Selasa, 07 Oktober 2014

ELORA

Tanpa alasan yang jelas, dia lari dengan muka yang masih saja memancarkan ketakutan.

Aku pun mengejarnya, dan setelah lama aku mengejarnya, akhirnya aku berhasil meraih tangannya. “Siapa kau? kau kenal Elora?” tanyaku. Dia diam saja. “jawab, apa kau tau tentang Elora?” tanyaku lagi dengan sedikit membentak.
“Aku bukan hanya kenal, tapi AKULAH ELORA!! tokoh yang melarikan diri dari buku yang kau tulis itu”, jawab dia.
“Lantas kenapa kau lari ketika cerita itu belum aku selesaikan?”
“Aku tidak suka dengan tokoh yang aku perankan!!!”
“Apa maksudmu tidak menyukai tokoh yang kau perankan? Kau adalah tokoh yang menggabungkan halaman satu ke halaman lainnya, kau tidak punya pilihan selain kembali memerankan peranan itu, agar aku bisa menyelesaikan ceritanya. Kau tidak bisa jadi seorang penakut seperti itu. kau….” belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, tiba-tiba Elora menjawab.

Selasa, 08 April 2014

RUBIK (PART 4)

Sedang mencari senang setelah enam hari menjadi orang palsu. Lalu stuck di jalan karena terlalu banyak orang dan kendaraan berlalu-lalang. Mau-maunya diperbudak berhala. Maka bernyanyi saja. Bagus atau sumbang, toh gitarku tetap saja mengiringi. Dia ga pernah ngeluh, apalagi sampai menyerah. Tidak seperti…tik...tok...tik...tok...tetoot… ya…regu B.

Jika ada begitu banyak pilihan, mengapa harus bergantung pada satu pilihan? Untuk satu hal itu boleh kok jadi apatis. Selain itu berempati lah. Tapi hati-hati, sebelum empati itu yang akhirnya bisa membunuhmu. Ga bisa terlalu naif juga. Seperti perpaduan asap rokok dan kentut yang walau memang aneh, setidaknya sebelum menjadi terbuang, bolehlah. Setelahnya kan memang untuk dilupakan. Rokok habis, beli lagi. Kalau kata temen sih istilahnya bakar uang.

Senin, 07 April 2014

RUBIK (PART 3)

BRAAK!!

Sialnya aku masih disini dan belum pergi bersama C.

Aku kembali duduk dan melamun. Menyapa memoar yang aku ingat kala itu. Tentang seorang perempuan yang menari-nari bodoh di tengah hujan. Untuk sejenak aku senyum mengingatnya. Mengingat perempuan yang bahkan tidak aku kenal secara selayaknya. Cara kita berkenalan juga tidak dengan berjabat tangan. Aku tertarik begitu saja dengan ciri yang dia tawarkan. Dengan jerapah dan ikan hiu, dengan celana dalam diatas kepala, membuatku bertanya siapa dan lucu juga. Dengan kelucuan yang dia punya, dengan cara dia menangkap gaya, membuatku ingin menyapa “Hallo Marcia”.

Minggu, 06 April 2014

RUBIK (PART 2)

Dalam hujan sore ini, ketika sebuah jawaban akan kerinduan yang berkata betapa teduh itu menyenangkan. Karena seperti judul lagu saja, ini bulan November (dan) hujan. Menyajikan sendu dengan irama keroncong dari perut yang sebenarnya sudah makan, tapi mungkin karena hujan, jadi lapar (lagi).

Track list lagu-lagu smooth jazz bolehlah sebagai pengantar lamunan beberapa tahun ke belakang tentang tahun-tahun sebelum tahun ini, tentang November sebelum November tahun ini, dan sama saja sepertinya. Hanya saja sekarang kesendirian itu ada dalam artian selain roman picisan. Terasing dalam ironi dan tafsiran beberapa kalimat sinis yang jadi perdebatan antara aku dan banyak diantara aku, yang membuat aku menjauh dari seharusnya aku berada dalam keramaian. Seperti kalimat di film Gie yang berbunyi “lebih baik diasingkan, daripada menyerah pada kemunafikan”, yang aku pikir secara tidak langsung ada relevansinya dengan aku. Sering ngerasa ada di lingkungan yang salah, temen yang ga nyambung dan endingnya pasti gini, jadi terasing dan diam dalam renungan.

Sabtu, 05 April 2014

RUBIK (PART 1)

Sebuah rubik akan segera selesai dimainkan. Maka tersusunlah baris warna dan bentuk yang tertata rapih dan sama ditiap sisinya. Tapi dilema dan perang cambuk logika ada diantaranya, menjadikannya sesuatu yang ‘kompleks’. Mengutak atik persepsi, mengikuti atau membantah nalar. Apa ini akan berakhir dengan susunan warna dan bentuk yang seharusnya?

Seharusnya seperti apa? Bukankah tiap orang punya cerita dan cara yang berbeda? Maka bebas saja menjadi pemilik semua barisan derap langkah setiap nalar yang keluar, menguasai persepsi, akan kemana membawa ini, dan seperti apa rubik ini dimainkan.

***

Jumat, 25 November 2011

Mendefinisikan Esensi/nilai Yang Tak Terperi Bak Suasana Hati Yang Terpelihara Emosi Dan Kiblat Paradigma Yang Melenceng

Gadget apapun. Semahal apapun. Ga akan ada artinya jika tidak dipakai untuk berkarya/kreasi. Gadget apapun. Semurah apapun. Akan punya nilai jika dipakai untuk berkarya/kreasi. Sama seperti cewek cantik tapi judes. Cowok ganteng tapi maho. Kurang lebih seperti itu. Lebih kurang seperti ini. Ideologi suka suka dari pemikiran yang lelah akan persepsi dan teka teki silang bergambar bikini belang belang yang udahlah norak pokoknya. Pengetahuan yang di kamuflasekan pameran dada dan selangkangan.

Sabtu, 22 Oktober 2011

Klip #2

Drama picisan ala remaja ibu kota. Dimulai dari kalimat manis yang terlontar seperti kalimat you're my everything atau apalah itu. Menjadi meaningless karena hanya luapan perasaan sesaat yang dibalut sedikit birahi ketika berciuman. Setelah itu mulai banyak nuntut,mengeluh dan minta putus. Ketimpangan emosional yang diolah mentah tanpa logika paling wajar, yang seharusnya ada diantara pilihan paling labil sekalipun. Tapi terbantahkan dengan kiblat kata mutiara yang dangkal dan keputusan yang sekenanya itu. Tapi ya sudahlah, bukan jodoh barangkali.

Klip

Akhirnya hari ini berhasil bangun subuh dan shalat subuh. Satu hal yang cukup membuat ibuku senyum. Terasa syahdu sekali subuh ini. Tapi tak lama kesyahduan itu terusik oleh suara TV dari ustad yang berkata “jamaaaah..Alhamdu..lilah”. Aneh sekali. Ustad ko ngondek?. Tapi ya udahlah, kan jangan menilai dari siapa yang bicara, tapi dari apa yang dibicarakan. Jadi ya aku sempatkan juga nonton tv bareng ibu. Dengan teh hangat, obrolan santai dan ringan ketika iklan. (karena pas ustad ceramah kita ga ngobrol). Ibu bilang gini. “mama seneng kalo aa bangun subuh, trus shalat subuh”. Dan pas ngedenger kalimat itu kok ada yang gimanaaa gitu.

Jadi mikir, jarang sekali aku bikin ibu senang. Hal kecil kaya bangun subuh aja menjadi sesuatu yang susah sekali buat dilakukan. Belum lagi kalo inget kesalahan jaman sekolah dulu. Sering sekali ibu dipanggil ke sekolah oleh guru bp, atau ketika aku memilih musik sebagai tujuan hidup, yang tidak juga membuatku muncul ke permukaan, apalagi jadi mapan. Tapi dia tetap sabar dan mencintai anaknya dengan sepenuh hati. Jika hal kecil seperti bangun subuh aja bisa bikin dia senang, harusnya aku bisa membuatnya senang.

Rabu, 09 Maret 2011

Kontra Hati

Endingnya pasti gini, ngelamun, ngeroko, dan ngerasa bersalah atas batas norma yang dikalahkan kontra logika. Ini jelas satu kesalahan. Tapi hebatnya alibi untuk mengalihkan seakan benar untuk dimasukan nalar. Dan benar berarti musuh terbesar adalah diri sendiri.

Sampai jumpa (di ilustrasikan..dor..dor..dor..)

Selasa, 22 Februari 2011

Tulang Punggung Saya Sakit

Dan apalah itu. Aku merasa semakin jauh dari apa itu ideal yang harusnya singkron dengan part bengong terbaik sebelum dini hari. Harusnya tak mengeluh. Tapi ini nih, kadang harapan terbatasi realita atau apalah itu yang harus masuk nalar.

Sayang aku harus terbangun besok pagi.

ETALASE

Benar ternyata di luar itu sangat panas dan berdebu. Mematahkan teori lotion pemutih anti matahari seperti dalam iklan. Karena usang adalah nyata adanya, ketika aku tidak berada di titik nyaman senderan kursi empuk sebuah mobil mewah. Tapi untungnya sampailah juga di sebuah toko musik terkemuka di kota Bandung. Dan senyum adalah ketika sebuah gitar hollow body itu berdiri tegak dan terlihat menawan sekali jika dilihat. Lalu deretan efek gitar yang seperti frase suara yang dibalut secara digital. Ingin sekali memilikinya. Tapi, dan banyak lagi tapi nya.

Secara acak terpilihlah lagu Maroon 5 sebagai backsound di situasi seperti ini. Ngerasa ‘dont know what to do’, flat, dan meaningless. Tapi kan katanya Tuhan tidak akan membawa kita sejauh ini hanya untuk dia tinggalkan. Atau mungkin kiranya waktu belum juga mau berpihak untuk membuatnya tampak mudah memunculkan sebuah nama ke permukaan. Ini klasik, masih tentang mimpi dan doa yang sama. ‘Do something with music’, dengan lampu dan gemuruh. I love you mom, sabar ya, masalah waktu aja kayaknya.



Seberang Jalan Dini Hari

Sampailah kita diujung jalan batas persamaan paradigma. Lalu kita berseberangan dalam persepsi dan ideologi kita. ‘You've got your own, me to’. Aku pikir aku tidak perlu mengubahmu, begitu juga kamu. Yang aku sesalkan adalah sikap kerasmu yang berpikir jika yang tak sejalan denganmu maka jadi musuhmu yang kamu benci. Tapi tidak menurut aku. Pengalaman dan pelajaran hidup yang kita alami pasti berbeda, jadi wajar saja jika pandangan kita tentang hidup pun berbeda. 

Sudahlah jangan terlalu serius menanggapi tak tik licik dunia dengan bla bla bla nya itu. Kamu bisa meringkas persepsi dengan senyum, nyanyian atau just being simple aja. Lebih baik kayaknya. I love you, tapi tidak dengan ideologi sikap kerasmu tentang ‘people like shit’. Karena harusnya ‘We love people because we are people’. Orang yang tidak sejalan itu pasti akan ada aja. PASTI!.Ga mungkin ngga. Seperti hitam dan putih sebelum menjadikannya warna abu, seperti pagi dan siang sebelum menjadikannya sore, seperti kita atau apapun itu. Seharusnya kita bukan dari bagian dari fanatisme pemuja ideologi sudut pandang pribadi. Sesekali kita coba untuk bercerita dan berbagi tawa. Mungkin itu bisa jauh lebih baik dari fase diam kita selama ini.

Lyricles? Apa Lagi Ini?

Menjadi meaningles karena ini hanya A I U E O. Dengan A yang hanya berartian A, I yang berartian I. Kasian nada, dia belum menemukan kata yang tepat untuk dinyanyikan. 
Teng nong teng nong, dan gitar itu masih saja sumbang. 
Lyricles? Apa lagi ini? Sebuah sikap pandir menyikapi nada naif?

I Hate Myself And I Want To Die

Memporak porandakan"guitar hero", si bengal yang urakan dengan sound yang kasar dan notasi minimalis sadis, yang mematikan langkah blues. Syair yang menghardik dengan bantuan gitar usang dan nada sumbang. Dan begitulah dia merubah tolol menjadi ROCK.!

Plester Dari Zee

Hari pertama memerankan ego baik Zee menawarkan plester. Dia seperti masih bingung di hari pertamanya. Aku juga masih canggung dengan Zee, tapi harus terbiasa karena mba Lani pergi ke sela-sela hati yang lainnya.

Baiklah zee mari kita berteman.

Senin, 08 November 2010

C

C adalah creator. C terlalu egois,sedang aku terlalu dramatis.
Banyak kebijakan dari c yang aku tanggapi secara dramatis dan berlebihan.sampai cerita ringan tentang Picisan saja bisa sangat mengganggu logika wise aku dalam berpikir benar. Aku benci menjadi terlalu perasa dan peka. Terlalu bisa merasakan sedih,terlalu bisa merasakan sakit.

Sabtu, 06 November 2010

WISH

Aku hanya ingin perjalanan ini cepat sampai, dengan sorot lampu panggung yang memancar, disaksikan mama yang duduk di deretan paling depan, dan papa menyaksikannya di surga.

Sabtu, 18 September 2010

Mungkin Ini Yang Dipikirkan Jibril

Tolong katakan apa cara berpikir saya ini salah?
Saya merasa kertas bergambar angka itu biasa saja
Kenapa orang melakukan segala cara untuk mendapatkannya
Mereka melakukan untuk sebuah hasrat
Dan nurani entah kemana

Pemikiran seperti ini memang sudah salah dari awalnya
Ketika orang berpikir untuk uang
Ketika orang berjuang untuk hasrat

Hahahaha...maaf maaf saya yang salah
Saya baru sadar kalau anda-anda semua manusia
Anda sangat lemah melawan hasrat
Anda sangat lemah melawan nafsu
Dan nurani entah kemana.

Rabu, 08 September 2010

Ini Pemilkiran Yang Aku Tangkap Dari Orang Gila Yang Aku Lihat Tadi Siang

Ku slalu berpikir tak pernah mengerti
Ku slalu berharap tak pernah kudapatkan
Ku tak sependapat malam itu gelap
Tak sependapat bumi itu bulat
Dan mereka menatap ku curiga

Ku jalani hari berlandaskan mimpi
Ku slalu bernyanyi lagu yang tak kumengerti
Ku yang tak pernah bisa berubah
Ku yang tak pernah bisa mengerti

Terlalu sulit untuku menjelaskan
Dan selanjutnya menyalahkan tuhan.

Sabtu, 28 Agustus 2010

BEGINI BEGITU

Saat ini sedang berlangsung perseliweran kiblat kata mutiara dangkal, yang diterjemahkan seorang teman dan beberapa teman lainnya. Entahlah aku masih bisa menganggapnya teman atau bukan. Karena nyatanya ideologinya sangat ingin aku patahkan.

Pameran kalimat palsu seorang filsuf yang seperti dalam peranan nabi palsu lah bisa dibilang. Sama-sama menggurui, padahal sebenernya quotes maha benar itu adalah apapun dari apa yang ibuku bilang tentang ‘simple life simple problem’, ataupun hal lainnya tentang kesederhanaan. Sama seperti bijak yang copy paste yang di-presentasikan seolah benar. Padahal tidak juga. Karena apalah artinya analogi tanpa ‘do something’.

Selamat mengutak atik persepsi. Kita teruskan dalam ilusi dan sebuah drama televisi mimpi.