang bisa mewakili diri si penggemar.

Menghubungkan ucapan Pak Egi di atas dengan yang lagi riuh beberapa hari ini tentang Sukatani, rasanya masuk akal, bahwa sebenarnya kita (fans) yang membutuhkan Sukatani (band). Sebagai entitas yang kerap menyuarakan keresahannya, kita kemudian terhubung dan merasa apa yang mereka suarakan lewat lagunya mewakili keresahan kita. Kita kemudian merasa jika suara mereka adalah perpanjangan suara kita, dan ketika suara mereka dibungkam kita kemudian bereaksi dan menolak, karena rasanya seperti suara kita yang dibungkam. Kita butuh band band seperti Sukatani, Efek Rumah Kaca, Seringai, dan band-band lainnya yang kerap menyuarakan keresahannya ke permukaan sebagai perpanjangan suara kita.

Menariknya, pelarangan lagu "Bayar Bayar Bayar" dari Sukatani direspon pula oleh musisi-musisi lain, seperti salah satunya, Bottlesmoker. Duo asal Bandung ini me-remix lagu tersebut dengan kekhasan musiknya. Hal tersebut seakan menjadi dukungan mereka terhadap Sukatani. Beberapa kalangan juga menyerukan untuk memutar lagu tersebut, di rumah, di jalan, hingga di tengah-tengah demonstran, meski di berbagai platform musik sudah ditarik dari peredaran. Semakin dilarang, semakin kencang diputar!

Kamis, 20 Februari 2025

JAZZ AULA BARAT #8: DIALOG LINTAS GENERASI DALAM HARMONI

Katanya, musik jazz adalah sebuah genre yang membuka ruang luas bagi para musisi untuk berdialog melalui instrumen yang mereka mainkan. Dengan improvisasi, mereka seolah tidak sekadar bermain musik, melainkan berdialog di tengah-tengah lagu yang dimainkan. Hal ini menjadi keunikan musik jazz yang kerap dinantikan para penikmatnya. Lalu, bagaimana jika "dialog" tersebut melibatkan musisi lintas generasi?

Pertanyaan ini coba dijawab oleh acara Jazz Aula Barat #8, yang diinisiasi oleh Unit Jazz ITB. Acara ini mempertemukan para musisi dari berbagai generasi untuk berbagi panggung dan "berdialog" melalui musik yang mereka mainkan.

Salah satu momen istimewa dalam acara ini adalah ketika Oele Pattiselanno, seorang legenda jazz, berbagi panggung dengan Ardhito Pramono, penyanyi dan penulis lagu yang tengah bersinar. Kolaborasi ini menghadirkan pertunjukan yang sarat akan dialog hangat, keterbukaan, dan dinamika lintas generasi.