Selasa, 26 Agustus 2014

GENRE MUSIK DAN KARAKTER YANG DIBAWANYA

Bukan tanpa alasan ketika ada banyak penggemar musik rock sering menyerukan kutipan “break the rules, just rock & roll”. Satu kutipan yang sedikit banyak bisa mewakili esensi yang dibawa oleh jenis musik ini, dengan segala citra yang dibawa musik rock untuk para penggemarnya. Mereka merasa terwakili dengan alunan musik rock yang menghentak dengan pembawaan karakter mereka yang keras, cenderung berontak, dan bersemangat. Jadi ada semacam persamaan yang membuat para penggemar musik rock merasa terwakili dengan genre musik yang mereka sukai itu.

Lain dengan rock lain pula dengan genre musik lainnya seperti pop atau jazz. Dua genre musik yang secara teknis bermusiknya lebih terbilang ‘soft’ dibanding musik rock tadi. Karakter orang yang menggemari genre musik ini pun biasanya cenderung lebih kalem dan santai dalam pembawaannya. Kalaupun sedikit lebih “liar” biasanya ketika mereka diatas panggung, memainkan musik dengan segala bentuk ekspresi yang mereka tuangkan diatas panggung.

Senin, 30 Juni 2014

AMBIENCE BERISIK PERSETERUAN KUBU CAPRES DI SOSIAL MEDIA

Dave Mustaine dari Megadeth pernah berujar “killing people for football and religion is something i don’t understand”. Sebuah keresahan Dave tentang betapa orang mudah sekali terprovokasi oleh hal yang menurut Dave tidak seharusnya dijadikan dasar atas sebuah permusuhan.

Untuk hal ini agaknya Dave mesti tahu keadaan politik menjelang pemilihan presiden di Indonesia untuk menambahkan “killing people for capres is something i don’t understand”. Bagaimana tidak, ketika saya melihat dua orang teman baik yang saling bertengkar di beranda buku muka dan lini masa burung biru berkicau harus berselisih karena pilihan capresnya yang berbeda.

On the right side, left side, or whatever gimmick itu kemudian dimunculkan dan menjadi sebuah ambience berisik yang saling berteriak dalam keadaan perpolitikan panas belakangan ini. Menjadi satu keadaan yang miris untuk saya pribadi, mengingat kedua orang teman baik itu adalah yang tadinya sama-sama menggemari musik yang sama, tumbuh besar bareng, dan pada akhirnya terpecah dengan perselisihan pilihan capres yang berbeda, yang bahkan tidak ada satupun yang bisa menjamin jika salah satu dari kedua capres ini bisa membuat negara ini jadi lebih baik.

Minggu, 29 Juni 2014

ORANG KEDUA DALAM BAND

Kurang lebih sepuluh tahun yang lalu ketika awal perkenalan saya dengan radiohead, saya terpana dengan beberapa video klipnya yang artistik menurut saya. Dari mulai “No Surprises” sampai “Karma Police” yang artistik sekaligus misterius bagi saya.

Namun lepas dari nilai artistik dari setiap video klip radiohead yang saya lihat, saya mempunyai satu pertanyaan yang sama untuk beberapa klip yang ditampilkan, yakni personil yang lainnya kemana? Kok Cuma Thom Yorke doang yang keliatan? Dan kalaulah saya tidak punya kaset radiohead, saya tidak akan tahu siapa itu Jonny, Collin, Ed, dan Phil.

Pertanyaan dari saya seorang anak SMP, yang bahkan tidak mengerti arti lagu radiohead itu sendiri menceritakan tentang apa. Saya hanya bersandar pada nilai estetis musik dan klipnya saja yang bersinergi menghasilkan bahan obrolan untuk didiskusikan dengan teman saya yang lain ketika pulang sekolah dalam angkot.

Selasa, 25 Maret 2014

GUILTY PLEASURE ALBUM 'LET GO'

Berbicara tentang Record Store Day berarti bicara tentang rilisan album fisik seperti kaset, cd, sampai vinyl. Kembali ke masa jayanya dulu, sebelum era download membuat semuanya menjadi mudah didapat dan mudah dilupakan.

Dulu membeli album dalam bentuk fisik mungkin sudah menjadi suatu kebiasaan atau budaya, dimana ketika itu (sebelum ada internet), salah satu cara ingin mendengarkan lagu adalah dengan membeli albumnya. Dengan segala keterbatasan dan atas nama eksplorasi musik, nyatanya tidak semua album yang dibeli bisa dikatakan bagus (dalam perspectif personal dan estetika yang dibentuk personal juga). Ada yang dibeli karena tertarik cover albumnya, penyanyinya yang cantik, atau hal lain diluar musiknya itu sendiri. Termasuk saya yang ketika itu ‘tergoda’ membeli album Avril Lavigne (Avril dengan huruf V), yang bertajuk ‘Let Go’.

Sabtu, 18 Januari 2014

MENEMBUS BATAS DENGAN IMAJINASI

Berbicara tentang seni, berkesenian, dan membuat karya. Menurut guru kesenian saya waktu saya masih duduk di bangku SMA, sebuah karya seni terlahir dari buah pemikiran, perasaan, dan daya hayal. Menggaris bawahi daya hayal dari bagaimana sebuah karya seni itu pada akhirnya bisa terlahir. Kenapa ketika membuat karya seni, kita harus mengikut sertakan daya hayal didalamnya?

Daya hayal atau biasa disebut juga dengan daya imajinasi adalah suatu proses kerja otak yang menangkap reaksi dari apa yang kita lihat, dengar, dan rasakan. Otak menyimpan begitu banyak memori setiap harinya. Sampai pada akhirnya memori itu mulai tersusun membentuk suatu pola (katakanlah seperti itu) yang kemudian merangsang otak untuk merencanakan sesuatu. Dari sanalah proses kerja kolektif otak dan tubuh kita bersinergi membuat sebuah karya.

Senin, 09 September 2013

MERILIS BUKU DENGAN “SELF PUBLISHING”

Menulis mungkin sudah menjadi kebiasaan untuk saya pribadi. Selalu ada hal yang ingin dituliskan dan diceritakan, untuk kemudian dibagi kepada banyak orang yang membacanya. Setiap harinya selalu ada hal yang menyesaki kepala untuk dituliskan. Hasil pemikiran, perasaan, dan daya hayal, yang jika tidak keberatan boleh saya asumsikan menjadi sebuah bentuk karya.

Untuk memfasilitasinya tentu saya butuh media sebagai tempat untuk tulisan saya, seperti buku misalnya. Keinginan bisa membuat buku dan merilisnya selalu jadi keinginan untuk saya setiap saya menulis dan berhasil mengumpulkannya, untuk kemudian saya bungkus jadi sebuah tema besar yang menjadi sebuah judul untuk buku saya.

Tapi pada kenyataannya, membuat buku selalu tak semudah ketika memimpikannya. Tak semudah ketika saya berkeinginan mencium aroma kertas di buku saya sendiri. Namun apa saya harus berhenti? Jawabannya tidak. Karena selalu ada jalan ketika kita mau merealisasikan keinginan kita. Apapun itu. Salah satunya lewat ‘Self Publishing’.

Senin, 24 Juni 2013

RAGAM CARA SUPPORTER BERLAGA

Fanatisme dan vandalisme. Dua istilah yang seharusnya terpisah dalam pengejawantahannya. Seperti halnya fasis yang memukul rata kepada semua yang berseberangan dengannya. Kenapa ini menjadi seolah tak pernah selesai pada kenyataannya. Membenahi pola pikir para pemuja sang idola dengan kecintaan yang salah kaprah, karena bukti kecintaan itu ditunjukan dengan cara merusak nama baik sang idola yang seharusnya dijaga dan diharumkan namanya.

Mengambil contoh kasus tentang supporter sepak bola di Indonesia, atau dalam artian sempitnya antara supporter Persib dan Persija. Dua klub besar yang kerap dihubungkan dengan supporter fanatiknya yang dihampir semua pertandingannya selalu bercerita tentang perseteruan keduanya.

Dimulai perseteruannya sampai kapan berakhirnya pun tidak ada yang tahu pasti sampai kapan akan berlangsung. Mencari salah dan benar juga agaknya terlau riskan, karena masing-masing pihak berpendapat jika kubu nya lah yang paling benar. Kecintaan terhadap klub kesayangannya telah dibutakan jadi sebuah fanatisme yang berlebihan. Padahal jika memang benar cinta sih harusnya ada perasaan ingin menjaganya, bukan malah menjatuhkan dengan berbagai tindakan yang merugikan klub. Terlebih perseteruan itu melebar pada berbagai tindakan vandalis yang mencoreng makna sportifitas yang dijunjung sepak bola itu sendiri.

Selasa, 19 Maret 2013

ME-LIRIK MUSIK

Ketika sebuah nada bersatu dengan ritmis yang mengiringi menjadi padu padan yang beraturan menjadi harmoni, maka kita sepakat untuk menyebutnya musik. Sebuah seni yang berdasar kepada keindahan bunyi dan komposisi yang selaras.

Minggu, 27 Januari 2013

FASE FILM INDONESIA

“Hey ada anak monyet nyari pisaaang….ouuooo”, ujar Sadam kepada Sherina si anak baru di sekolahnya. Sebuah kalimat dalam film yang mengawali era baru kebangkitan perfilman Indonesia, setelah sebelumnya sempat mati suri karena tidak adanya produksi film dalam negeri yang muncul ke permukaan. Film berjudul Petualangan Sherina yang disutradarai Riri Riza ini seolah menjadi ‘trigger’ untuk film-film setelahnya yang mulai bergeliat lagi untuk bermunculan menawarkan ceritanya kepada khalayak ramai. Sebuah film yang dikemas apik baik dalam hal penggarapan film-nya itu sendiri, sampai untuk urusan soundtrack-nya yang tidak main-main dengan menggandeng Elfa Secoria sebagai orang dibalik musik-musik yang dihasilkan di film tersebut, seorang musisi bertalenta kebanggaan Indonesia yang banyak mengharumkan nama Indonesia di pentas dunia musik internasional.

Jumat, 06 November 2009

2+2 = 5

Kenapa 5, bukannya 4?

2 + 2 = 5 adalah sebuah penggambaran tentang kreatifitas yang tidak terbatas, tanpa ada peraturan atau pakem-pakem yang membuat kreatifitas itu terhambat. Jadi boleh saja berasumsi jika bumi itu ternyata tidak bulat, ataupun ternyata pelangi itu mempunya 12 warna dan bukan 7 warna seperti yang sering dikatakan para guru disetiap pelajarannya.